Baca juga: PLTU Cirebon-1 Batal Pensiun Dini, Bukti Komitmen Transisi Energi Rapuh dan Tidak Akuntabel
Awan secara alami selalu bergerak dan berubah bentuk mengikuti dinamika atmosfer. Anggapan bahwa ada awan yang tampak kaku atau tidak bergerak kemungkinan besar muncul dari pengamatan visual yang sangat terbatas dalam rentang waktu singkat.
“Ketika awan tidak bergerak atau tidak berubah bentuk, biasanya hanya berdasarkan pengamatan mata telanjang sesaat. Padahal secara fisik awan terus mengalami perubahan,” ujar dia.
Ia juga menanggapi klaim yang mengaitkan fenomena tersebut dengan jejak pesawat di langit. Menurut Sonni, garis-garis lurus yang sering terlihat sebenarnya merupakan jejak kondensasi pesawat atau contrail.
Baca juga: Penelusuran Forensik Kayu dengan Teknologi Berbasis DNA dan Near Infrared
“Itu adalah uap air hasil pembakaran bahan bakar pesawat. Ketika berada di lapisan udara yang dingin, uap air tersebut mendingin dan mengondensasi, sehingga tampak sebagai garis lurus di langit,” jelas dia.
Jejak tersebut tidak bersifat permanen. Jika diamati dengan cermat, dalam beberapa menit bentuknya akan menyebar dan berubah menjadi tidak teratur. Ini menunjukkan ada kekeliruan pengamatan yang bisa memicu kesimpulan yang salah.
Sonni mengingatkan masyarakat agar lebih kritis dalam menyikapi informasi cuaca yang viral di media sosial. Serta tidak mudah mengaitkan fenomena atmosfer dengan istilah atau klaim yang tidak memiliki dasar ilmiah. [WLC02]
Sumber: IPB University







Discussion about this post