Rabu, 22 Juli 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Jadi Bahan Farmasi Alami, Tanaman Rempah Nusantara Rentan Penyakit

Kondisi ini menjadi tantangan bagi para eksportir yang harus memastikan rempah-rempah yang dipasarkan memenuhi standar kesehatan melalui berbagai proses, seperti iradiasi dan pemanasan.

Sabtu, 4 Juli 2026
A A
Ilustrasi rempah Nusantara. Foto Prithpalbhatia9/Pixabay.com.

Ilustrasi rempah Nusantara. Foto Prithpalbhatia9/Pixabay.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Yaya memaparkan salah satu hasil temuannya terhadap potensi daun salam (Syzygium polyanthum) sebagai bahan sanitasi alami untuk pangan. Produk pangan sangat rentan terkontaminasi bakteri maupun jamur yang dapat menyebabkan penyakit bawaan pangan (foodborne illness). Selama ini, industri pangan umumnya menggunakan bahan kimia sebagai sanitizer, namun penggunaan dalam jangka panjang mendorong perlunya pengembangan alternatif yang lebih aman dan ramah lingkungan.

Dalam penelitiannya, Yaya menemukan ekstrak daun salam mampu menghambat pertumbuhan berbagai jenis bakteri, jamur, dan ragi yang menjadi penyebab kontaminasi pangan. Selain efektif menekan pertumbuhan mikroorganisme, ekstrak tersebut juga bekerja dengan merusak dinding sel mikroorganisme sehingga menghambat perkembangannya.

Temuan ini menunjukkan tanaman rempah tidak hanya memiliki nilai sebagai bumbu masakan, tetapi juga berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber senyawa antimikroba alami.

Penggunaan ekstrak daun salam sebagai sanitizer tidak mengubah warna, tekstur, maupun aroma bahan pangan. Bahkan, efektivitasnya dalam mengendalikan pertumbuhan mikroorganisme tetap terjaga selama proses penyimpanan.

Berdasarkan hasil tersebut, Yaya menilai ekstrak daun salam berpotensi dikembangkan sebagai bahan sanitasi alami untuk mencuci bahan pangan sekaligus membantu memperpanjang masa simpan produk.

“Temuan ini menunjukkan ekstrak daun salam memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai sanitizer alami dalam penanganan bahan pangan serta mencegah kerusakan pangan selama penyimpanan,” kata dia.

Menurut Ketua Konsorsium Biologi Indonesia (KOBI) sekaligus Dekan Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada, Prof. Budi Daryono, kekayaan genetik rempah nusantara perlu terus dijaga melalui penguatan riset molekuler, bioprospeksi, dan konservasi sumber daya genetik. Upaya tersebut tidak hanya penting untuk melestarikan biodiversitas rempah Indonesia, tetapi juga menjadi fondasi dalam pengembangan pangan fungsional, produk farmasi berbahan alam, serta bioekonomi berkelanjutan yang mampu meningkatkan nilai tambah komoditas rempah Indonesia di tingkat global.

Budi menyebutkan salah satu komoditas endemik rempah yang perlu dilestarikan adalah pala Sangihe. Penelitian yang dilakukan berhasil mengidentifikasi lima morfotipe utama pala Sangihe, yaitu bulat tebal, bulat tipis, oval tebal, oval tipis, dan biji kembar (twin seed). Temuan tersebut menjadi data dasar yang penting untuk mendukung konservasi.

“Melalui pendekatan morfologi dan analisis molekuler, kami dapat memahami keragaman genetik rempah sebagai dasar konservasi dan pengembangan varietas unggul,” ujar Budi.

Rempah Nusantara bukan sekadar warisan sejarah, tetapi juga sumber daya strategis yang harus terus dikembangkan melalui riset agar memberikan manfaat bagi kesehatan, industri, dan kesejahteraan masyarakat. [WLC02]

Sumber: UGM

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: Fakultas Biologi UGMKOBIRempah NusantaraRentan Penyakit

Editor

Next Post
Asap masih membumbung dalam kebakaran TPA Jatiwaringin di Tangerang, akhir Juni 2026. Foto Dok. KLH/BPLH.

Kebakaran TPA Jatiwaringin Bukti Tata Kelola Sampah Nasional Gagal, Waste to Energy Tetap Jalan

Discussion about this post

TERKINI

  • Dampak diberlakukannya penutupan TPA Piyungan mulai 23 Juli hingga 5 September, sejumlah tumpukan sampah mulai terlihat di Kota Yogyakarta. Foto Forpi Kota Yogyakarta.Proyek PSEL Yogyakarta Ditunda, Mengapa Konsorsium Pemenang Tender Sudah Diumumkan?
    In News
    Selasa, 21 Juli 2026
  • Ilustrasi regenerasi pohon. Foto Agnieszka/Pixabay.com.Mekanisme Regenerasi Pohon dan Nilai Spiritual Ekologis dalam Al-Qur’an
    In IPTEK
    Senin, 20 Juli 2026
  • Kebakaran di TPA Benowo di Surabaya, 19 Juli 2026. Foto Dok. DKPKP Surabaya.TPA Benowo Terbakar, Risiko Sistem Pemrosesan Sampah Open Dumping
    In Bencana
    Senin, 20 Juli 2026
  • Mengenal orangutan tapanuli. Foto Dok PPID Kemenlhk.Survei Terbaru Populasi Orangutan Sumatera dan Tapanuli Jadi Pijakan Kebijakan Konservasi
    In News
    Sabtu, 18 Juli 2026
  • Tanah longsor di Desa Petir, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, Mei 2026. Foto BPBDKabupaten Bogor.Pulau Jawa Hadapi Tekanan Ekologis, Negara Harus Hentikan Perampasan Ruang Hidup
    In News
    Kamis, 16 Juli 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media