Wanaloka.com – Fenomena sinkhole atau lubang runtuhan tanah yang terjadi di Sumatra Barat tidak dapat lagi dipandang sebagai kejadian alam semata. Kemunculan lubang runtuhan secara tiba-tiba di kawasan permukiman dan pertanian menjadi indikator nyata krisis tata kelola tanah dan air tanah yang selama ini luput dari perhatian.
Guru Besar Ilmu Tanah IPB University, Prof. Widiatmaka menjelaskan secara ilmiah sinkhole terbentuk akibat hilangnya kestabilan struktur tanah melalui proses pelindian (leaching) dan erosi bawah permukaan (piping). Proses ini terutama terjadi pada tanah bertekstur halus hingga sedang yang berada di atas batuan mudah larut atau lapisan berongga.
Curah hujan tinggi memang berperan sebagai pemicu. Namun penyebab utamanya adalah melemahnya struktur tanah akibat hilangnya partikel halus dari lapisan bawah. Rongga terbentuk secara perlahan, tetapi runtuhnya bisa sangat tiba-tiba.
“Banyak kasus, aktivitas manusia yang mengubah sistem air-tanah secara drastis memperparah kondisi tersebut,” kata Widiatmaka, Senin, 19 Januari 2026.
Baca juga: Longsor Terjang Bandung Barat, Delapan Tewas dan 82 Orang dalam Pencarian
Seperti pengambilan air tanah berlebihan, pembangunan drainase tanpa kajian hidrogeologi, serta pembebanan lahan tanpa perhitungan daya dukung tanah. Praktik-praktik itu mempercepat kegagalan struktur tanah.
Perubahan tata guna lahan merupakan faktor kunci yang kerap diabaikan. Alih fungsi hutan dan lahan bervegetasi menjadi kawasan terbangun atau pertanian intensif menghilangkan fungsi ekologis tanah sebagai penyangga air dan struktur.
“Hilangnya penutup vegetasi dan bahan organik tanah menurunkan agregasi tanah. Akibatnya, tanah kehilangan kohesi dan menjadi sangat rentan terhadap erosi internal melalui piping,” jelas dia.
Dalam kondisi tersebut, air hujan tidak lagi terdistribusi secara stabil, melainkan terkonsentrasi ke jalur tertentu di bawah permukaan. Aliran air terfokus inilah yang mempercepat pembentukan rongga dan melemahkan lapisan penutup tanah.
Baca juga: Catatan Jatam, Jejak Oligarki di Hulu, Daerah Aliran Sungai, dan Zona Rawan Bencana Sumatra
Widiatmaka menilai eksploitasi air tanah berlebihan menjadi faktor paling berbahaya karena bekerja seperti “bom waktu” di bawah permukaan. Penurunan muka air tanah secara cepat menghilangkan tekanan penyangga alami pada rongga bawah tanah. Sementara fluktuasi basah-kering berulang melemahkan kohesi tanah.
“Tanpa pengendalian ketat, pengambilan air tanah bukan hanya mengancam ketersediaan air, tetapi juga mengorbankan stabilitas lahan dan keselamatan manusia,” tegas dia.
Wilayah paling rentan
Di Indonesia, sinkhole paling berpotensi terjadi pada tanah bertekstur halus hingga sedang di kawasan karst (batu gamping) serta material vulkanik tua yang telah sangat lapuk. Kondisi ini banyak dijumpai di kawasan karst Gunung Sewu (DIY–Jawa Tengah), Maros–Pangkep (Sulawesi Selatan), Kendeng Utara dan Selatan (Jawa Tengah–Jawa Timur), Citatah–Padalarang (Jawa Barat), serta Sangkulirang–Mangkalihat (Kalimantan Timur).
Selain itu, wilayah dengan material vulkanik tua yang telah mengalami pelapukan intensif, seperti Cekungan Bandung dan sekitarnya, lereng gunung api tua di Jawa bagian tengah dan barat, serta beberapa kawasan di Sumatra bagian barat, juga memiliki potensi pembentukan sinkhole.
Baca juga: Jangan Hanya Cabut Izin, Walhi Desak 28 Perusahaan Pulihkan Lingkungan Sumatra
“Tanah-tanah ini umumnya berstruktur lemah, berporositas tinggi, dan miskin bahan organik, sehingga rentan mengalami amblesan ketika terjadi perubahan aliran air bawah tanah,” papar dia.
Sinkhole berdampak langsung pada keberlanjutan lahan, merusak infrastruktur, mengganggu drainase, serta menurunkan produktivitas pertanian. Dari sisi lingkungan, runtuhan tanah mengubah aliran air dan meningkatkan risiko pencemaran air tanah.






Discussion about this post