Wanaloka.com – Dosen IPB University, Nisa Rachmania bersama tim melakukan riset berjudul “Kolaborasi Jasad Renik Hijaukan Lahan Tambang Kapur”. Riset ini berfokus pada pemanfaatan mikroorganisme lokal untuk mendukung proses pengomposan dan revegetasi lahan bekas tambang batuan kapur. Inovasi terpilih menjadi salah satu inovasi paling prospektif dalam ajang 117 Inovasi Indonesia 2025 yang diselenggarakan Business Innovation Center (BIC).
Produk formulasi ini terdiri atas isolat bakteri Bacillus paramycoides A.1.4 dan kapang Penicillium singorense 1.1.a. Formula ini berasal dari tanah area revegetasi bekas tambang batuan kapur PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk Citeureup.
Area revegetasi di lingkungan quarry bekas tambang batuan kapur Citeureup menyimpan potensi karbon organik dari limbah tumbuhan mati yang mengandung selulosa, hemiselulosa, dan lignin. Dari tanah dan sisa tumbuhan tersebut, tim mengisolasi bakteri dan cendawan penghasil enzim pengurai.
Kedua mikroorganisme potensial penghasil enzim pengurai selulosa dan lignin tersebut dikumpulkan menjadi konsorsium sebagai formula bioaktivator pembuatan kompos dari sisa tanaman di area revegetasi tersebut.
Baca juga: Jatam Desak Cabut Izin Tambang Nikel Ilegal di Maluku Utara, Denda Rp500 Miliar Bukan Solusi
Pengujian menunjukkan hasil pengomposan dan pemberian pupuk hayati dari formulasi kedua mikroorganisme tersebut lebih baik dibandingkan produk komersial. Kondisi ini menunjukkan kedua isolat telah adaptif pada lingkungan bekas tambang batuan kapur.
“Kedua spesies ini belum pernah dilaporkan sebagai komponen pupuk hayati seperti yang telah diperjualbelikan secara komersial,” jelas Nisa.
Kedua isolat tidak bersifat patogen bagi manusia dan hewan. Berdasarkan kajian literatur, Penicillium singorense juga bukan patogen tanaman.






Discussion about this post