Minggu, 18 Oktober 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar

Kita gagal memitigasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) 2026, yang diperburuk dengan krisis iklim Godzilla El Nino. Kini, dampak kegagalan itu menyengsarakan satwa ikonik Indonesia, Orangutan Kalimantan, dan wilayah kunci biodiversitas Indonesia.

Kamis, 3 September 2026
A A
Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.

Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.

Share on FacebookShare on Twitter

Dari 22.744 titik api  yang terdeteksi di seluruh Kalimantan, sebanyak 17.865 titik atau 78,5% berada di dalam wilayah habitat orangutan. Berdasarkan hasil analisis terhadap areal terbakar selama periode pemantauan, terdapat sekitar 25.812.699 ha yang terbakar atau sekitar 60,2 persen berada di dalam wilayah habitat Orangutan dari total wilayah habitat orangutan yaitu seluas 42.831.834 ha.

Geopix menegaskan, temuan ini menunjukkan bahwa karhutla memiliki keterpaparan yang sangat besar terhadap habitat Orangutan Kalimantan, sehingga kebakaran tidak hanya menjadi ancaman terhadap tutupan hutan, tetapi juga berpotensi mengganggu sumber pakan, pohon sarang, konektivitas habitat, dan keberlangsungan populasi orangutan.

Dari hasil analisa matriks kerentanan orangutan terhadap karhutla dengan variabel interaksi antara jumlah populasi dan tingkat hotspot, terungkap bahwa setiap wilayah memerlukan prioritas konservasi  berbeda: Kuadran II seperti Muller-Schwaner, Western Schwaner, dan Seruyan-Sampit menjadi wilayah paling kritis karena populasi kecil menghadapi titik api yang  tinggi sehingga  membutuhkan respons darurat karhutla; Kuadran III seperti Belayan-Senyiur, Beratus, dan Sabangau memiliki ancaman relatif rendah sehingga difokuskan pada pemantauan dan restorasi; sementara Kuadran IV seperti Rungan River, Katingan, dan Gunung Palung merupakan kantong populasi penting yang harus diprioritaskan untuk pencegahan kebakaran dan perlindungan habitat. Kuadran I saat ini belum terisi, tetapi menjadi skenario terburuk jika hotspot meningkat ekstrem pada wilayah dengan populasi orangutan yang tersisa.

”Kita semua telah gagal memitigasi bencana ini, bahkan mungkin masih mencoba bermain api dengan berbagai upaya pelemahan perlindungan hutan yang membuat masyarakat dan satwa-satwa ikonik Indonesia kehilangan haknya atas lingkungan yang sehat,” kata Annisa.

Dia menekankan, yang paling penting saat ini adalah memadamkan api dan menyelamatkan habitat Orangutan sebanyak mungkin yang tersisa, sekaligus mengurangi dampak langsungnya terhadap manusia maupun Orangutan.

“Namun segera setelah krisis ini berakhir, ada pekerjaan rumah yang puluhan tahun belum selesai, yaitu memutus mata rantai karhutla dengan penegakan hukum yang tegas tanpa kompromi terhadap siapapun, korporasi manapun yang terlibat maupun lalai dalam mencegah karhutla. Semakin nyata bahwa perlindungan ekosistem hutan yang tersisa di Kalimantan dan seluruh Indonesia, tidak boleh hanya sekedar omon-omon. Agar kebakaran hutan dan lahan secara masif tidak terulang kembali dan berupaya secepat mungkin memulihkan ekosistem yang rusak di Kalimantan,” katanya.

Geopix mendesak agar dilakukan survei ulang menyeluruh terhadap habitat dan populasi Orangutan Kalimantan pasca kebakaran untuk mengetahui kerusakan aktual, kondisi populasi, ketersediaan pakan dan bahan sarang, serta perubahan-perubahan signifikan lainnya yang berpengaruh terhadap habitat Orangutan Kalimantan.

“Hasilnya harus segera menjadi dasar “reset” PHVA Orangutan Kalimantan, karena data dasar konservasi sebelumnya berpotensi menjadi tidak relevan lagi. Kami juga mendesak Pemerintah agar menyusun Rencana Aksi Darurat Penyelamatan Populasi dan Habitat Orangutan Kalimantan yang mencakup penyelamatan dan pemantauan populasi, perlindungan habitat dan koridor, pencegahan kebakaran berulang, penegakan hukum, serta pemulihan ekosistem .” pungkas Annisa. [WLC01]

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: Habitat OrangutanKarhutlaKarhutla BorneoOrangutan kalimantanPulau Kalimantan

Editor

Next Post
Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.

Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae

Discussion about this post

TERKINI

  • Kondisi Desa Sei Gita, Kecamatan Mantangai, Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah, diselimuti kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada Selasa, 13 Oktober 2026. Foto Dok Borneo Is Burning.Mitigasi Krisis Iklim, Suhu Permukaan Meningkat Tren Curah Hujan Menurun
    In Lingkungan
    Sabtu, 17 Oktober 2026
  • Ratusan Perempuan Adat dari berbagai wilayah Nusantara berkumpul dalam Temu Nasional (Temunas) IV di Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Foto Dok Perempuan AMAN.Temunas IV Perempuan AMAN: Perempuan Adat Perkuat Kepemimpinan dan Kedaulatan
    In News
    Jumat, 16 Oktober 2026
  • Gedung KPK | kpk.go.id.OTT KPK di BNPB, Kepala BNPB Langsung Diganti
    In News
    Kamis, 15 Oktober 2026
  • Dampak karhutla, wilayah Kota Palembang, Provinsi Sumatra Selatan, diselimuti kabut asap pada Kamis, 8 Oktober 2026. Foto BNPB.Respons Protes Negara Jiran Dampak Karhutla, Prabowo Perintahkan Penanganan Optimal
    In Bencana
    Selasa, 13 Oktober 2026
  • Bencana banjir dan tanah longsor di Kabupaten Gayo Lues, Provinsi Aceh, yang terjadi pada Jumat, 9 Oktober 2026. Foto BPBD Kabupaten Gayo Lues.Bencana Banjir dan Longsor Landa Aceh dan Sumatra Barat Ratusan Penduduk Mengungsi
    In Bencana
    Senin, 12 Oktober 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media