Sabtu, 23 Mei 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

El Niño Tingkatkan Produktivitas Perikanan, Bukan Nelayan Pesisir yang Diuntungkan

Praktiknya, wilayah penangkapan ikan justru lebih mudah diakses armada industri yang memiliki teknologi, modal, dan izin.

Selasa, 19 Mei 2026
A A
Ilustrasi kapal penangkap ikan. Foto PublicDomainPictures/Pixabay.com.

Ilustrasi kapal penangkap ikan. Foto PublicDomainPictures/Pixabay.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Dampak arus pantai selatan Jawa

Sementara Pusat Riset Iklim dan Atmosfer bersama Pusat Riset Kecerdasan Artifisial dan Keamanan Siber BRIN berkolaborasi dengan Program Studi Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran (Unpad) berhasil melakukan rekonstruksi komprehensif mengenai dinamika Arus Pantai Selatan Jawa atau South Java Coastal Current (SJCC).

Riset berskala panjang yang mengamati data dari tahun 1993 hingga 2023 ini memetakan bagaimana fenomena iklim global memengaruhi sirkulasi arus laut yang menjadi motor penggerak cuaca dan kekayaan maritim di selatan Indonesia.

SJCC merupakan arus laut permukaan yang mengalir dominan ke arah timur menyusuri pantai barat Sumatra hingga selatan Jawa dan Pulau Sumba. Arus ini membawa massa air hangat dari Samudra Hindia tropis yang memiliki peran krusial dalam mengatur pola curah hujan, suhu permukaan laut, hingga produktivitas perikanan di wilayah tersebut.

Anggota tim periset dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Yosef Prihanto menjelaskan studi yang telah diterbitkan di jurnal ilmiah internasional Oceanologia ini berhasil memetakan variabilitas SJCC dalam berbagai skala waktu.

“Secara umum, arus permukaan yang mengalir ke timur ini terbentuk sepanjang tahun. Pada skala intraseasonal, SJCC menunjukkan siklus periodisitas dominan sekitar 76 hari. Namun, kekuatan dan jangkauannya berubah drastis saat berinteraksi dengan fenomena iklim global seperti Indian Ocean Dipole (IOD) dan El Niño-Southern Oscillation (ENSO),” ujar Yosef, Senin, 18 Mei 2026.

Riset ini mengungkap pada kondisi normal bulan Juni hingga September (monsun tenggara), arus permukaan yang bergerak ke timur ini hanya terbentuk, terutama di bagian pantai selatan Jawa akibat tekanan dari Arus Ekuator Selatan yang intensitasnya semakin kuat. Massa air dari SJCC selama monsun tenggara ini diindikasikan berasal dari laut Jawa yang masuk melalui selat Sunda.

Namun, saat terjadi fenomena IOD Negatif (seperti tahun 2016) atau La Niña (seperti tahun 2010), SJCC justru menguat secara masif di sepanjang selatan Jawa. Kondisi ini dipicu melemahnya monsun tenggara dan meningkatnya intesitas gelombang Kelvin ekuatorial.

Sebaliknya, pada periode Oktober hingga Januari saat terjadi IOD Positif (seperti tahun 2019) dan El Niño (seperti tahun 2015), arus SJCC melemah secara signifikan, bahkan tertekan (suppressed).

Secara khusus, riset ini menyoroti tahun 2023 sebagai periode ekstrem di mana IOD Positif dan El Niño terjadi secara bersamaan. Kedua fenomena yang terjadi secara bersamaan tersebut mengakibatkan terjadinya supresi atau pelemahan arus SJCC yang sangat kuat dari September hingga Desember 2023. Kondisi ini turut dibarengi dengan penurunan drastis tinggi muka laut atau Sea Level Anomaly hingga mencapai kisaran minus 16 cm hingga minus 17 cm di selatan Jawa.

Melalui analisis data jangka panjang tersebut, tim peneliti menyimpulkan pengaruh fenomena IOD memiliki dampak jauh lebih kuat dan langsung terhadap variabilitas SJCC dibandingkan dengan fenomena ENSO.

Pemahaman mendalam mengenai rekonstruksi arus SJCC bukan sekadar konsumsi akademis. Melainkan instrumen krusial bagi Indonesia dalam meningkatkan akurasi prediksi sirkulasi regional, transfer panas, serta variabilitas iklim lokal.

Bagi sektor riil, hasil riset kolaborasi BRIN dan Unpad ini memberikan landasan ilmiah untuk memperkuat pemodelan iklim global, menyusun strategi adaptasi perubahan iklim di wilayah pesisir, serta mendukung sektor manajemen perikanan tangkap nasional.

Mengingat dinamika arus SJCC berkaitan erat dengan fenomena upwelling (pengadukan massa air laut) yang membawa nutrien tinggi dan menjadi lokasi berkumpulnya komoditas perikanan. [WLC02]

Sumber: Walhi, BRIN

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: BRINEl NinoFenomena UpwellingWalhi

Editor

Next Post
Ilustrasi warga menolak perampasan tanah adat Pekurehua oleh bank tanah. Foto AI.

Masyarakat To Pekurehua Menuntut Bank Tanah Kembalikan Tanah Adat

Discussion about this post

TERKINI

  • Teknologi untuk riset kualitas udara. Foto Dok. BRIN.BRIN Teliti Kualitas Udara Tiga Kota, Bandung Lampaui Batas Aman
    In Lingkungan
    Jumat, 22 Mei 2026
  • Presiden Prabowo Subianto saat akan menyampaikan pidato pada Rapat Paripurna DPR RI ke-19 Masa Persidangan V Tahun Sidang 2025–2026, 20 Mei 2026. Foto Kris/BPMI Setpres.Cabut PP 21/2026, Potensi Kerusakan SDA Sulit Dipertanggungjawabkan
    In Lingkungan
    Jumat, 22 Mei 2026
  • Warga Makassar memprotes rencana pendirian PSEL di dekat permukiman. Foto Dok. Walhi Sulawesi Selatan.Proyek PSEL di Makassar dan Yogyakarta, Transisi Darurat Sampah ke Darurat Kesehatan
    In Lingkungan
    Kamis, 21 Mei 2026
  • Ilustrasi warga menolak perampasan tanah adat Pekurehua oleh bank tanah. Foto AI.Masyarakat To Pekurehua Menuntut Bank Tanah Kembalikan Tanah Adat
    In Lingkungan
    Rabu, 20 Mei 2026
  • Ilustrasi kapal penangkap ikan. Foto PublicDomainPictures/Pixabay.com.El Niño Tingkatkan Produktivitas Perikanan, Bukan Nelayan Pesisir yang Diuntungkan
    In Lingkungan
    Selasa, 19 Mei 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media