Waste to energy tetap jalan
Wakil Menteri Lingkungan Hidup/Wakil Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Diaz Hendropriyono meninjau langsung lokasi kebakaran Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin di Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, Sabtu, 4 Juli 2026. Langkah tanggap darurat ini diambil guna memastikan optimalisasi penanganan di lapangan sekaligus menegaskan kesiapsiagaan nasional bagi seluruh kepala daerah dalam mengantisipasi lonjakan risiko kebakaran infrastruktur pengelolaan sampah akibat fenomena iklim ekstrem El Nino di seluruh penjuru Indonesia.
“Pak Menteri Jumhur sudah mengeluarkan surat edaran kepada kepala daerah untuk mengantisipasi, WMO sudah memberikan warning bahwa El Nino ini akan lebih gawat lagi. Artinya, kita harus antisipasi akan ada potensi kebakaran lain di TPA di seluruh Indonesia, surat edaran ini merincikan hal-hal apa yang perlu dilakukan oleh kepala daerah di daerah masing-masing mengantisipasi El Nino,” kata Diaz.
Ia menjanjikan prioritas utama adalah keselamatan warga yang tinggal di sekitar TPA Jatiwaringin, Desa Jatiwaringin, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang.
“Arah angin bisa berubah setiap saat, saat ini ke arah timur, mungkin besok bisa ke arah barat. Masalahnya, kalau angin ini ke arah barat, banyak pemukiman. Kami bicara juga dengan Pak Bupati, sudah melakukan antisipasi untuk pengecekkan ISPA, penanganan pengungsian ketika arah angin nanti berubah,” papar dia.
Indikasi kepulan asap pertama kali terpantau warga sekitar sejak 28 Juni 2026 dan puncaknya terjadi pada 30 Juni 2026. Menanggapi situasi kritis yang berpotensi meluas ke daerah lain, KLH/BPLH menekankan pentingnya kepatuhan kepala daerah terhadap instruksi pencegahan yang telah diterbitkan secara resmi oleh pemerintah pusat guna meredam dampak buruk cuaca panas ekstrem.
“Hari ini, kami lihat kebakaran sudah hari ke-5 dan memang pemadaman ini bukan hal yang mudah ya. Ini karakteristiknya seperti kebakaran lahan gambut karena mungkin di atasnya sudah terlihat padam tapi ketika lihat di bagian bawahnya masih ada api nya. Kapan saja bisa terus kebakar, ada CH4 nya, bisa ada potensi ledakan juga,” kata dia.
Dari sisi KLH/BPLH, sejumlah upaya telah dilakukan untuk mendukung proses pemadaman, termasuk monitoring melalui drone serta pemantauan kualitas udara di sekitar TPA.
“Kami sudah minta dilakukan koordinasi dengan pihak bandara dan pihak TNI AU agar bisa melakukan monitoring analisa melalui drone secara berkala, kami juga sudah deploy 2 mobile monitoring system untuk memonitor beberapa hal seperti SO2 (sulfur dioxide), NO2 (nitrogen dioxide), PM 10, PM 2.5 yang kita lihat sudah di atas baku mutu,” kata Diaz.
Meskipun terjadi kebakaran TPA, Diaz memastikan program prioritas Presiden, yakni waste-to-energy (WTE) akan tetap berjalan dan memerlukan dukungan Bupati agar lahan yang dialokasikan tetap terjaga.
“Tanah yang dialokasikan untuk WTE agar tidak digunakan untuk hal-hal lain. Kami harus mendorong program Bapak Presiden yang sangat baik ini, tetap dijaga terus oleh bupati, demi sukseskan program Presiden,” kata dia. [WLC02]







Discussion about this post