Rabu, 22 Juli 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Bogor Tak Lagi Sedingin Dulu, Indonesia Sudah Masuk Fase Krisis Iklim

Kondisi inilah yang menyebabkan peningkatan risiko cuaca ekstrem, kekeringan, banjir, serta ancaman terhadap ketahanan pangan dan kesehatan masyarakat.

Senin, 6 Juli 2026
A A
Ilustrasi suhu tinggi akibat krisis iklim. Foto Geralt/Pixabay.com.

Ilustrasi suhu tinggi akibat krisis iklim. Foto Geralt/Pixabay.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Masyarakat yang tinggal di Bogor – yang dikenal sebagai Kota Hujan dengan udara yang relatif sejuk- beberapa waktu terakhir mulai merasakan perubahan cukup signifikan. Suhu udara siang hari terasa lebih terik, bahkan mencapai kisaran 32–34 derajat Celsius dan hujan turun lebih jarang dibandingkan biasanya. Apakah cuaca panas yang terjadi di Bogor masih tergolong normal atau menjadi pertanda perubahan iklim yang semakin nyata?

Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Givo Alsepan menjelaskan peningkatan suhu udara di Bogor merupakan hasil kombinasi berbagai faktor. Mulai dari fenomena iklim global, pemanasan global, hingga perubahan tutupan lahan akibat pesatnya urbanisasi.

“Secara klimatologis, suhu udara rata-rata di wilayah Bogor berkisar antara 25,5 hingga 27 derajat Celsius. Dalam periode tertentu, kondisi tersebut dapat berubah akibat pengaruh fenomena iklim global, terutama El Nino-Southern Oscillation (ENSO),” ujar Givo.

ENSO merupakan fenomena interaksi laut dan atmosfer di Samudra Pasifik tropis yang terdiri atas dua fase, yakni El Nino dan La Nina. Ketika El Nino terjadi, suhu permukaan laut di Pasifik bagian tengah dan timur menjadi lebih hangat sehingga pusat pembentukan awan bergeser ke arah timur Pasifik. Dampaknya, pasokan uap air ke Indonesia berkurang dan curah hujan cenderung menurun.

Dan saat ini, El Nino sedang berkembang di Samudra Pasifik tropis dan diprediksi berlangsung hingga akhir tahun 2026. Pergeseran awan dari wilayah Indonesia menuju Pasifik menyebabkan tutupan awan berkurang sehingga radiasi matahari lebih banyak mencapai permukaan bumi.

“Kondisi inilah yang menjadi salah satu penyebab masyarakat Bogor merasakan cuaca lebih panas dibanding biasanya,” jelas dia.

Namun, El Nino hanya menjadi pemicu jangka pendek. Di balik itu, terdapat persoalan yang lebih besar, yakni perubahan iklim global yang menyebabkan tren suhu terus meningkat dari tahun ke tahun.

Data klimatologi menunjukkan suhu rata-rata tahunan di wilayah Bogor mengalami tren peningkatan secara konsisten sejak sekitar tahun 1990 hingga saat ini. Pola tersebut sejalan dengan kenaikan suhu rata-rata bumi akibat pemanasan global.

“Perubahan iklim dapat dikatakan menjadi salah satu penyebab utama meningkatnya suhu udara di Bogor. Jika tidak ada upaya mitigasi yang serius, tren pemanasan ini akan terus berlanjut,” kata dia.

Selain dipengaruhi faktor global, perubahan bentang alam di Bogor juga memperparah kondisi tersebut. Berkurangnya ruang terbuka hijau dan semakin luasnya kawasan terbangun menyebabkan suhu permukaan meningkat sehingga memicu fenomena urban heat island atau pulau panas perkotaan.

Mengutip penelitian Nurwanda dan Honjo (2018), Givo menjelaskan ekspansi kawasan perkotaan di Bogor berlangsung sangat cepat, terutama pada periode 1997–2007. Perbedaan suhu antara kawasan urban dan suburban meningkat dari sekitar 1,36 derajat Celsius pada 1990 menjadi hampir 2,26 derajat Celsius pada 2017.

Kondisi ini menunjukkan pembangunan perkotaan yang tidak diimbangi dengan perlindungan ruang hijau akan semakin memperkuat dampak perubahan iklim di tingkat lokal. Menjaga tutupan vegetasi harus menjadi bagian dari strategi pembangunan kota.

Masyarakat dapat berkontribusi melalui penghijauan lingkungan dan penerapan bangunan yang lebih adaptif terhadap panas. Sementara pemerintah perlu memperkuat tata ruang berbasis iklim dan memperluas ruang terbuka hijau.

“Pohon merupakan solusi alami yang efektif untuk menurunkan suhu udara, mengurangi efek urban heat island, sekaligus meningkatkan kualitas lingkungan perkotaan,” kata dia.

Indonesia masuk fase krisis iklim

Tak hanya masyarakat Bogor, ancaman perubahan iklim dewasa ini semakin nyata dirasakan seluruh masyarakat Indonesia. Setelah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat periode 2023–2025 sebagai tiga tahun terpanas dalam sejarah pengamatan modern, Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) juga kembali memperingatkan bahwa suhu rata-rata global pada periode 2026–2030 diperkirakan berada pada kisaran 1,3–1,9 derajat Celcius di atas tingkat pra industri.

Kondisi inilah yang menyebabkan peningkatan risiko cuaca ekstrem, kekeringan, banjir, serta ancaman terhadap ketahanan pangan dan kesehatan masyarakat.

Dosen Departemen Geografi Lingkungan UGM, Emilya Nurjani menilai kondisi tersebut menunjukkan Indonesia telah memasuki fase krisis iklim yang membutuhkan langkah penanganan secara cepat dan terintegrasi.

“Dampaknya dapat mengakibatkan gangguan kehidupan manusia. Jadi bisa disebut krisis iklim, sehingga perlu tindakan segera,” ujar Emilya, Senin, 6 Juli 2026.

Dunia sebenarnya telah sepakat untuk menahan kenaikan suhu global agar tidak melampaui 1,5 derajat Celcius melalui Paris Agreement pada tahun 2015 silam. Nyatanya setelah satu dekade berjalan, target menahan kenaikan suhu tersebut hingga kini belum berhasil dicapai.

“Kenaikan suhu bumi yang terus berlangsung bukti berbagai upaya pengurangan emisi karbon yang dilakukan negara-negara di dunia belum mampu menekan laju pemanasan global secara signifikan,” tutur dia.

Padahal peningkatan suhu udara dapat menyebabkan kebutuhan air semakin tinggi, mempercepat penguapan, dan meningkatkan risiko kekeringan. Di sisi lain, pola hujan menjadi semakin sulit diprediksi sehingga awal musim hujan maupun kemarau mengalami pergeseran. Intensitas hujan ekstrem juga semakin meningkat sehingga memperbesar risiko terjadinya banjir, longsor, angin kencang, maupun gelombang tinggi.

Secara langsung memengaruhi berbagai sektor kehidupan, terutama pertanian yang menghadapi perubahan pola tanam, meningkatnya risiko gagal panen, munculnya kembali serangan hama, hingga penurunan produktivitas.

Dalam jangka pendek, perubahan iklim ekstrem dapat berdampak pada meningkatnya gangguan kesehatan masyarakat, kebutuhan air dan energi, serta menurunnya produktivitas pertanian. Sementara dalam jangka panjang, ancaman yang muncul jauh lebih kompleks, mulai dari melemahnya ketahanan pangan dan sumber daya air, kerusakan ekosistem, kenaikan muka air laut, hingga kerugian sosial dan ekonomi yang semakin besar.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB UniversityDepartemen Geografi Lingkungan UGMKearifan LokalKota BogorKrisis IklimUrban Heat IslandWMO

Editor

Next Post
Ilustrasi Tapir Asia. Foto Rdwittle/Pixabay.com.

Peran Ekologis Tapir, Si Penyebar Biji di Hutan Tropis

Discussion about this post

TERKINI

  • Dampak diberlakukannya penutupan TPA Piyungan mulai 23 Juli hingga 5 September, sejumlah tumpukan sampah mulai terlihat di Kota Yogyakarta. Foto Forpi Kota Yogyakarta.Proyek PSEL Yogyakarta Ditunda, Mengapa Konsorsium Pemenang Tender Sudah Diumumkan?
    In News
    Selasa, 21 Juli 2026
  • Ilustrasi regenerasi pohon. Foto Agnieszka/Pixabay.com.Mekanisme Regenerasi Pohon dan Nilai Spiritual Ekologis dalam Al-Qur’an
    In IPTEK
    Senin, 20 Juli 2026
  • Kebakaran di TPA Benowo di Surabaya, 19 Juli 2026. Foto Dok. DKPKP Surabaya.TPA Benowo Terbakar, Risiko Sistem Pemrosesan Sampah Open Dumping
    In Bencana
    Senin, 20 Juli 2026
  • Mengenal orangutan tapanuli. Foto Dok PPID Kemenlhk.Survei Terbaru Populasi Orangutan Sumatera dan Tapanuli Jadi Pijakan Kebijakan Konservasi
    In News
    Sabtu, 18 Juli 2026
  • Tanah longsor di Desa Petir, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, Mei 2026. Foto BPBDKabupaten Bogor.Pulau Jawa Hadapi Tekanan Ekologis, Negara Harus Hentikan Perampasan Ruang Hidup
    In News
    Kamis, 16 Juli 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media