Sabtu, 28 Maret 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Cara Mengontrol Populasi Kucing, Kastrasi Jantan atau Alat Kontrasepsi Alami?

Cara mengendalikan populasi kucing tidak hanya lewat sterilisasi kucing betina. Melainkan juga melalui jantan. Bagaimana caranya?

Selasa, 1 November 2022
A A
Ilustrasi kucing yang menjalani kastrasi. Foto Kirgiz03/pixabay.com

Ilustrasi kucing yang menjalani kastrasi. Foto Kirgiz03/pixabay.com

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Populasi kucing liar terus meningkat di perkotaan. Satu ekor kucing betina bisa melahirkan 2-4 ekor, bahkan lebih. Peningkatan populasi kucing liar acapkali menimbulkan permasalahan baru. Perlu upaya mengontrol populasi kucing sebagai upaya bijak dibandingkan melakukan depopulasi massal. Bagaimana caranya?

Upaya yang biasa dilakukan adalah sterilisasi terhadap kucing betina. Namun, menurut Pakar Reproduksi Veteriner Sekolah Ilmu Kesehatan dan Ilmu Alam (SIKIA) Universitas Airlangga (Unair) Banyuwangi, dokter hewan Ragil Angga Prastiya, cara tersebut terkendala biaya yang tinggi.

Baca Juga: Bekal Bertahan Hidup di Hutan yang Diajarkan di IPB University

“Biaya sterilisasi kucing betina itu mahal,” kata Ragil.

Alternatifnya adalah melakukan sterilisasi terhadap kucing jantan. Istilahnya, kastrasi kucing jantan. Ternyata biaya yang dikeluarkan lebih murah. Selain itu, jumlah kucing jantan lebih sedikit daripada kucing betina di lingkungan kucing liar. Tindakan kastrasi kucing jantan menjadi pilihan yang tepat dalam percepatan kontrol populasi.

Baca Juga: Peringatan Dini Cuaca Yogyakarta Hari Ini

“Fokus ke kucing jantan saja. Apabila fokus ke yang betina, selain populasinya lebih tinggi, biaya yang diperlukan juga tinggi,” tutur Ragil.

Kastrasi dilakukan dengan mengambil sebanyak mungkin kucing jantan dalam suatu wilayah. Setelah dilakukan kastrasi, mereka tidak lagi memiliki keinginan untuk melakukan perkawinan dalam komunitasnya.

Baca Juga: Siapkan Stamina, Cuaca Jakarta Hari Ini Udara Cukup Terik dan Hujan Ringan

Mengapa kastrasi kucing jantan perlu dilakukan berdasarkan wilayahnya?

Lantaran kucing adalah hewan karnivora atau pemakan daging yang memiliki wilayah teritorial. Artinya, jika ada kucing jantan yang dominan, maka tidak akan ada kucing jantan lain yang masuk dalam wilayah tersebut.
Harapannya, kucing yang telah disterilisasi akan tetap menjadi pemimpin teritorial daerah tersebut.

Baca Juga: Kabar Duka dari PLG Way Kambas, Taufan Gajah Sumatera Mati Mendadak

“Kucing betina di dalam komunitas tersebut tidak akan hamil, karena jantannya telah disteril,” imbuh Ragil.

Dengan demikian, tak terjadi penambahan populasi kucing liar dalam komunitas tersebut. Upaya kontrol populasi kucing dilakukan dengan memegang prinsip animal welfare yang berperikehewanan. Perlu ada sinergi antara dokter hewan, komunitas peduli hewan, dan pemerintah melalui kegiatan sosialisasi kucing sebagai makhluk hidup yang harus disayangi.

Baca Juga: Pelajar Muhammadiyah Gelar Aksi untuk Iklim di 110 Titik: Waktu Kita Tidak Banyak

“Dengan sinergi dapat dilakukan kegiatan bakti sosial bersama. Dalam mengadakan ovariohysterectomy maupun kastrasi bersubsidi, bahkan gratis,” ujar Ragil.

Di sisi lain, rupanya ada upaya menekan populasi kucing yang belum ieksplorasi, yakni melalui kontrasepsi makanan. Cara itu berbeda dengan sterilisasi konvensional yang dilakukan dengan cara pembedahan secara fisik maupun dengan injeksi. Dan upaya tersebut harus dilakukan oleh tenaga medis veteriner yang memiliki sertifikasi di bidangnya.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: animal welfarekastrasi kucingkontrasepsi alamikucingkucing betinakucing jantanpopulasi kucing

Editor

Next Post
Kota Subulussalam di Provinsi Aceh dilanda banjir dampak hujan lebat pada 31 Oktober 2022. Foto Dok BNPB.

Banjir Dampak Hujan Lebat di Aceh Terbukti

Discussion about this post

TERKINI

  • Westa, aplikasi pengelolaan sampah berbasis AI. Foto Dok. FEB UGM.Aplikasi Westa, Identifikasi Jenis dan Berat Sampah untuk Menghitung Emisi Karbon
    In IPTEK
    Sabtu, 14 Maret 2026
  • Seorang mahout memandikan gajah di aliran sungai kawasan Konservasi Gajah Tangkahan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Foto Soetana Hasby/Wanaloka.com.Instruksi Presiden untuk Selamatkan 21 Kantong Gajah yang Tersisa
    In News
    Sabtu, 14 Maret 2026
  • Dua perempuan menanam padi di sawah. Foto Wanaloka.com.Terdampak Perjanjian Dagang Timbal Balik Indonesia-USA, Perempuan Adat Melawan
    In Lingkungan
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Desakan pengesahan RUU Masyarakat Adat dalam Aksi Kamisan, 5 September 2024. Foto AMAN.Hari Masyarakat Adat Nasional, Tak Ada Alasan RUU Masyarakat Adat Tak Disahkan
    In Rehat
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Pengolahan sampah di PIAT UGM. Foto Dok. Humas UGM.Tragedi Bantargebang Akibat Pengelolaan Sampah Berorientasi pada Pembuangan
    In Lingkungan
    Kamis, 12 Maret 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media