“Gempa ini dapat menurunkan kekuatan geser lereng secara signifikan, terutam di zona pegunungan dengan pelapukan tinggi,” papar dia.
Sejumlah foto dan video juga menggambarkan bangunan-bangunan tinggi yang runtuh terjadi di Philipina usai gempa terjadi. Sekaligus mengonfirmasi, bahwa gempa Davao Filipina pagi ini ternyata menimbulkan kerusakan cukup parah.
Ia kembali menekankan narasi edukasi yang sering disampaikan. Bahwa yang mematikan dari gempa bukan guncangannya, tapi bangunan yang tidak siap menahannya. Bangunan yang kolaps mengindikasikan kemungkinan kombinasi faktor. Meliputi desain struktur yang lemah, material yang tidak memadai, atau efek amplifikasi tanah lokal yang memperkuat guncangan.
“Masyarakat perlu memahami, bahwa gempa kuat dapat terjadi tanpa peringatan. Kesiapsiagaan dan bangunan tahan gempa menjadi kunci utama mengurangi risiko,” imbuh edukator kebencanaan itu.
Bangunan yang runtuh saat gempa menjadi pengingat, bahwa ancaman utama gempa bukan hanya guncangannya, tetapi kegagalan struktur bangunan. Setiap peristiwa seperti ini perlu menjadi bahan evaluasi terhadap desain, kualitas konstruksi, dan kepatuhan terhadap standar bangunan tahan gempa
Dampak gempa merupakan kombinasi antara magnitudo, kedalaman, jarak, dan kerentanan bangunan. Untuk tsunami, parameter kunci adalah mekanisme sumber dan deformasi dasar laut, sehingga verifikasi resmi sangat penting sebelum menyimpulkan ancaman.
Salah satunya video menggambarkan suasana saat gempa terjadi, siswa dan guru tengah berada di halaman terbuka untuk mengikuti upacara, sehingga risiko tertimpa bangunan bisa lebih kecil.
“Namun ini juga pengingat penting, kesiapsiagaan tetap kunci. Kenali jalur evakuasi, lakukan latihan rutin, dan segera lakukan drop, cover, hold on bila guncangan terasa kuat,” papar dia.
Imbau warga pesisir tenang
Merespons peringatan dini potensi tsunami akibat guncangan gempa bumi tersebut, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengimbau masyarakat di lima wilayah pesisir tersebut untuk tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan penuh, serta secara sadar dan teratur melakukan langkah antisipasi mandiri dengan bergerak menjauhi area pantai menuju titik kumpul aman sesuai dengan tingkat ancaman di wilayahnya.
BNPB merinci wilayah berstatus Siaga ini mencakup beberapa titik di Sulawesi Utara dengan estimasi waktu tiba gelombang mulai dari Kepulauan Sangihe pada pukul 06:51 WIB, Kota Manado pukul 07:12 WIB, Minahasa Utara Bagian Utara pukul 07:12 WIB, Minahasa Bagian Utara pukul 07:14 WIB, Kepulauan Minahasa pukul 07:16 WIB, Minahasa Selatan Bagian Utara pukul 07:17 WIB, hingga Bolaang Mongondow Bagian Utara pukul 07:22 WIB.
Di samping itu, status Siaga juga berlaku untuk Gorontalo Bagian Utara dengan estimasi kedatangan gelombang pada pukul 07:26 WIB, diikuti wilayah Sulawesi Tengah yaitu Buol pukul 07:27 WIB dan Toli-Toli pukul 07:29 WIB, serta kembali ke wilayah Sulawesi Utara untuk Minahasa Utara Bagian Selatan pada pukul 07:33 WIB dan Minahasa Bagian Selatan pada pukul 07:34 WIB.
Sedangkan wilayah yang masuk dalam kategori Waspada meliputi Kepulauan Talaud dengan estimasi waktu tiba gelombang pukul 06:58 WIB, Kota Bitung pukul 07:19 WIB, Halmahera di Maluku Utara pukul 07:29 WIB, Donggala Bagian Utara di Sulawesi Tengah pukul 07:42 WIB, serta Minahasa Selatan Bagian Selatan pukul 07:42 WIB.
Kewaspadaan serupa juga berlaku untuk Kota Ternate pada pukul 07:43 WIB, Kutai Timur di Kalimantan Timur pukul 07:44 WIB, Kota Tidore pukul 07:46 WIB, hingga wilayah Bulungan pada pukul 08:05 WIB dan Nunukan pada pukul 08:14 WIB.
Berdasarkan laporan cepat dari Pusat Pengendali dan Operasi (Pusdalops) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kepulauan Talaud serta BPBD Kota Manado, guncangan gempa bumi di kedua wilayah tersebut hanya dirasakan lemah selama kurang lebih 2 hingga 3 detik. Hingga saat ini, tim gabungan BPBD di tiap-tiap daerah terus melakukan monitoring ketat secara berkala di lapangan untuk memantau setiap dampak yang ditimbulkan pasca-gempa serta memastikan kondisi pesisir tetap aman.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari mengimbau masyarakat untuk tidak panik, memberikan prioritas keselamatan bagi kelompok rentan seperti lansia, penyandang disabilitas, dan anak-anak, serta selalu mematuhi instruksi resmi dari petugas lintas instansi yang mengawal situasi di lapangan. Warga juga diingatkan untuk tidak menyebarkan isu atau informasi yang belum jelas kebenarannya, dan selalu merujuk pada pemutakhiran data berkala dari instansi terkait dan petugas di lapangan. [WLC02]






Discussion about this post