Baca juga: Libur Nataru Pantau 20 Lebih Gunung Api, Lewotobi Laki-laki Berstatus Awas
Pengeluaran warga untuk pengangkutan sampah yang sebelumnya sekitar Rp1 juta per sekali angkut dapat ditekan.
“Cukup dengan biaya operasional petugas kebersihan,” jelas dia.
Secara teknis, insinerator ini dibuat dari bata hebel yang mudah diperoleh. Desainnya memiliki ruang bakar memanjang dengan pengaturan aliran udara sehingga api menyala lebih stabil dan asap pembakaran berkurang secara signifikan. Kondisi ini memungkinkan masyarakat membakar sampah tanpa mencemari kualitas udara.
Baca juga: Banjir Bandang Sitaro, Korban Tewas Mencapai 16 Orang
Kehadiran insinerator minim asap disambut baik warga dan aparat desa. Peresmian alat pun mendapat respons positif, baik dari perwakilan RT/RW dan kelurahan. Mereka menyampaikan rasa syukur atas pembuatan incinerator minim asap ini.
Akma berharap inovasi tersebut dapat direplikasi di 32 RT lainnya. Desainnya akan mereka buat semudah mungkin agar bisa ditiru dan diaplikasikan.
Lewat inovasi ini, mahasiswa KKNT Inovasi IPB University berharap pengelolaan sampah desa dapat dilakukan secara lebih berkelanjutan. Sekaligus menumbuhkan kesadaran kolektif masyarakat akan pentingnya lingkungan yang bersih dan sehat. [WLC02]
Sumber: IPB University







Discussion about this post