Jumat, 11 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Masyarakat To Pekurehua Menuntut Bank Tanah Kembalikan Tanah Adat

Bank Tanah yang dibuat berdasarkan UU Cipta Kerja telah dinyatakan inkonstitusional oleh Mahkamah Konstitusi, namun pemerintah tetap melanjutkan operasinya.

Rabu, 20 Mei 2026
A A
Ilustrasi warga menolak perampasan tanah adat Pekurehua oleh bank tanah. Foto AI.

Ilustrasi warga menolak perampasan tanah adat Pekurehua oleh bank tanah. Foto AI.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Konflik agraria terus memakan korban, di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah dimana  masyarakat adat To Pekurehua tergusur dari ruang hidupnya. Sebelumnya mereka melawan perkebunan PT Sandabi Indah Lestari (SIL) yang tersebar di Kecamatan Lore Timur dan Lore Peore, setelah Hak Guna Usaha (HGU) telah habis masa izinnya. Mereka mengalami kekerasan dan kriminalisasi.

Saat ini, mereka harus menghadapi masalah baru, yakni tanah mereka dirampas lembaga Bank Tanah yang problematik. Sebab melalui skema Hak Pengelolaan (HP), sebagai implementasi Undang-Undang Cipta Kerja yang diturunkan menjadi Peraturan Pemerintah Nomor 64 Tahun 2021 tentang Bank Tanah.

Padahal wilayah tersebut telah dikelola secara turun-temurun oleh masyarakat adat To Pekurehua untuk bercocok tanam, berupa kopi, kakao, durian, sayur mayur dan padi untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sebagaimana bunyi Pasal 20 ayat (1) UU Nomor 5 Tahun 1960 tentang Pokok-Pokok Agraria (UUPA), bahwa hak milik atas tanah bersifat turun-temurun. Artinya, masyarakat adat To Pekurehua adalah pemilik sah atas tanah tersebut.

Mereka pun datang ke Jakarta untuk memperjuangkan hak-haknya atas tanah yang dirampas bank tanah. Mengingat tanah adat itu menjadi sumber penghidupannya.

“Kami, perempuan masyarakat adat Pekurehua, akan berjuang sampai titik darah penghabisan, sampai tanah kembali,” seru salah satu masyarakat Karunia Cica Abe.

Sejak awal, Koalisi Kawal Pekurehua menentang keberadaan Bank Tanah. Sebab akan menjadi kepanjangan tangan negara dalam merampas ruang hidup rakyat dan memperpanjang konflik agraria.

Kronologi perampasan tanah adat

Imam M. dari JKPP mengisahkan kronologi perampasan tanah adat itu. Sejak awal 2023, Badan Bank Tanah memasang patok dan plang di lahan eks-HGU PT Sandabi Indah Lestari seluas sekitar 6.648 ha di Lore Timur dan Lore Piore. Bunyi plang adalah larangan pemanfaatan lahan tanpa izin. Langkah ini dinilai klaim sepihak negara melalui HPL tanpa persetujuan dan pengakuan terhadap masyarakat adat yang telah lama mengelola wilayah tersebut.

Sekitar 2.840,68 ha lahan berada dalam Wilayah Adat To Pekurehua Wanua Watutau, yang mencakup permukiman, kebun, sawah, area peternakan komunal, dan kolam ikan.

“Jadi bukan tanah kosong, melainkan sumber penghidupan masyarakat,” kata Imam.

Klaim HPL oleh Badan Bank Tanah dinilai sebagai perampasan ruang hidup masyarakat adat demi investasi, dengan rencana alokasi lahan kepada TH Group Vietnam (sekitar 3.500 ha), PT Banua Singgani Raya (sekitar 500 ha), dan Pusdiklat Brimob (sekitar 200 ha).

Padahal, wilayah adat To Pekurehua Wanua Watutau merupakan bagian penting Cagar Biosfer Lore Lindu dan dijaga melalui praktik tradisional. Proses penguasaan lahan juga dilakukan tanpa persetujuan masyarakat dan melanggar Peraturan Gubernur Sulawesi Tengah Nomor 37 Tahun 2012 tentang PADIATAPA.

“Jadi negara kami desak untuk mencabut HPL dan mengakui serta melindungi hak masyarakat adat,” tegas Imam.

Kepala Departemen Komunikasi Strategis dan Jaringan Eksekutif Nasional Wahana Lingkungan Hidup (Walhi), Dana Prima Tarigan menegaskan kehadiran Bank Tanah yang mencaplok atas tanah eks HGU PT SIL menunjukkan tidak ada itikad baik dari pengurus negara, baik di daerah maupun nasional, untuk menyelesaikan konflik agraria dan memulihkan ruang hidup masyarakat adat yang selama ini hilang akibat perkebunan monokultur.

Padahal wilayah tersebut merupakan wilayah adat yang sudah dikelola sejak turun temurun oleh masyarakat adat dengan pengetahuan dan praktik tradisional. Jauh sebelum perusahaan dan bank tanah merampas wilayah tersebut.

“Jika memang negara peduli terhadap rakyat, seharusnya negara menghapus keberadaan Bank Tanah, karena akan terus memperpanjang konflik agraria. Kementerian ATR/BPN harus segera menjalankan reforma agraria untuk komunitas adat di sana dan menjamin pemulihan ruang hidup mereka,” tegas Dana.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Badan Bank TanahMasyarakat Adat To PekurehuaWalhi

Editor

Next Post
Warga Makassar memprotes rencana pendirian PSEL di dekat permukiman. Foto Dok. Walhi Sulawesi Selatan.

Proyek PSEL di Makassar dan Yogyakarta, Transisi Darurat Sampah ke Darurat Kesehatan

Discussion about this post

TERKINI

  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media