Senin, 26 Oktober 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Baleg DPR Pertanyakan Keseriusan Politik Hukum Pembahasan RUU Masyarakat Adat

Kamis, 22 Januari 2026
A A
Desakan pengesahan RUU Masyarakat Adat. Foto Istimewa.

Desakan pengesahan RUU Masyarakat Adat. Foto Istimewa.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Sudah 16 tahun lebih Rancangan Undang-Undang (RUU) Masyarakat Hukum Adat ini dibahas. Badan Legislasi (Baleg) DPR RI mempertanyakan keseriusan politik hukum pembentukan RUU ini yang tak kunjung disahkan. Padahal pembahasan RUU yang disepakati lintas fraksi serta pemerintah tersebut telah berlangsung hampir 18 tahun.

Secara substansi tidak ada lagi perdebatan mendasar terkait RUU tersebut, termasuk soal nomenklatur. Seluruh pihak telah sepakat menggunakan istilah “Masyarakat Adat”. Dasar hukumnya pun jelas, yakni Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, Putusan Mahkamah Konstitusi.

Anggota Baleg, Siti Aisyah mengingatkan kesepakatan politik untuk mengesahkan RUU ini sebenarnya sudah sangat kuat. Hampir seluruh fraksi di DPR RI menyatakan dukungan, termasuk Fraksi PDI-Perjuangan, PKS, dan PKB. Bahkan, pemerintah dan Presiden Prabowo Subianto secara terbuka telah menyatakan persetujuan agar RUU tersebut segera menjadi undang-undang.

Politisi Fraksi PDI-Perjuangan ini justru menyoroti ada kontradiksi antara pernyataan politik dan realitas legislasi. Ia menilai DPR dan pemerintah seolah terus mengulang komitmen tanpa pernah menuntaskan pengesahan.

Baca juga: Catatan Walhi, RUU Pengelolaan Perubahan Iklim versi Pemerintah Lebih Pro Pasar

“Kesepakatan fraksi jelas, keinginan pemerintah jelas, Presiden setuju. Tetapi apa masalahnya hari ini ini nggak bisa diselesaikan?” tanya Siti dalam Rapat Panitia Kerja (Panja) Baleg DPR RI terkait RUU Masyarakat Hukum Adat yang menghadirkan para pakar di Gedung Nusantara I DPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu, 21 Januari 2026.

Dalam forum tersebut, Siti Aisyah secara terbuka juga mempertanyakan strategi politik hukum yang seharusnya ditempuh agar RUU Masyarakat Adat benar-benar dapat disahkan, bukan sekadar menjadi wacana tahunan di parlemen. Ia bahkan melontarkan pertanyaan kritis kepada para narasumber rapat Baleg.

“Saya bertanya sama narasumber, apa politik hukumnya, strategi yang harus kita buat agar RUU ini bisa menjadi undang-undang? Atau ini memang tidak mungkin menjadi undang-undang supaya kita nggak usah bahas lagi?” ucap dia.

Ia mengingatkan agar pembahasan RUU Masyarakat Adat tidak kembali mengulang pola lama: komitmen di depan publik, namun nihil hasil di meja legislasi.

Baca juga: Kementerian Kesehatan Sebut Superflu adalah Influenza Musiman

“Apakah akan menjadi seperti yang lalu, di depan kita ngomong ini harus menjadi undang-undang, dasar hukumnya jelas, keinginan fraksi jelas, keinginan pemerintah jelas, tetapi undang-undangnya tidak ada,” tandas legislator Dapil Riau II ini.

Di akhir keterangannya, ia menekankan perlu kesepakatan konkret lintas fraksi dan pemerintah mengenai politik hukum bersama, agar RUU Masyarakat Adat benar-benar lahir sebagai payung hukum perlindungan hak masyarakat adat di Indonesia.

“Jadi saya ingin strategi apa, politik hukum apa yang harus kita buat bersama-sama agar RUU masyarakat adat ini benar-benar menjadi undang-undang,” kata dia.

Perlindungan hak konstitusi

Tak hanya RUU Masyarakat Adat, pembahasan RUU Daerah Kepulauan juga sudah lebih dari 20 tahun. Anggota Baleg, Sa’adiyah Uluputty juga mendesak kedua RUU tersebut segera diselesaikan pada periode DPR RI saat ini. Penyelesaian itu bentuk tanggung jawab negara menghadirkan payung hukum yang kuat bagi masyarakat adat.

Baca juga: BMKG Prakirakan Curah Hujan Meningkat Hingga Akhir Januari

Ia menilai kehadiran payung hukum bagi masyarakat adat sudah sangat mendesak. Data yang disampaikan narasumber menjadi bukti nyata lemahnya perlindungan negara terhadap masyarakat hukum adat.

“Saya konsen dengan dua RUU ini, saya rasanya harus berjuang penuh agar RUU ini bisa selesai di periode ini,” tegas Saadiyah

Berdasarkan data yang disampaikan, ada wilayah adat yang hilang 11,7 juta hektare, 113 kasus kriminalisasi, perampasan wilayah adat di 109 komunitas seluas 3,8 juta hektare.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Aliansi Masyarakat Adat NusantaraBadan Legislasi DPR RIkeanekaragaman hayatiRUU Masyarakat AdatRUU Masyarakat Hukum Adat

Editor

Next Post
KLH/BPLH menggelar konferensi pers soal gugatan terhadap 6 perusahaan perusak lingkungan, 15 Januari 2026. Foto KLH/BPLH.

Gugatan KLH Berpotensi Gagal, Walhi Desak Indonesia Punya Pengadilan Lingkungan

Discussion about this post

TERKINI

  • Pertemuan 20 organisasi masyarakat sipil kawasan Asia Pasifik dalam Asia Pacific System Change Convergence 2026 di Yogyakarta, pada 17-21 Oktober 2026. Foto Istimewa.Organisasi Masyarakat Sipil Asia Pasifik Serukan Perubahan Sistem Mengakhiri Krisis Ekologis dan Ketidakadilan Global 
    In News
    Sabtu, 24 Oktober 2026
  • Aktivis Greenpeace Indonesia membentangkan spanduk raksasa di Monumen Selamat Datang, Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, pada Selasa, 20 Oktober 2026. Foto Greenpeace Indonesia.Dua Tahun Rezim Prabowo, Aktivis Greenpeace Bentangkan Spanduk ‘Bencana Makin Parah, Hidup Makin Susah’
    In News
    Selasa, 20 Oktober 2026
  • Bencana Sumatra. Foto Walhi.Tidak Tetapkan Bencana Sumatra Sebagai Bencana Nasional, Prabowo Digugat
    In News
    Senin, 19 Oktober 2026
  • Kondisi Desa Sei Gita, Kecamatan Mantangai, Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah, diselimuti kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada Selasa, 13 Oktober 2026. Foto Dok Borneo Is Burning.Mitigasi Krisis Iklim, Suhu Permukaan Meningkat Tren Curah Hujan Menurun
    In Lingkungan
    Sabtu, 17 Oktober 2026
  • Ratusan Perempuan Adat dari berbagai wilayah Nusantara berkumpul dalam Temu Nasional (Temunas) IV di Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Foto Dok Perempuan AMAN.Temunas IV Perempuan AMAN: Perempuan Adat Perkuat Kepemimpinan dan Kedaulatan
    In News
    Jumat, 16 Oktober 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media