Yaya memaparkan salah satu hasil temuannya terhadap potensi daun salam (Syzygium polyanthum) sebagai bahan sanitasi alami untuk pangan. Produk pangan sangat rentan terkontaminasi bakteri maupun jamur yang dapat menyebabkan penyakit bawaan pangan (foodborne illness). Selama ini, industri pangan umumnya menggunakan bahan kimia sebagai sanitizer, namun penggunaan dalam jangka panjang mendorong perlunya pengembangan alternatif yang lebih aman dan ramah lingkungan.
Dalam penelitiannya, Yaya menemukan ekstrak daun salam mampu menghambat pertumbuhan berbagai jenis bakteri, jamur, dan ragi yang menjadi penyebab kontaminasi pangan. Selain efektif menekan pertumbuhan mikroorganisme, ekstrak tersebut juga bekerja dengan merusak dinding sel mikroorganisme sehingga menghambat perkembangannya.
Temuan ini menunjukkan tanaman rempah tidak hanya memiliki nilai sebagai bumbu masakan, tetapi juga berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber senyawa antimikroba alami.
Penggunaan ekstrak daun salam sebagai sanitizer tidak mengubah warna, tekstur, maupun aroma bahan pangan. Bahkan, efektivitasnya dalam mengendalikan pertumbuhan mikroorganisme tetap terjaga selama proses penyimpanan.
Berdasarkan hasil tersebut, Yaya menilai ekstrak daun salam berpotensi dikembangkan sebagai bahan sanitasi alami untuk mencuci bahan pangan sekaligus membantu memperpanjang masa simpan produk.
“Temuan ini menunjukkan ekstrak daun salam memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai sanitizer alami dalam penanganan bahan pangan serta mencegah kerusakan pangan selama penyimpanan,” kata dia.
Menurut Ketua Konsorsium Biologi Indonesia (KOBI) sekaligus Dekan Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada, Prof. Budi Daryono, kekayaan genetik rempah nusantara perlu terus dijaga melalui penguatan riset molekuler, bioprospeksi, dan konservasi sumber daya genetik. Upaya tersebut tidak hanya penting untuk melestarikan biodiversitas rempah Indonesia, tetapi juga menjadi fondasi dalam pengembangan pangan fungsional, produk farmasi berbahan alam, serta bioekonomi berkelanjutan yang mampu meningkatkan nilai tambah komoditas rempah Indonesia di tingkat global.
Budi menyebutkan salah satu komoditas endemik rempah yang perlu dilestarikan adalah pala Sangihe. Penelitian yang dilakukan berhasil mengidentifikasi lima morfotipe utama pala Sangihe, yaitu bulat tebal, bulat tipis, oval tebal, oval tipis, dan biji kembar (twin seed). Temuan tersebut menjadi data dasar yang penting untuk mendukung konservasi.
“Melalui pendekatan morfologi dan analisis molekuler, kami dapat memahami keragaman genetik rempah sebagai dasar konservasi dan pengembangan varietas unggul,” ujar Budi.
Rempah Nusantara bukan sekadar warisan sejarah, tetapi juga sumber daya strategis yang harus terus dikembangkan melalui riset agar memberikan manfaat bagi kesehatan, industri, dan kesejahteraan masyarakat. [WLC02]
Sumber: UGM







Discussion about this post