Kamis, 24 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Josaphat Tetuko Sri Sumantyo, Penemu Radar Pemantau Bencana hingga Teroris

Teknologi penginderaan jauh menjadi salah satu andalan negara-negara maju. Lantaran teknologi itu pula, suatu negara bisa menguasai dunia. Mengapa?

Selasa, 19 Juli 2022
A A
Prof. Josapath Tetuko Sri Sumantyo. Foto itb.ac.id.

Prof. Josapath Tetuko Sri Sumantyo. Foto itb.ac.id.

Share on FacebookShare on Twitter

“Kita mempunyai populasi penduduk seperempat dunia. Sudah sewajarnya kita dapat menguasai setidaknya seperempat porsi dunia di segala bidang, khususnya ilmu pengetahuan dan teknologi,” tegas Prof. Josh, panggilan akrabnya.

Keunggulan lain sensor SAR adalah dapat menghasilkan informasi intensitas, fase, dan polarisasi. Meskipun hanya tiga parameter, berbagai informasi turunannya dapat digunakan untuk monitoring bencana, pertanian dan perkebunan, perikanan, infrastruktur, pemetaan sumber daya alam dan pemukiman, serta mendukung one map policy, tracking pelintas batas negara, antiteroris, dan sebagainya.

Baca Juga: 100 Desa di Kabupaten Garut Terdampak Bencana Hidrometeorologi

Contoh aplikasi SAR yang sudah dikembangkan di laboratoriumnya adalah pemanfaatan CP-SAR untuk mendeteksi pesawat terbang yang lebih detail dan akurat dibandingkan radar bandara konvensional saat ini. Nantinya, aplikasi SAR tersebut dapat dimanfaatkan untuk modernisasi radar bandara sebagai pengatur lalu lintas udara.

Penerapan SAR interferometri untuk kebencanaan, khususnya di wilayah Indonesia, telah diinisiasi sejak tahun 1999 dengan menggandeng berbagai pihak di Indonesia, khususnya para staf di Prodi Teknik Geodesi dan Geomatika ITB. Hasil kerja sama tersebut mampu menggambarkan fenomena penurunan tanah, kebakaran hutan, hingga pemantauan letusan gunung berapi yang kerap terjadi.

Teknologi penginderaan jauh, menurut Josapath menjadi kunci untuk mengefisiensikan pengelolaan bangsa dan negara ini.

“Semoga teknologi ini dapat terus dikembangkan dan lanjutkan oleh para peneliti muda kita. Hasil karya orang Indonesia ini diharapkan dapat berkontribusi bagi dunia untuk menjaga lingkungan dan keamanan global sehingga teknologi penginderaan jauh Indonesia dapat menjadi kiblat bagi negara-negara lain. Tentunya, ini menjadi kunci negara kita untuk memimpin dunia,” ucap Josapath. [WLC02]

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: Chiba UniversityCP-SARkeamanan globalProf. Josapath Tetuko Sri Sumantyoradarteknologi penginderaan jauh

Editor

Next Post
Pusat gempa Papua dengan kekuatan magnitudo 5,3  terjadi hari ini, Selasa malam, 19 Juli 2022. Foto bmkg.go.id

Gempa Terkini Magnitudo 5,3 Terjadi di Papua

Discussion about this post

TERKINI

  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media