Jumat, 25 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Halal bi Halal Bermula dari Tradisi Keluarga Menjadi Tradisi Instansi

Tradisi khas Nusantara, halal bi halal biasa dilakukan saat momen lebaran. Salah satunya ditandai dengan saling berjabat tangan.

Senin, 2 Mei 2022
A A
Ilustrasi berjabat tangan. Foto HeungSoon/pixabay.com.

Ilustrasi berjabat tangan. Foto HeungSoon/pixabay.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Tradisi lebaran atau perayaan Hari Raya Idul Fitri tidak hanya sebagai ajang berkumpul dengan keluarga besar, tetapi juga untuk mengenal lebih dekat semua kerabat atau saling silaturahmi. Tak heran, sebagian besar orang rela menempuh jarak jauh agar bisa merasakan momen lebaran bersama keluarga. Menurut Dosen Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (Unair) Puji Karyanto, tradisi tersebut merupakan khas Nusantara.

“Kita tahu salah satu konsep kekerabatan yang ada di Nusantara itu kan, rasa guyub. Dan halalbihalal itu sebenarnya merupakan ekspresi rasa keguyuban antar kerabat yang bertemu saat momentum lebaran,” tutur Puji sebagaimana dilansir dari unair.ac.id, 2 Mei 2022.

Namun tradisi lebaran yang identik dengan silaturahmi atau unjung-unjung telah mengalami pergeseran makna. Semula, momen lebaran yang dimanfaatkan untuk berkumpul dengan keluarga, mengunjungi kerabat, dan mengenal sanak saudara salah satunya untuk menghindari perkawinan antar kerabat yang masih terlalu dekat.

Baca Juga: Asal Usul Tradisi Mudik dari Kumpul Kerabat hingga Pamer Kesuksesan

“Sebenarnya kan unjung-unjung itu bukan sekadar saling sapa, tetapi juga orang Jawa mengatakan ngambah bature,” tutur Puji.

Kini, tradisi lebaran silaturahmi sebagai tradisi keluarga telah diperluas dan diadopsi oleh instansi, baik pemerintah atau swasta dengan konsep halalbihalal. Orang pun cenderung memaknai dengan berkumpulnya banyak orang di sebuah tempat untuk saling memaafkan.

“Jangan-jangan akan berhenti di salam-salaman saja. Namun siapa yang salaman juga tidak kenal. Berbeda apabila berkunjung ke rumah, silaturahmi dengan keluarga terbatas,” imbuh dosen Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia (Basasindo).

Baca Juga: Yang Dilakukan dan Dihindari agar Tetap Fit Selama Mudik

Untuk membuat momen lebaran lebih intens, Puji menyarankan sebaiknya tidak membuat acara keluarga yang terlalu besar. Mengingat silaturahmi saat momen lebaran tidak hanya untuk bersalaman, tetapi juga berkomunikasi dan membangun hubungan baik antar keluarga.

Awal Mula Halal bi Halal

Halalbihalal pun bukan sekadar menggugurkan kewajiban, tetapi untuk merekatkan kembali apa yang sudah renggang.

“Jadi kalau terlalu besar situasinya, terlalu banyak yang harus bertemu, ya itu yang terjadi pasti semiotika nama, semiotika wajah orang yang bersalaman sudah tidak tahu,” ungkap Puji.

Sementara halalbihalal adalah budaya khas Indonesia yang merupakan turunan dari silaturahmi.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: halal bi halalHari Raya Idul FitriLebaransilaturahmiUnair

Editor

Next Post
Ilustrasi tunjangan hari raya. Foto Ekoanug/pixabay.com.

Ini Cara Bijak Mengelola Uang THR agar Tak Cepat Habis

Discussion about this post

TERKINI

  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media