Jumat, 26 Juni 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Penelusuran Forensik Kayu dengan Teknologi Berbasis DNA dan Near Infrared

Teknologi identifikasi jenis dan asal-usul kayu berbasis DNA mampu memperkuat sistem timber tracking dan mendukung penegakan hukum kehutanan di Indonesia.

Minggu, 1 Februari 2026
A A
Ilustrasi gelondongan kayu hutan. Foto Dok Soetana Hasby.

Ilustrasi gelondongan kayu hutan. Foto Dok Soetana Hasby.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Teknologi DNA telah banyak digunakan secara global, terutama dalam forensik kehutanan. Secara global, sekitar 80 persen forensik kehutanan, khususnya untuk timber tracking (penelusuran kayu), telah menggunakan pendekatan DNA. Namun penerapan di Indonesia masih relatif terbatas.

Menjawab tantangan tersebut, IPB University mengambil peran strategis melalui pengembangan teknologi identifikasi kayu berbasis DNA lewat konsorsium riset Indonesian-Based Wood Identification Program. Mengingat teknologi identifikasi jenis dan asal-usul kayu berbasis DNA mampu memperkuat sistem timber tracking dan mendukung penegakan hukum kehutanan di Indonesia.

Metode DNA ini memungkinkan penelusuran kayu hingga tiga tingkat analisis. Mulai dari mengidentifikasi kayu pada level famili, genus, atau spesies, kemudian menentukan asal-usul populasi, hingga memverifikasi kecocokan antara log kayu dengan tunggak atau stump tertentu.

“Pendekatan ini memungkinkan pembuktian ilmiah apakah sebatang kayu yang ditemukan di lapangan benar-benar berasal dari lokasi atau tunggak tertentu,” kata Dosen Silvikultur IPB University dan sekaligus penelitinya, Fifi Gus Dwiyanti.

Baca juga: Tinjauan Lingkungan Hidup 2026, Tak Ada yang Aman dari Ancaman Kerusakan Lingkungan

Metode DNA yang digunakan

Metode DNA barcoding digunakan untuk identifikasi spesies. Prosesnya meliputi ekstraksi DNA, polymerase chain reaction (PCR), hingga sequencing. Hasilnya kemudian dicocokkan dengan basis data global seperti National Center for Biotechnology Information (NCBI) atau DNA Data Bank of Japan (DDBJ).

“Melalui proses ini, spesies kayu yang sebelumnya tidak diketahui dapat diidentifikasi secara akurat berdasarkan kecocokan sekuens DNA,” ulas dia.

Sementara untuk menentukan asal-usul kayu, digunakan metode genetika populasi. Tantangan utama tahap ini adalah keterbatasan basis data populasi alami setiap spesies di Indonesia.

Peneliti harus mengembangkan database dari seluruh populasi alami setiap spesies kayu, yang jumlahnya bisa mencapai ratusan spesies komersial. Data ini menjadi kunci untuk membuktikan klaim asal-usul kayu yang tercantum dalam dokumen resmi.

Baca juga: Dampak Ekspansi Agro-Ekstraktif, Sawit Tak Sejahterakan Masyarakat Adat Papua

Adapun DNA profiling atau DNA fingerprinting dipakai untuk pencocokan antara log kayu dan tunggak. Metode ini menggunakan ukuran fragmen DNA dari berbagai lokus untuk memastikan kecocokan individu kayu dengan tunggulnya. Pendekatan ini telah banyak diterapkan di negara lain dan menjadi rujukan dalam kasus forensik kehutanan.

Keberhasilan identifikasi DNA sangat bergantung pada keragaman genetik, penanda DNA yang diskriminatif, kualitas dan kuantitas DNA, serta ketersediaan database yang kuat.

IPB University bersama konsorsium terus mengembangkan database sequence, protokol ekstraksi DNA, hingga genom kloroplas berbagai spesies kayu tropis Indonesia sebagai pilar ilmiah identifikasi kayu berbasis DNA.

Peran near infrared

Sementara Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Prof. Lina Karlinasari menjelaskan identifikasi kayu terdapat dua pendekatan utama, yakni identifikasi taksonomi kayu dan identifikasi berdasarkan asal geografis.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Asal Usul KayuFakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB UniversitySilvikultur IPB Universityteknologi DNATeknologi Identifikasi KayuTeknologi Near Infrared

Editor

Next Post
PLTU Cirebon. Foto Kementerian ESDM.

PLTU Cirebon-1 Batal Pensiun Dini, Bukti Komitmen Transisi Energi Rapuh dan Tidak Akuntabel

Discussion about this post

TERKINI

  • Laskar Talijiwo dari Pracimantoro, Wonogiri sampaikan penolakan tambang dan pabrik semen kepada Bupati Wonogiri, 25 Juni 2026. Foto Dok. Laskar Talijiwo.Temui Bupati Wonogiri, Laskar Talijiwo Sampaikan Tolak Tambang Gamping dan Pabrik Semen
    In News
    Jumat, 26 Juni 2026
  • Ilustrasi sampah organik dari sisa buah-buahan. Foto Artis Digital/pixabay.com.Temuan Ombudsman DIY, Aktivitas TPS 3R Sokowaten Tak Berizin dan Sebabkan Pencemaran
    In News
    Senin, 22 Juni 2026
  • Acara ISWBC 2026 bertema Beyond Species: Rethinking Conservation in an Era of Uncertainty, 11 Juni 2026. Foto Leoni/UGM.Pejabat Kehutanan Bicara Peran Masyarakat Adat Menjaga Biodiversitas Saat Krisis Iklim
    In News
    Sabtu, 20 Juni 2026
  • Para pejabat menunjukkan peta calon lokasi bandar antariksa di Distrik Biak Utara yang mengancam wilayah adat Warbon. Foto Istimewa.LBH Papua Nilai Rencana Pembangunan Bandar Antariksa di Wilayah Adat Warbon Cacat Hukum
    In Lingkungan
    Sabtu, 20 Juni 2026
  • Ilustrasi tawon yang berkoloni. Foto jcbeni.Pixabay.com.Tawon yang Berkoloni Mengenali Wajah Manusia yang Mengganggunya
    In IPTEK
    Jumat, 19 Juni 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media