Senin, 12 Oktober 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Birdwatching, Mengamati Burung Liar Terbang Bebas di TWA Kerandangan

Sensasi menikmati burung-burung liar di udara menjadi potensi wisata alam yang ditawarkan di kawasan hutan di Lombok Barat. Burung apa saja yang ada di sana?

Senin, 19 Juni 2023
A A
Ilustrasi burung liar dalam wisata birdwatching. Foto kemenparekraf.go.id.

Ilustrasi burung liar dalam wisata birdwatching. Foto kemenparekraf.go.id.

Share on FacebookShare on Twitter

Wahyudi juga kerap kali akan melanjutkan untuk mengajak pengunjung ke titik pengamatan yang tak jauh dari jalur jalan setapak. Sedikit melewati sungai berbatu yang saat itu dalam kondisi kering, terdapat jaring hitam yang melintang. Wisatawan diminta untuk jongkok dan mengintip dari balik jaring.

Wahyudi kemudian mengeluarkan suara-suara tertentu. Dalam suasana hening, tiba-tiba terdengar suara balasan yang begitu indah. Tak lama, satu jenis burung mendekat. Memperlihatkan eksotisme warna-warna bulunya yang indah. Sungguh pengalaman yang mengesankan.

Baca Juga: KKP Berdalih Ekspor Pasir Laut Cegah Kerusakan Terumbu Karang

Mengajak Warga Sadar Wisata
Melihat potensi yang ada, Wahyudi berharap semakin banyak pihak yang sadar akan besarnya nilai jual pariwisata di TWA Kerandangan. Terutama masyarakat sekitar untuk terus menjaga kelestarian flora dan fauna yang ada di alam.

Tidak mudah. Namun dengan kolaborasi banyak pihak, pemahaman bagi masyarakat dapat terus ditingkatkan. Selama ini, Wahyu masih mendapati masyarakat yang kerap menangkap burung di alam.

“Mereka masih belum sadar bahwa dengan pariwisata, nilai ekonomi seekor burung yang ada di alam justru lebih besar dibanding di dalam sangkar,” kata Wahyu.

Baca Juga: Indonesia Produksi Kendaraan Listrik, Pembangkit Listrik Masih dari Batu Bara

Ia memberi contoh sederhana. Menjual burung dengan jenis tertentu (yang tidak dilindungi) mungkin memberikan harga yang cukup tinggi. Namun penjualan hanya bisa dilakukan satu kali. Berbeda dengan menawarkannya dalam paket kegiatan wisata alam.

Wahyu menyebut, untuk wisatawan mancanegara, paket wisata alam bisa ditawarkan dengan harga Rp3 juta-Rp5 juta.

“Paket itu bisa dilakukan berkali-kali sehingga potensinya lebih tinggi. Kelestarian alam pun terjaga,” kata Wahyu.

Baca Juga: FAO Prediksi 2050 Dunia Kelaparan Akibat Pemanasan Global

Saat ini Wahyu terus mengajak masyarakat untuk bisa terlibat lebih jauh dalam menawarkan paket wisata ini. Hingga saat ini, ia berhasil mengajak lima orang masyarakat untuk bergabung bersamanya.

“Dengan acara (Kampanye Sadar Wisata) tadi, saya berharap semakin banyak masyarakat yang terbuka dan sadar akan potensi yang kami miliki,” kata Wahyu.

Deputi Bidang Sumber Daya Kelembagaan Kemenparekraf/Baparekraf Diah Martini Paham mengatakan, penguatan kapasitas sumber daya manusia sangat penting dalam upaya menghadirkan pelayanan prima bagi wisatawan khususnya untuk mewujudkan pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan. Kampanye Sosialisasi Sadar Wisata ini dihadirkan agar masyarakat mampu mengenali, mengembangkan, dan memasarkan potensi yang ada di daerahnya.

Baca Juga: Prof Ronny: Tren Lemak Hewan sebagai Bahan Bakar Dunia Penerbangan

“Bagaimana mempersiapkan masyarakat untuk menjadi tuan rumah yang baik di dalam penyelenggaraan pariwisata dan ekonomi kreatif. Masyarakat bisa berbuat sekaligus mendapatkan manfaat dari kegiatan pariwisata,” kata Diah didampingi Direktur Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Florida Pardosi.

Menparekraf/Kabaparekraf Sandiaga Salahuddin Uno mengatakan, pariwisata berkelanjutan menjadi tren terbaru dalam pengembangan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif (parekraf) dunia di Indonesia.

“Kami melihat sustainable tourism ini adalah suatu tren pariwisata yang sekarang tidak terhentikan dan tidak tergantikan. Karena sustainable tourism membuka peluang kami untuk lebih melestarikan lingkungan,” kata Sandiaga.

Baca Juga: Pemerintah Promosikan IKN Lewat Hari Lingkungan Hidup dan Ajakan Investasi

Ia terus mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam mewujudkan pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan melalui desa-desa wisata di berbagai tanah air. Kampanye Sadar Wisata dikatakan menjadi salah satu program unggulan Kemenparekraf/Baparekraf dalam mewujdukan cita-cita tersebut termasuk peningkatan kapasitas SDM di dalamnya.

“Pariwisata dan ekonomi kreatif menjadi sektor yang terus mendorong kebangkitan ekonomi dan terbukanya lapangan kerja bagi masyarakat,” kata Sandiaga. [WLC02]
Sumber: Kemenparekraf

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: birdwatchingKampanye Sosialisasi Sadar WisataKemenparekrafpariwisata berkelanjutansustainable tourismTWA Kerandangan Lombok Barat

Editor

Next Post
Penetapan Cagar Biosfer Bantimurung Bulusaraung Ma'rupanne di Taman Nasional Wakatobi sebagai cagar biosfer baru. Foto brin.go.id.

Bantimurung Bulusaraung Ma’rupanne Diakui Bagian Cagar Biosfer Dunia

Discussion about this post

TERKINI

  • Aksi Hari Tani Nasional 2025 mengusung desakan reforma agraria, 24 September 2025. Foto KPA.Koalisi Masyarakat Sipil untuk Keadilan Agraria Kritik Penunjukan Kepala BRAN
    In News
    Jumat, 2 Oktober 2026
  • Pusat gempa dangkal 5,4 magnitudo di Pantai Timur Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan pada Kamis malam, 1 Oktober 2026. Foto tangkap layar BMKG.Gempa Dangkal di Laut Flores Kepulauan Selayar Dirasakan IV MMI
    In News
    Kamis, 1 Oktober 2026
  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media