Senin, 25 Mei 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Data UNESCO 44 Jurnalis Lingkungan Dibunuh dalam 15 Tahun

Jumat, 3 Mei 2024
A A
Ilustrasi jurnalis di tengah liputan konflik. Foto StokJepret/pixabay.com.

Ilustrasi jurnalis di tengah liputan konflik. Foto StokJepret/pixabay.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Selain itu, 39 jurnalis telah dipenjara, terutama di Asia dan Pasifik, terkait dengan pelaporan mereka tentang isu lingkungan.

Baca Juga: Visual Dahsyatnya Erupsi Eksplosif Gunung Ruang 30 April 2024

Gugatan pencemaran nama baik juga sering digunakan untuk menekan pelaporan investigasi lingkungan dengan setidaknya 68 kasus, dengan jumlah kasus yang lebih tinggi terjadi di Eropa dan Amerika Utara.

Telah terjadi setidaknya 193 serangan terhadap jurnalis dan media saat meliput protes lingkungan dalam 15 tahun terakhir, terutama di Eropa, Amerika Utara, Amerika Latin dan Karibia. Polisi dan aparat militer adalah pelaku paling umum dengan 46 persen serangan, sementara pengunjuk rasa menyumbang 17 persen serangan.

Kedua, survei UNESCO dan Federasi Jurnalis Internasional (IFJ) yang menerima tanggapan lebih dari 900 jurnalis. Meliputi 41 persen perempuan, dari 129 negara (Afrika 43 persen; Asia dan Pasifik 19 persen; Amerika Latin dan Karibia 16 persen; Eropa dan Amerika Utara 14 persen; negara-negara Arab 8 persen).

Baca Juga: Erupsi Fase Kedua Gunung Ruang, BMKG Pantau Potensi Tsunami

Ketiga, temuan utama adalah serangan, ancaman, atau tekanan saat meliput masalah lingkungan hidup. Lebih dari 70 persen jurnalis yang disurvei melaporkan mengalami serangan, ancaman, atau tekanan saat meliput isu lingkungan.

Di antara mereka yang melaporkan serangan, ancaman, atau tekanan, meliputi 60 persen terindikasi menjadi korban pelecehan online, 41 persen mengalami serangan fisik, seperempatnya dituntut secara hukum, 75 persen berdampak pada kesehatan mental mereka.

Hampir separuh jurnalis melaporkan telah melakukan praktik sensor mandiri. Juga menyatakan upaya itu didorong atas ketakutan akan potensi serangan, narasumber terpapar bahaya, dan/atau kesadaran bahwa liputan isu lingkungan hidup mungkin bertentangan dengan kepentingan pemberi kerja atau pemasang iklan.

Baca Juga: Letusan Eksplosif Gunung Ruang Terjadi Lagi, Status Kembali Awas

Lebih dari 80 persen perempuan jurnalis yang melaporkan menjadi korban serangan saat meliput isu lingkungan menerima ancaman psikologis atau tekanan. Dari seluruh responden yang melaporkan menjadi korban setidaknya satu serangan, responden perempuan mengatakan mereka lebih sering mengalami serangan digital dibandingkan laki-laki (62 persen).

Kondisi tersebut sejalan dengan tren global yang diidentifikasi dalam laporan Chilling bahwa perempuan jurnalis lebih sering menjadi sasaran kekerasan online dibandingkan laki-laki. Dan 83 persen perempuan jurnalis yang pernah mengalami serangan dan/atau ancaman saat meliput isu lingkungan mengatakan hal tersebut berdampak pada kesehatan mental mereka.

Baca Juga: Irwan Meilano, Gempa M6,2 Bukti Ada Potensi Gempa Merusak Selain Megathrust

Lebih dari dua pertiga jurnalis berpendapat disinformasi terkait perubahan iklim telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

“Mereka juga menganggap jurnalisme belum berbuat banyak untuk melawannya,” imbuh National Information Officer (Pusat Informasi PBB/UNIC), Siska Widyawati.

Dari jumlah tersebut, 68 persen melaporkan hal tersebut terkait konflik kepentingan dengan pemangku kepentingan yang bersangkutan. [WLC02]

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: Hari Kebebasan Pers Duniajurnalis lingkunganperubahan iklimPusat Informasi PBBsensor mandiriUNESCO

Editor

Next Post
Bencana banjir dan longsor di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan yang dipicu pertambangan di hulu, 3 Mei 2024. Foto Dok. BPBD Luwu.

15 Warga Tewas Akibat Banjir dan Longsor di Sulawesi Selatan

Discussion about this post

TERKINI

  • Guru Besar Fakultas Teknik dan Teknologi IPB University, Prof. Edy Hartulistiyoso. Foto Dok. IPB University. IEdy Hartulistiyoso: Panas Sisa Industri Bisa Diubah Jadi Energi Listrik
    In Sosok
    Sabtu, 23 Mei 2026
  • Ikan nila, salah satu ikan invasif di perairan Indonesia. Foto distankan.bulelengkab.go.id.Sekitar 20 dari 50 Jenis Ikan Asing di Perairan Umum Indonesia Kategori Invasif
    In Lingkungan
    Sabtu, 23 Mei 2026
  • Teknologi untuk riset kualitas udara. Foto Dok. BRIN.BRIN Teliti Kualitas Udara Tiga Kota, Bandung Lampaui Batas Aman
    In Lingkungan
    Jumat, 22 Mei 2026
  • Presiden Prabowo Subianto saat akan menyampaikan pidato pada Rapat Paripurna DPR RI ke-19 Masa Persidangan V Tahun Sidang 2025–2026, 20 Mei 2026. Foto Kris/BPMI Setpres.Cabut PP 21/2026, Potensi Kerusakan SDA Sulit Dipertanggungjawabkan
    In Lingkungan
    Jumat, 22 Mei 2026
  • Warga Makassar memprotes rencana pendirian PSEL di dekat permukiman. Foto Dok. Walhi Sulawesi Selatan.Proyek PSEL di Makassar dan Yogyakarta, Transisi Darurat Sampah ke Darurat Kesehatan
    In Lingkungan
    Kamis, 21 Mei 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media