Faktor penyakit jantung semakin meningkat apabila mulai merasakan nyeri di bagian dada saat beraktifitas dan napas terengah-engah. Dengan begitu, generasi jompo berisiko mengalami penyakit jantung, seperti penyakit jantung koroner dan gagal jantung. Tidak menutup kemungkinan mudah terserang stroke dan kegagalan fungsi ginjal.
Jangan Begadang, Lakukan Aerobik
Generasi jompo bisa dikatakan sebagai kelompok yang ’unik’. Mereka jarang bergerak dan suka rebahan, tetapi betah bermain smartphone dalam jangka waktu lama saat malam hari. Kebiasaan itu membuat mereka begadang, meski tidak sedikit dari generasi jompo yang memilih bekerja di tengah malam karena pekerjaannya masih work from home atau merasa lebih produktif.
Begadang sebaiknya tidak dibiasakan karena tidak baik bagi kesehatan jantung. Kebiasaan buruk ini dikhawatirkan mengganggu irama alamiah tubuh atau ritme sirkardian.
“Saat istirahat, tubuh akan didominasi oleh sistem saraf parasimpatis. Biasanya jantung akan melambat sehingga kebutuhan oksigen dan nutrisi tidak terlalu banyak,” jelas Habibie.
Baca Juga: Banjir Garut, Ini Data Kerusakan dan Wilayah Terdampak
Di sisi lain, begadang juga mempercepat laju jantung karena pengaruh dari sistem saraf simpatis. Hal ini yang disebut dr. Habibie meningkatkan faktor risiko independen penyakit kardiovaskular.

Penyakit jantung kian hari menyerang orang-orang berusia muda. Padahal, penyakit ini dulunya dialami oleh mereka yang berusia 40-60 tahun. Maka mulailah kebiasaan sehat supaya terhindar dari risiko terkena penyakit jantung di kemudian hari. Bagaimana caranya?
Pilihlah jenis olahraga yang tepat menurut prinsip frequency, intensity, time and type (FIIT). Frekuensi (olahraga) minimal empat kali per minggu. Intensitas moderat dengan target laju jantung saat olahraga 70-80 persen dari laju jantung maksimal 220 bergantung usia. Waktu 30-40 menit tiap olahraga. Dan, tipe olahraga aerobik lebih diutamakan,” pungkasnya. [WLC02]
Sumber: uns.ac.id
Discussion about this post