Baca juga: Prevalensi Penderita Kusta di DIY Terendah, Tapi Tiap Bulan Ada Pasien Baru
Peneliti The Habibie Center, Ansori menambahkan penanganan kusta tidak dapat dilihat hanya dari sisi medis. Faktor sosial turut memiliki pengaruh besar terhadap keberhasilan pengendalian penyakit ini.
“Banyak orang yang sebenarnya sudah mengetahui dirinya terkena kusta, tetapi memilih menyembunyikannya karena takut terhadap konsekuensi sosial,” ujar Ansori.
Stigma dan diskriminasi membuat penderita enggan berobat, sehingga berdampak pada keterlambatan deteksi dan proses penyembuhan.
Sementara WHO Goodwill Ambassador for Leprosy Elimination, Yohei Sasakawa menyebut Indonesia memiliki peran penting dalam upaya penanganan kusta secara global.
Baca juga: Legislator Kritik Seremonial Bantuan Menteri di Aceh, Puluhan Kampung Masih Terisolasi
“Eliminasi kusta tidak hanya tentang pengobatan medis, tetapi juga tentang menghapus stigma dan memulihkan martabat manusia,” kata Sasakawa.
Melalui ajakan tersebut, mereka menegaskan pentingnya peran masyarakat untuk tidak ragu memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala kusta. Penanganan agar dapat dilakukan lebih cepat dan efektif. [WLC02]
Sumber: Kementerian Kesehatan






Discussion about this post