Jumat, 13 Februari 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Gajah Kenya Mati Tinggalkan Gading Utuh, Bukti Hidup dalam Habitat Aman

Untuk menjaga lingkungan dan alam habitat asli gajah dengan menghentikan pembukaan lahan baru untuk kelapa sawit, pertambangan, permukiman, atau jalan yang memotong habitat gajah.

Senin, 19 Januari 2026
A A
Ilustrasi gajah tua dengan sepasang gading yang utuh. Foto HFGVDCSS/pixabay.com.

Ilustrasi gajah tua dengan sepasang gading yang utuh. Foto HFGVDCSS/pixabay.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Craig, gajah penghuni Taman Nasional Amboseli di Kenya, Afrika diketahui mati, Sabtu, 3 Januari 2026. Gajah berusia 54 tahun itu meninggalkan sepasang gading yang utuh dengan berat 45 kilogram masing-masing.

Tak hanya kabar duka bagi warga Kenya dan juga pemerhati satwa di seluruh dunia. Di sisi lain menjadi bukti keberhasilan Kenya dalam melindungi satwa tersebut dari para pemburu. Sekaligus menunjukkan keberhasilan program konservasi gajah di sana.

Guru Besar Bidang Parasitologi UGM, Prof. Raden Wisnu Nurcahyo mengapresiasi karena sampai saat ini masih ada negara yang berhasil mempertahankan habitat gajahnya. Gading panjang yang masih dimiliki seekor gajah hingga akhir hayatnya itu merupakan pencapaian luar biasa. Artinya, dengan gading yang begitu panjang, hidupnya terlihat nyaman.

“Kami bisa berasumsi selama hidupnya, Craig tinggal di habitat yang nyaman, terlindungi, bebas dari ancaman, dan ketersediaan pakannya tercukupi,” kata Wisnu, Senin, 19 Januari 2026.

Baca juga: Legislator Usulkan RUU Pengelolaan Perubahan Iklim Atur Perdagangan Karbon

Taman Nasional Amboseli kerap dikunjungi banyak wisatawan. Meskipun tak ada atraksi satwa liar untuk ditunggangi atau dieksploitasi. Wisatawan bisa mengambil foto atau pun melihat dari jarak dekat. Menunjukkan ketertarikan wisatawan ke sana karena kecintaannya terhadap satwa liar, tanpa harus mengganggu keberadaan penghuninya.

“Ini yang harus menjadi catatan untuk para pengelola tempat wisata di Indonesia yang memamerkan gajah sebagai objek wisatanya. Masih banyak gajah yang diperlukan tidak sesuai,” ucap dia.

Tertular penyakit hewan ternak

Di Indonesia sendiri, Taman Nasional dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) sebenarnya sudah memiliki program yang baik. Salah satunya adalah Pusat Latihan Gajah (PLG) Gajah Sumatra yang ada di beberapa Taman Nasional (TN), seperti di Way Kambas (Lampung), Bukit Barisan Selatan (Bengkulu), Padang Sugihan (Palembang), Bukit Tigapuluh (Jambi), Tesso Nilo (Riau), hingga Saree (Aceh).

PLG ini bertujuan menyelamatkan gajah dari perburuan, kebakaran hutan, atau konflik dengan manusia agar tidak dibunuh, kemudian direhabilitasi.

Baca juga: Walhi Ingatkan Pilkada Tak Langsung Rawan Korupsi Sumber Daya Alam

“Namun masalah utamanya adalah ancaman populasi gajah liar di alam,” jelas dia.

Habitat gajah di alam liar semakin menyusut akibat pembalakan liar, perburuan gading, penyakit, serta pembukaan lahan untuk perkebunan sawit dan pertambangan. Terlebih, dengan bencana banjir yang terjadi November tahun lalu di di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

Tak hanya memberikan kerugian pada manusia, namun hal ini juga mengancam habitat gajah. Bahkan ada gajah yang mati karena banjir bandang.

“Memang satu-satunya jalan ya mereka hidup nyaman di taman nasional yang betul-betul terjaga,” ucap dia.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Gajah CraigGajah KenyaGuru Besar Bidang Parasitologi UGMHabitat Gajahpusat latihan gajahTaman Nasional AmboseliVirus EEHV

Editor

Next Post
Diskusi “Merawat Karst Gunung Sewu: Konflik Agraria, Air, dan Kuasa” di PSPK UGM, 14 Januari 2026. Foto Pito Agustin/Wanaloka.com.

Pembangunan Pariwisata di Gunungkidul Ancam Ruang Hidup Kawasan Karst Gunung Sewu

Discussion about this post

TERKINI

  • Ilustrasi ikan mati massal. Foto akbarnemati/pixabay.com.Ikan Dewa Mati Massal di Kuningan, Apa Penyebabnya?
    In Rehat
    Kamis, 12 Februari 2026
  • Aksi Hari Tani Nasional 2025 serukan pelaksanaan reforma agraria, 24 September 2025. Foto KPA.KPA Kritik Peran Bank Tanah, Menghidupkan Lagi Kepemilikan Tanah Negara Masa Kolonial
    In Lingkungan
    Rabu, 11 Februari 2026
  • MMA dan PPLH LRI sepakat menguatkan peran adat dalam mengelola hutan di Aceh. Foto Dok. IPB University.Kuatkan Kembali Panglima Uteun untuk Jaga Kelestarian Hutan Aceh
    In News
    Rabu, 11 Februari 2026
  • Lokasi pertambangan dekat dengan sebuah danau (L) dan Teluk Weda (R) di Indonesia Timur pada 2023. Foto Climate Rights International.Jatam Tegaskan, Empat Perusahaan Tambang di Maluku Utara Harus Ditindak Tegas, Tak Sekadar Denda
    In Lingkungan
    Selasa, 10 Februari 2026
  • Ilustrasi sistem saraf pusat manusia yang meliputi otak dan sumsusm tulang belakang. Foto VSRao/pixabay.com.Virus Nipah Menyerang Sistem Saraf Pusat yang Percepat Perburukan Klinis
    In Rehat
    Selasa, 10 Februari 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media