Dalam mitigasi, penanganan sinkhole tidak boleh bersifat reaktif. Identifikasi dan pemetaan kerentanan lahan harus dilakukan melalui kajian ilmiah terintegrasi, diperkuat dengan monitoring air tanah dan survei geofisika dangkal.
“Sinkhole adalah peringatan keras bahwa sistem tanah air kita sedang tidak sehat. Tanpa sinergi sains dan kebijakan, runtuhan tanah hanya tinggal menunggu waktu,” pungkas dia.
Baca juga: Arzyana Sunkar, Peran Perempuan dalam Gerakan Konservasi Berkelanjutan Tak Diakui
Air sinkhole mengandung bakteri E coli
Di sisi lain, masyarakat menganggap air dalam sinkhole di Sumatra Barat mengandung khasiat. mereka mengambil untuk mengonsumsinya, Padahal bakteri Escherichia coli (E coli) ditemukan dalam air sinkhole tersebut. Meski sebagian jenis E coli merupakan bakteri normal yang hidup di saluran pencernaan manusia, keberadaannya dalam air konsumsi menandakan pencemaran serius dan berpotensi menimbulkan penyakit.
Merebus air merupakan cara pencegahan dengan metode sterilisasi yang dapat membunuh bakteri. Persoalannya, berdasarkan laporan laboratorium kesehatan setempat, jumlah bakteri E coli yang ditemukan pada air sinkhole tersebut melebihi ambang batas aman untuk dikonsumsi.
“Sebaiknya masyarakat menghindari penggunaan air dari sinkhole, meskipun telah direbus,” tegas Dosen Fakultas Kedokteran IPB University, Aisyah Amanda Hanif.
Pencemaran air sinkhole sangat mungkin disebabkan aktivitas manusia maupun hewan. Kotoran manusia atau hewan yang terserap ke dalam tanah dapat mencemari air tanah maupun air permukaan, termasuk air yang mengisi lubang sinkhole.
Baca juga: Gugatan KLH Berpotensi Gagal, Walhi Desak Indonesia Punya Pengadilan Lingkungan
Selain berdampak langsung pada individu, penyakit infeksi pencernaan akibat bakteri ini juga bersifat menular. Penularan dapat terjadi apabila kebersihan tangan, air, dan makanan tidak terjaga dengan baik.
Tidak semua E coli berbahaya. Beberapa jenis tertentu bersifat patogen dan dapat menyebabkan gangguan kesehatan apabila masuk ke tubuh melalui air minum atau makanan yang terkontaminasi.
“E coli umumnya bakteri normal di saluran cerna, tetapi jenis tertentu dapat menyebabkan gangguan pencernaan jika dikonsumsi,” jelas dokter Ilmu Biomedik Mikrobiologi tersebut.
Risiko kesehatan utama akibat konsumsi air yang terkontaminasi E coli adalah infeksi gastrointestinal, yang ditandai gejala seperti diare, muntah, dan dapat berujung pada dehidrasi. Kondisi ini menjadi sangat berbahaya, terutama bagi anak-anak dan lanjut usia.
Baca juga: Baleg DPR Pertanyakan Keseriusan Politik Hukum Pembahasan RUU Masyarakat Adat
“Masyarakat berisiko mengalami penyakit infeksi pencernaan dengan risiko dehidrasi yang berbahaya, khususnya pada kelompok rentan,” ujar dia.
Ia mengapresiasi langkah pemerintah yang telah melakukan pengujian sampel air dan mengumumkan hasilnya kepada masyarakat. Ke depan, edukasi publik menjadi kunci penting dalam pencegahan dampak kesehatan.
Edukasi mengenai sumber air yang aman, gejala penyakit yang mungkin timbul, tanda bahaya, serta pertolongan pertama harus terus dilakukan. Selain itu, penyediaan sumber daya yang cukup di fasilitas kesehatan sekitar lokasi juga penting untuk mencegah keterbatasan tenaga kesehatan, alat medis, maupun obat-obatan. [WLC02]
Sumber: IPB University






Discussion about this post