Senin, 25 Mei 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Global Carbon Project 2022, Indonesia Penyumbang Emisi Terbesar Akibat Penggunaan Lahan

Ternyata emisi karbon global 2022 tak ada tanda-tanda penurunan. Target penurunan suhu global 1,5 derajat Celcius belum tercapai. Indonesia salah satu aktornya.

Sabtu, 12 November 2022
A A
Ilustrasi emisi karbon akibat deforestasi. Foto bones64/pixabay.com

Ilustrasi emisi karbon akibat deforestasi. Foto bones64/pixabay.com

Share on FacebookShare on Twitter

Sedangkan anggaran karbon apabila dunia ingin memiliki tingkat keberhasilan 50 persen dalam upaya menahan keernaikan suhu rata-rata di bawah 2 derajat masih tersisa sebanyak 1230 GtCO2. Anggaran ini baru akan “habis terpakai” dalam 30 tahun jika dunia masih terus mengeluarkan emisi dengan tingkat yang sama seperti tahun 2022.

Baca Juga: Awas Cuaca Ekstrem, Ribuan Warga Lampung dan Sumut Terdampak Banjir

Catatan penting, bahwa emisi gas rumah kaca yang dikeluarkan dunia masih diproyeksi akan terus meningkat apabila kondisi tidak berubah. Akibatnya, anggaran karbon kemungkinan besar akan lebih cepat habis terpakai.

Tercapaikah Target Emisi CO2 Nol Persen pada 2050?

Untuk mencapai terget itu dibutuhkan penurunan emisi C02 sekitar 1,4 GtCO2 setiap tahun. Angka itu sebanding dengan penurunan emisi yang diamati pada 2020 akibat lockdown saat Covid-19.

Laporan Global Carbon Project juga memproyeksi, konsentrasi CO2 di atmosfer akan mencapai rata-rata 417,2 bagian per juta pada 2022 atau lebih dari 50 persen di atas tingkat pra-industri. Proyeksi total emisi 40,6 GtCO2 pada 2022 mendekati 40,9 GtCO2 pada 2019. Angka itu merupakan total tahunan tertinggi yang pernah ada.

Baca Juga: Serba Serbi KTT G20, BMKG Perbarui Aplikasi InfoBMKG

Lahan dan lautan yang menyerap dan menyimpan karbon terus mengambil sekitar setengah dari emisi CO2. Penyerapan CO2 laut dan darat masih meningkat sebagai respons terhadap peningkatan CO2 di atmosfer, meskipun perubahan iklim mengurangi pertumbuhan ini sekitar 4 persen penyerapan laut dan 17 persen penyerapan lahan selama dekade 2012-2021.

Carbon budget tahun ini menunjukkan peningkatan emisi fosil jangka panjang telah melambat. Kenaikan rata-rata mencapai lebih 3 persen per tahun selama tahun 2000-an. Sementara pertumbuhan dalam dekade terakhir sekitar lebih 0,5 persen per tahun.

Tim peneliti – termasuk Exeter University, University of East Anglia (UEA), CICERO dan Ludwig-Maximilian-University Munich – menyambut baik perlambatan ini. Namun masih jauh dari penurunan emisi yang dibutuhkan.

Baca Juga: Gempa di Selatan Jember Magnitudo 5,0 Dipicu Aktivitas Deformasi Kerak Bumi

“Kita berada pada titik balik dan tidak boleh membiarkan perhatian kita beralih dari kebutuhan mendesak dan berkelanjutan untuk mengurangi emisi, untuk menstabilkan iklim global dan mengurangi risiko yang muncul,” kata Profesor Le Quéré.

Penghapusan karbon melalui reboisasi atau hutan baru akan mengimbangi setengah dari emisi deforestasi. Para peneliti mengatakan, menghentikan deforestasi dan meningkatkan upaya pemulihan dan memperluas hutan merupakan peluang besar demi mengurangi emisi.

Laporan ini dihasilkan lebih dari 100 ilmuwan untuk meneliti sumber karbon maupun penyerapnya. Laporan ini memberikan pembaruan tahunan yang telah ditinjau dan menggunakan metodologi mapan yang sepenuhnya transparan. Publik bisa mengaksesnya di: https://doi.org/10.5194/essd-14-4811-2022. [WLC02]

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: anggaran karbonCOP27emisi carbonEmisi Deforestasiemisi fosilEmisi gas rumah kacaGlobal Carbon Projectpandemi Covid-19pemanasan globalPerjanjian Iklim Paris 2015

Editor

Next Post
Hasil seduhan Copas, kopi biji pepaya dari mahasiswa KKN UNY. Foto uny.ac.id

Copas, Kopi Herbal Tanpa Kafein dari Biji Pepaya

Discussion about this post

TERKINI

  • Guru Besar Fakultas Teknik dan Teknologi IPB University, Prof. Edy Hartulistiyoso. Foto Dok. IPB University. IEdy Hartulistiyoso: Panas Sisa Industri Bisa Diubah Jadi Energi Listrik
    In Sosok
    Sabtu, 23 Mei 2026
  • Ikan nila, salah satu ikan invasif di perairan Indonesia. Foto distankan.bulelengkab.go.id.Sekitar 20 dari 50 Jenis Ikan Asing di Perairan Umum Indonesia Kategori Invasif
    In Lingkungan
    Sabtu, 23 Mei 2026
  • Teknologi untuk riset kualitas udara. Foto Dok. BRIN.BRIN Teliti Kualitas Udara Tiga Kota, Bandung Lampaui Batas Aman
    In Lingkungan
    Jumat, 22 Mei 2026
  • Presiden Prabowo Subianto saat akan menyampaikan pidato pada Rapat Paripurna DPR RI ke-19 Masa Persidangan V Tahun Sidang 2025–2026, 20 Mei 2026. Foto Kris/BPMI Setpres.Cabut PP 21/2026, Potensi Kerusakan SDA Sulit Dipertanggungjawabkan
    In Lingkungan
    Jumat, 22 Mei 2026
  • Warga Makassar memprotes rencana pendirian PSEL di dekat permukiman. Foto Dok. Walhi Sulawesi Selatan.Proyek PSEL di Makassar dan Yogyakarta, Transisi Darurat Sampah ke Darurat Kesehatan
    In Lingkungan
    Kamis, 21 Mei 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media