Wanaloka.com – Indonesia dikenal sebagai pusat perdagangan rempah dunia sejak ribuan tahun lalu dengan kekayaan plasma nutfah yang sangat berharga. Beberapa komoditas rempah unggulan, seperti pala, cengkeh, kapulaga, lada hitam, kayu manis, jahe, kunyit dan ketumbar menunjukkan tingginya keragaman morfologi dan genetik yang berpotensi dimanfaatkan untuk pengembangan varietas unggul.
Selain itu, hasil bioprospeksi juga mengungkap keberadaan senyawa bioaktif dalam pengembangan pangan fungsional, produk farmasi berbahan alam. Juga bioekonomi berkelanjutan yang mampu meningkatkan nilai tambah komoditas rempah Indonesia di tingkat global.
Namun keberadaan tanaman rempah perlu dilindungi dengan baik karena rentan terserang penyakit apabila tidak dipantau secara berkala. Mekanisme terjadinya penyakit pada tanaman pada dasarnya serupa dengan penyakit yang menyerang hewan, yakni sama-sama disebabkan oleh patogen seperti virus dan bakteri.
Prof. Chiharu dari Mie University, Jepang menjelaskan hasil tinjauan terhadap berbagai penelitian mengenai penyakit pada tanaman rempah di Indonesia.
“Dari sembilan jenis tanaman rempah yang dikaji, tercatat 34 jenis penyakit yang menyerang tanaman itu,” jelas dia dalam Seminar Nasional Biologi Tropik ke-10 berkolaborasi dengan International Conference on Nusantara Spices and Biodiversity (ICNSB) mengusung tema “Reviving the Glory of Nusantara Spices through Biodiversity Research and Sustainable Innovation” di Fakultas Biologi UGM, Rabu, 1 Juli 2026.
Sebagian besar pendataan penyakit pada tanaman rempah di Indonesia dilakukan sebelum tahun 1996. Akibatnya, informasi mengenai persebaran penyakit sudah banyak yang tidak lagi diperbarui. Perubahan nama ilmiah berbagai patogen membuat data penyakit yang lama menjadi lebih sulit ditelusuri.
Kondisi ini menjadi tantangan bagi para eksportir yang harus memastikan rempah-rempah yang dipasarkan memenuhi standar kesehatan melalui berbagai proses, seperti iradiasi dan pemanasan. Pembaruan data penyakit tanaman perlu terus dilakukan agar dapat membantu petani dan pelaku usaha dalam mengelola produksi rempah.
Penyakit yang disebabkan jamur masih menjadi tantangan utama dalam budidaya tanaman rempah, terutama seiring perubahan sistem budidaya. Pengendalian penyakit memerlukan diagnosis yang akurat melalui pengamatan di lapangan. Ia juga menegaskan pentingnya pembaruan data taksonomi dan inventarisasi patogen agar upaya pengendalian penyakit dan pengembangan metode diagnosis dapat dilakukan secara lebih efektif.
“Penyakit pada tanaman rempah bukan hanya menjadi persoalan di tingkat lokal, tetapi juga merupakan isu global,” kata dia.
Daun salam jaga kerusakan pangan
Prof. Yaya dari Universiti Putra Malaysia berfokus pada berbagai isu terkait rempah-rempah, meliputi penyakit dan senyawa toksik yang terdapat pada rempah-rempah, hasil-hasil penelitian terkini, serta potensi rempah-rempah Indonesia sebagai warisan dunia dan sumber daya bioekonomi masa depan.







Discussion about this post