Selain untuk penyerapan karbon, Alfredo menekankan pentingnya pendekatan ekonomi sirkular sehingga CO₂ yang ditangkap dapat diubah menjadi biomassa bernilai ekonomi tinggi. Produk turunan mikroalga mencakup lipid untuk biofuel, pigmen untuk industri kosmetik, serta karbohidrat unik yang berpotensi dikembangkan di bidang farmasi dan kesehatan.
Sebagai bentuk hilirisasi riset, tim ITB juga mengembangkan konsep phototank atau “pohon cair” yang memanfaatkan mikroalga sebagai sistem pembersih udara dalam ruangan, yang estetik menyerupai furnitur dan memperindah interior.
Baca juga: Tinjauan Lingkungan Hidup 2026, Tak Ada yang Aman dari Ancaman Kerusakan Lingkungan
Basis data ilmiah untuk kebijakan iklim nasional
Alfredo menekankan pentingnya data kuantitatif untuk memastikan kapasitas mikroalga dalam menyerap CO₂ dapat dijadikan rujukan kebijakan berbasis sains.
“Kami sedang menghitung seberapa banyak mikroalga ini menangkap CO2 dengan peralatan yang sudah ada. Suatu saat kami berharap ini bisa menjadi standar,” jelas dia.
Proses pendataan yang bekerja sama dengan UGM itu diharapkan dapat mendukung pemerintah dalam perumusan kebijakan iklim, termasuk skema pajak karbon.
Ia optimistis Indonesia dapat memitigasi perubahan iklim melalui teknologi dalam negeri. Kekayaan biodiversitas lokal dinilai telah menyediakan solusi yang relevan. Dalam pengembangan mikroalga sebagai solusi iklim, diperlukan kolaborasi sains dasar, rekayasa, industri, dan kebijakan agar riset dapat bertransformasi menjadi inovasi yang berdampak luas bagi masyarakat. [WLC02]
Sumber: ITB







Discussion about this post