Selasa, 25 Agustus 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Hati-hati Konsumsi Ampo dari Tanah di Ladang Bekas Pemupukan

Sebagian besar komponen dalam ampo berasal dari silika dan alumina yang tidak mudah larut di air, sehingga tidak dapat diserap tubuh.

Kamis, 21 Agustus 2025
A A
Ampo, camilan dari tanah liat asal Jawa Tenagh dan Jawa Timur. Foto disbudporapar.tubankab.go.id.

Ampo, camilan dari tanah liat asal Jawa Tenagh dan Jawa Timur. Foto disbudporapar.tubankab.go.id.

Share on FacebookShare on Twitter

Kandungan silika dan alumina dalam ampo sebagai adsorben yang memungkinkan padatan ini untuk menyerap dan mengikat zat-zat lainnya. Namun jika dikonsumsi dalam jumlah besar dan frekuensi yang sering memungkinkan potensi timbulnya iritasi pada pencernaan.

Baca juga: Teknologi Zat Antikarat Dikembangkan dari Ubi Ungu hingga Tembakau

“Karena ada gesekan partikel pada benda padat yang tidak larut tersebut pada usus manusia. Terlebih, pada lansia dan orang-orang yang memiliki kondisi rentan,” imbuh dia.

Untuk tetap mempertahankan ampo sebagai warisan budaya tak benda dalam masyarakat, Sri berpesan untuk tetap memperhatikan segi kesehatan dan keamanannya. Ia juga menyarankan untuk memperhatikan siapa, berapa, dan kapan waktu mengonsumsi ampo tersebut.

Mengingat jika dikaitkan dalam budaya, maka ampo itu dihadirkan pada waktu-waktu dan kondisi-kondisi tertentu.

Baca juga: Kematian Banyak Lebah Madu Penanda Ada Pencemaran Lingkungan

“Kondisi ini bisa dikaitkan dengan kondisi tubuh orang yang mengonsumsinya, yang saya maksud apakah ada kondisi sehat atau sakit tertentu,” ujar dia.

Selain itu, faktor usia sangat mempengaruhi karena balita dan manula sangat berisiko.

“Kalau ada kondisi, sedikit saja dalam pencernaannya pasti akan ada respon. Jadi dikonsumsi oleh orang-orang dewasa yang memiliki imun tinggi dan dengan jumlah yang terbatas,” pesan dia. [WLC02]

Sumber: UGM

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: ampoPusat Studi Pangan dan Gizi UGMtanah liat

Editor

Next Post
Dosen Teknologi Hasil Perikanan UGM, Indun Dewi Puspita. Foto Dok. UGM.

Indun Dewi, Perketat Keamanan Pangan Usai AS Tolak Udang Beku Indonesia

Discussion about this post

TERKINI

  • Upaya pemadaman karhutla di Kalimantan, 23 agustus 2026. Foto Dok. BNPB.Karhutla Kalimantan, Legislator: Warga Lokal Tak Bisa Terus Disalahkan, Cabut Izin Korporasi yang Terlibat
    In News
    Senin, 24 Agustus 2026
  • Penanganan karhutla di Lampung Timur, 21 Agustus 2026. Foto Dok. BNPB.Karhutla Berulang Bukan Fenomena Iklim, Walhi: Akibat Negara Salah Urus Tak Sampai Akar Masalah
    In Lingkungan
    Senin, 24 Agustus 2026
  • Titik-titik api karhutla di Pulau Kalimantan. Foto Istimewa.Hukuman Korporasi Pembakar Hutan Kalimantan: Cabut Izin dan Pulihkan Lingkungan!
    In News
    Minggu, 23 Agustus 2026
  • Pembangunan On The Rock di kawasan Pantai Watubolong di KBAK Gunungsewu di Kabupaten Gunungkidul, 8 Agustus 2026. (Foto Instimewa)Akses Dibatasi, Negara Harus Investigasi Perizinan Ekspansi Industri Wisata di Pantai Watubolong
    In News
    Minggu, 23 Agustus 2026
  • Visual pemadaman kebakaran hutan dan lahan di Kecamatan Gambut, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, 20 Agustus 2026. (BNPB)Karhutla Ancaman Serius: Utamakan Penjagaan Sebelum Api Datang, Bukan Pencegahan
    In Bencana
    Sabtu, 22 Agustus 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media