Wanaloka.com – Craig, gajah penghuni Taman Nasional Amboseli di Kenya, Afrika diketahui mati, Sabtu, 3 Januari 2026. Gajah berusia 54 tahun itu meninggalkan sepasang gading yang utuh dengan berat 45 kilogram masing-masing.
Tak hanya kabar duka bagi warga Kenya dan juga pemerhati satwa di seluruh dunia. Di sisi lain menjadi bukti keberhasilan Kenya dalam melindungi satwa tersebut dari para pemburu. Sekaligus menunjukkan keberhasilan program konservasi gajah di sana.
Guru Besar Bidang Parasitologi UGM, Prof. Raden Wisnu Nurcahyo mengapresiasi karena sampai saat ini masih ada negara yang berhasil mempertahankan habitat gajahnya. Gading panjang yang masih dimiliki seekor gajah hingga akhir hayatnya itu merupakan pencapaian luar biasa. Artinya, dengan gading yang begitu panjang, hidupnya terlihat nyaman.
“Kami bisa berasumsi selama hidupnya, Craig tinggal di habitat yang nyaman, terlindungi, bebas dari ancaman, dan ketersediaan pakannya tercukupi,” kata Wisnu, Senin, 19 Januari 2026.
Baca juga: Legislator Usulkan RUU Pengelolaan Perubahan Iklim Atur Perdagangan Karbon
Taman Nasional Amboseli kerap dikunjungi banyak wisatawan. Meskipun tak ada atraksi satwa liar untuk ditunggangi atau dieksploitasi. Wisatawan bisa mengambil foto atau pun melihat dari jarak dekat. Menunjukkan ketertarikan wisatawan ke sana karena kecintaannya terhadap satwa liar, tanpa harus mengganggu keberadaan penghuninya.
“Ini yang harus menjadi catatan untuk para pengelola tempat wisata di Indonesia yang memamerkan gajah sebagai objek wisatanya. Masih banyak gajah yang diperlukan tidak sesuai,” ucap dia.
Tertular penyakit hewan ternak
Di Indonesia sendiri, Taman Nasional dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) sebenarnya sudah memiliki program yang baik. Salah satunya adalah Pusat Latihan Gajah (PLG) Gajah Sumatra yang ada di beberapa Taman Nasional (TN), seperti di Way Kambas (Lampung), Bukit Barisan Selatan (Bengkulu), Padang Sugihan (Palembang), Bukit Tigapuluh (Jambi), Tesso Nilo (Riau), hingga Saree (Aceh).
PLG ini bertujuan menyelamatkan gajah dari perburuan, kebakaran hutan, atau konflik dengan manusia agar tidak dibunuh, kemudian direhabilitasi.
Baca juga: Walhi Ingatkan Pilkada Tak Langsung Rawan Korupsi Sumber Daya Alam
“Namun masalah utamanya adalah ancaman populasi gajah liar di alam,” jelas dia.
Habitat gajah di alam liar semakin menyusut akibat pembalakan liar, perburuan gading, penyakit, serta pembukaan lahan untuk perkebunan sawit dan pertambangan. Terlebih, dengan bencana banjir yang terjadi November tahun lalu di di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
Tak hanya memberikan kerugian pada manusia, namun hal ini juga mengancam habitat gajah. Bahkan ada gajah yang mati karena banjir bandang.
“Memang satu-satunya jalan ya mereka hidup nyaman di taman nasional yang betul-betul terjaga,” ucap dia.







Discussion about this post