Sabtu, 5 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Jadi Bahan Farmasi Alami, Tanaman Rempah Nusantara Rentan Penyakit

Kondisi ini menjadi tantangan bagi para eksportir yang harus memastikan rempah-rempah yang dipasarkan memenuhi standar kesehatan melalui berbagai proses, seperti iradiasi dan pemanasan.

Sabtu, 4 Juli 2026
A A
Ilustrasi rempah Nusantara. Foto Prithpalbhatia9/Pixabay.com.

Ilustrasi rempah Nusantara. Foto Prithpalbhatia9/Pixabay.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Indonesia dikenal sebagai pusat perdagangan rempah dunia sejak ribuan tahun lalu dengan kekayaan plasma nutfah yang sangat berharga. Beberapa komoditas rempah unggulan, seperti pala, cengkeh, kapulaga, lada hitam, kayu manis, jahe, kunyit dan ketumbar menunjukkan tingginya keragaman morfologi dan genetik yang berpotensi dimanfaatkan untuk pengembangan varietas unggul.

Selain itu, hasil bioprospeksi juga mengungkap keberadaan senyawa bioaktif dalam pengembangan pangan fungsional, produk farmasi berbahan alam. Juga bioekonomi berkelanjutan yang mampu meningkatkan nilai tambah komoditas rempah Indonesia di tingkat global.

Namun keberadaan tanaman rempah perlu dilindungi dengan baik karena rentan terserang penyakit apabila tidak dipantau secara berkala. Mekanisme terjadinya penyakit pada tanaman pada dasarnya serupa dengan penyakit yang menyerang hewan, yakni sama-sama disebabkan oleh patogen seperti virus dan bakteri.

Prof. Chiharu dari Mie University, Jepang menjelaskan hasil tinjauan terhadap berbagai penelitian mengenai penyakit pada tanaman rempah di Indonesia.

“Dari sembilan jenis tanaman rempah yang dikaji, tercatat 34 jenis penyakit yang menyerang tanaman itu,” jelas dia dalam Seminar Nasional Biologi Tropik ke-10 berkolaborasi dengan International Conference on Nusantara Spices and Biodiversity (ICNSB) mengusung tema “Reviving the Glory of Nusantara Spices through Biodiversity Research and Sustainable Innovation” di Fakultas Biologi UGM, Rabu, 1 Juli 2026.

Sebagian besar pendataan penyakit pada tanaman rempah di Indonesia dilakukan sebelum tahun 1996. Akibatnya, informasi mengenai persebaran penyakit sudah banyak yang tidak lagi diperbarui. Perubahan nama ilmiah berbagai patogen membuat data penyakit yang lama menjadi lebih sulit ditelusuri.

Kondisi ini menjadi tantangan bagi para eksportir yang harus memastikan rempah-rempah yang dipasarkan memenuhi standar kesehatan melalui berbagai proses, seperti iradiasi dan pemanasan. Pembaruan data penyakit tanaman perlu terus dilakukan agar dapat membantu petani dan pelaku usaha dalam mengelola produksi rempah.

Penyakit yang disebabkan jamur masih menjadi tantangan utama dalam budidaya tanaman rempah, terutama seiring perubahan sistem budidaya. Pengendalian penyakit memerlukan diagnosis yang akurat melalui pengamatan di lapangan. Ia juga menegaskan pentingnya pembaruan data taksonomi dan inventarisasi patogen agar upaya pengendalian penyakit dan pengembangan metode diagnosis dapat dilakukan secara lebih efektif.

“Penyakit pada tanaman rempah bukan hanya menjadi persoalan di tingkat lokal, tetapi juga merupakan isu global,” kata dia.

Daun salam jaga kerusakan pangan

Prof. Yaya dari Universiti Putra Malaysia berfokus pada berbagai isu terkait rempah-rempah, meliputi penyakit dan senyawa toksik yang terdapat pada rempah-rempah, hasil-hasil penelitian terkini, serta potensi rempah-rempah Indonesia sebagai warisan dunia dan sumber daya bioekonomi masa depan.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Fakultas Biologi UGMKOBIRempah NusantaraRentan Penyakit

Editor

Next Post
Asap masih membumbung dalam kebakaran TPA Jatiwaringin di Tangerang, akhir Juni 2026. Foto Dok. KLH/BPLH.

Kebakaran TPA Jatiwaringin Bukti Tata Kelola Sampah Nasional Gagal, Waste to Energy Tetap Jalan

Discussion about this post

TERKINI

  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
  • Pantomimer Wanggi Hoed melakukan aksi pertunjukan untuk memprotes ekspor monyet ekor panjang pada Hari Primata Interasional di Titik Nol Kota Yogyakarta, 2 september 2026. Foto Dok. Forum United For Primates .Petisi untuk Pemerintah Indonesia: Hentikan Ekspor Monyet Ekor Panjang untuk Penelitian!
    In News
    Rabu, 2 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media