Baca juga: Instalasi Lumbung Air Hujan Dipasang di Tiga Titik di Kota Palu
Karakter sinkhole yang dapat muncul tanpa peringatan merupakan risiko yang mengancam keselamatan jiwa. Selain itu, rusaknya infrastruktur turut mengganggu aktivitas dan siklus ekonomi lokal.
“Ini juga memunculkan rasa cemas dan trauma bagi masyarakat yang terdampak,” ucap dia.
Penanganan sinkhole bukan hanya soal menutup lubang, tetapi juga mengelola air, memperkuat tanah, dan melibatkan masyarakat dalam kewaspadaan. Setelah proses evakuasi warga, survei geologi dan geofisika dilakukan untuk identifikasi kedalaman lubang baik dengan geolistrik, seismik, ground penetrating radar (GPR).
Stabilisasi tanah dapat dilakukan dengan pengisian material padat maupun teknik grouting (penyuntikan semen cair ke dalam rongga). Langkah lain adalah perbaikan drainase dan aliran air, serta rekayasa struktur penguatan pondasi.
Baca juga: Industri Pariwisata Potensial Merusak 34 Hektare Lebih Ekosistem Karst Gunungsewu
“Pencegahan total sulit dilakukan, tetapi mitigasi dapat melalui pemantauan geologi, pengendalian tata guna lahan, serta sistem drainase yang baik,” ujar dia.
Ia menyebutkan tanda-tanda awal seperti permukaan tanah retak dan turun perlahan, bangunan atau pohon miring bergeser, perubahan aliran air, hingga munculnya lubang kecil. Ia mengimbau kepada masyarakat kawasan karst yang rawan serta peran segala lini dalam mengatasi fenomena ini.
Pemerintah perlu melakukan survei geologi pemetaan rawan sinkhole. Masyarakat juga perlu aktif melaporkan kecurigaan sesuai tanda-tanda seperti yang disebutkan tadi.
“Jadi, edukasi bersama penting untuk warga memahami risiko dan mitigasi,” imbuh dia. [WLC02]
Sumber: UGM







Discussion about this post