Migrasi manusia modern dari Afrika menuju Asia Tenggara tidak berlangsung dalam satu gelombang tunggal, tetapi melalui tahapan panjang dan jalur yang beragam. Salah satu teori yang berkembang adalah teori migrasi pesisir (coastal migration theory), yakni perpindahan manusia melalui kawasan pantai yang menyediakan sumber pangan melimpah dan jalur mobilitas yang lebih mudah dibanding wilayah pedalaman.
“Pada masa glasial, permukaan laut turun sehingga membentuk daratan luas yang menghubungkan wilayah-wilayah di Asia Tenggara. Kondisi ini memungkinkan mobilitas manusia, flora, dan fauna di Paparan Sunda,” ujar dia.
Wilayah timur Paparan Sunda memiliki posisi strategis karena menjadi penghubung menuju Wallacea dan Sahul atau Australia-Papua. Sejumlah situs arkeologi di Kalimantan menunjukkan keberadaan manusia modern sejak sekitar 45.000–30.000 tahun lalu, di antaranya melalui temuan alat batu, sisa fauna, dan bukti hunian gua.
Namun penelitian migrasi manusia awal di Asia Tenggara masih menghadapi tantangan berat, terutama akibat kondisi iklim tropis yang menyebabkan fosil sulit terawetkan.
“Tingkat keasaman tanah yang tinggi mempercepat kerusakan tulang dan kolagen sehingga menyulitkan proses penanggalan absolut,” jelas dia.
Solusinya, dilakukan penelitian lanjutan melalui survei geofisika, analisis sedimen, dan berbagai metode penanggalan modern guna memperoleh data lebih akurat mengenai migrasi manusia prasejarah di kawasan Paparan Sunda.
Perlu penelitian lanjutan
Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra (OR Arbastra) BRIN, Herry Yogaswara menyampaikan tema ini sangat krusial karena berkaitan erat dengan upaya memahami dinamika awal peradaban manusia di Nusantara.
Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah melalui pembentukan Center for Human Evolution, Adaptation, and Dispersal in Southeast Asia (CHEADSEA) yang saat ini telah mendapatkan perhatian resmi dari Unesco.
“Melalui forum akademik dan lembaga kajian seperti ini, diharapkan muncul berbagai inspirasi baru serta penguatan kolaborasi riset terkait migrasi manusia prasejarah,” ujar Herry.
Sementara Ketua Perkumpulan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI), Sektiadi menggarisbawahi, penelitian mengenai migrasi manusia masa lalu tidak boleh hanya terpaku pada pembahasan perpindahan populasi semata. Riset modern harus mampu memetakan bagaimana penyebaran budaya, teknologi, bahasa, hingga pembentukan identitas sosial terjadi.
Dalam konteks tersebut, Sektiadi menilai kawasan Sumatra dan Kalimantan memegang posisi geografis sangat strategis dalam jalur migrasi purba di Asia Tenggara.
“Melalui integrasi penelitian multidisipliner yang menggabungkan arkeologi, antropologi, dan genetika, kami dapat memahami utuh bagaimana manusia masa lalu beradaptasi terhadap perubahan lingkungan dan membangun kebudayaannya,” urai Sektiadi. [WLC02]
Sumber: BRIN






Discussion about this post