Minggu, 8 November 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

FAO Prediksi 2050 Dunia Kelaparan Akibat Pemanasan Global

Selasa, 13 Juni 2023
A A
Ilustrasi kekeringan. Foto bernswaelz/pixabay.com.

Ilustrasi kekeringan. Foto bernswaelz/pixabay.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Prof. Dwikorita Karnawati menjelaskan, pemanasan global mengakibatkan emisi gas rumah kaca yang terdiri atas senyawa karbondioksida (CO2), metana (CH4) dan Nitrogen Oksida (N20) memiliki kecenderungan meningkat dalam beberapa dekade terakhir. Dampak perubahan iklim tersebut adalah kenaikan suhu bumi 1-2 derajat celcius yang mengakibatkan bencana kekeringan dan banjir di belahan dunia.

Lantaran kekeringan, kondisi ketersediaan sumber daya air pun makin rendah, baik di negara maju maupun negara berkembang. Kondisi tersebut mengancam ketahanan pangan global, sehingga menyebabkan krisis pangan semakin menguat dan merata.

Bahkan Organisasi Pangan Dunia (Food and Agriculture Organization/FAO) memprediksi pada 2050 sekitar 500 juta petani yang menghasilkan 80 persen produk pangan global akan terkena dampak krisis pangan.

Baca Juga: Prof Ronny: Tren Lemak Hewan sebagai Bahan Bakar Dunia Penerbangan

“Kelaparan dimana-mana. Nanti tidak ada negara yang bisa saling menolong, karena kekurangan pangan masing-masing,” kata Dwikorita dalam Diskusi Temu Bisnis dan Forum Investasi bertajuk “Mitigasi Bencana dan Adaptasi Perubahan Iklim” di gedung University Club UGM pada 9 Juni 2023.

Dampak perubahan iklim kian nyata sehingga bisa mengganggu kestabilan ekonomi dan politik dunia. Bukan hanya dampak pandemi dan perang.

“Perlu dilakukan mitigasi untuk memantau buangan emisi gas rumah kaca dan mitigasi perubahan iklim agar dampak pemanasan global bisa dikurangi,” imbuh Dwikorita.

Baca Juga: Pemerintah Promosikan IKN Lewat Hari Lingkungan Hidup dan Ajakan Investasi

Di sisi lain, Indonesia saat ini disebut Dwikorita tidak lagi masuk dalam daftar 10 besar negara penyumbang emisi gas rumah kaca. Klaim tersebut didapat usai ada hasil pemantauan dari alat global greenhouse watch yang memonitor gas rumah kaca. Alat tersebut dipasang di seluruh dunia.

“Ternyata emisi kita di bawah rata rata global. Sebelumnya masuk 10 besar penghasil rumah kaca di dunia dan ini tidak bagus,” kata Dwikorita.

Dengan pemasangan alat pemantau emisi gas rumah kaca semakin bisa mengontrol emisi gas rumah kaca di tanah air. Alat tersebut menjadi pengawas atmosfer global, salah satunya di BMKG. Tugasnya memonitor gas rumah kaca penyebab utama terjadinya pemanasan global. Harapannya, pihaknya bisa memahami secara mendalam di mana sumber gas rumah kaca di tingkat lokal.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: alat global greenhouse watchBMKGEmisi gas rumah kacapemanasan globalperubahan iklim

Editor

Next Post
Prototipe kendaraan listrik tanpa pengemudi yang dikembangan BRIN. Foto brin.go.id.

Indonesia Produksi Kendaraan Listrik, Pembangkit Listrik Masih dari Batu Bara

Discussion about this post

TERKINI

  • Kaoem Telapak desak pemerintah usut tuntas dugaan pembalakan liar dan pencucian kayu Merbau di Nabire, Papua Tengah. Foto Kaoem Telapak.Kaoem Telapak Desak Pemerintah Usut Tuntas Dugaan Pembalakan di Nabire
    In News
    Rabu, 4 November 2026
  • Media alternatif, Gejayan.id menggelar walking tour bertema “Tribute to Udin” #1 ke bekas Kantor Harian Bernas, Kota Yogyakarta. Foto Istimewa.Gejayan Civic Memory Lab: Napak Tilas Jurnalistik Udin di ‘Kantor Bernas’
    In News
    Senin, 2 November 2026
  • Episenter gempa 6,4 magnitudo di Laut Banda, Maluku, pada Kamis, 29 Oktober 2026. Foto tangkap layar BMKG.Laut Banda Maluku Digoyang Gempa Menengah 6,4 Magnitudo
    In News
    Kamis, 29 Oktober 2026
  • Kondisi Desa Sei Gita, Kecamatan Mantangai, Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah, diselimuti kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada Selasa, 13 Oktober 2026. Foto Dok Borneo Is Burning.Karhutla 2026, HRWG Tuntut Pemerintah Transparan Soal Data Lahan Terbakar dan Mengusut Pihak Bertanggungjawab
    In Lingkungan
    Senin, 26 Oktober 2026
  • Pertemuan 20 organisasi masyarakat sipil kawasan Asia Pasifik dalam Asia Pacific System Change Convergence 2026 di Yogyakarta, pada 17-21 Oktober 2026. Foto Istimewa.Organisasi Masyarakat Sipil Asia Pasifik Serukan Perubahan Sistem Mengakhiri Krisis Ekologis dan Ketidakadilan Global 
    In News
    Sabtu, 24 Oktober 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media