Selasa, 21 April 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Kisah Para Peneliti Gempa Sumedang

Para peneliti dari berbagai instansi sesuai dengan keahliannya terjun ke lapangan untuk meneliti gempa Sumedang. Bukan dicari perbedaan, melainkan apapun hasilnya untuk kepentingan ilmu pengetahuan dan semesta.

Sabtu, 13 Januari 2024
A A
Peralatan tim BMKG yang meneliti gempa Sumedang. Foto Dok. BMKG.

Peralatan tim BMKG yang meneliti gempa Sumedang. Foto Dok. BMKG.

Share on FacebookShare on Twitter

“Namun masih ada kemungkinan kedua segmen tersebut menghasilkan sebuah gempa yang kekuatannya lebih tinggi, misalnya di atas Magnitudo 6.5. Namun tentu tidak kita harapkan terjadi,” kata Irwan.

Hanya saja, jika terjadi gempa Magnitudo 6.5, maka panjang segmennya bisa lebih dari 15 kilometer. Pertanyaan selanjutnya, apakah benar sumber gempa terjadi di ujung segmen Sesar Cileunyi-Tanjungsari?

Tim ITB pun masih akan meneliti lebih lanjut dari data spasial serta melakukan pengamatan melalui seismograf mengenai pemicu dari gempa Sumedang. Selain itu, tim juga akan meneliti soal kemungkinan gempa susulan serta potensi kebencanaan lainnya.

Baca Juga: Usai Status Awas, Gunung Lewotobi Laki-laki Erupsi Setinggi 2 Km

“Jadi untuk menjawab apakah memang ada segmen dari Sesar Cileunyi-Tanjungsari sebagai pemicu gempa Sumedang, ataukah ada sumber gempa yang berbeda, kami masih memerlukan penelitian yang lebih mendalam,” tutur Irwan.

Sempat pula muncul dugaan ada hubungan antara Sesar Cileunyi-Tanjungsari dengan aktivitas Sesar Lembang terkait gempa Sumedang. Sebab guncangan gempa tersebut dirasakan hingga Bandung, Lembang dan sekitarnya. Irwan pun memastikan sejauh ini Sesar Cileunyi-Tanjungsari tidak berkaitan dengan aktivitas sesar lainnya, termasuk Sesar Lembang.

“Jadi secara umum dua sesar tersebut memiliki karakter sendiri. Yang satu sesar mendatar, satu lagi terbilang sesar naik. Jadi dua sesar itu mempunyai parameter gempa serta periodesasi gempa yang berbeda. Secara teoritis keduanya tidak saling berkaitan,” papar Irwan.

Baca Juga: Status Gunung Marapi Naik Level Siaga, Waspadai Gas Beracun

Aktivitas Gempa Bumi Meningkat
Aktivitas gempa bumi di Indonesia terus meningkat dalam beberapa tahun terkahir. Data BMKG mencatat ada pola peningkatan aktivitas gempa bumi sejak tahun 2013 dengan rata-rata 10.000 kali dalam setahun. Guru Besar Geologi UGM, Prof. Wahyu Wilopo menyampaikan kondisi tersebut karena posisi Indonesia berada di kawasan Ring of Fire atau cincin api Pasifik dan pertemuan tiga lempeng tektonik dunia.

“Sebagian besar wilayah Indonesia merupakan derah rawan gempa bumi,” jelas dia dalam Kelas Sekolah Wartawan di UGM, Jumat, 12 Januari 2024.

Mengingat potensi bencana gempa bumi di Tanah Air besar, Wahyu mengingatkan penguatan mitigasi penting guna meminimalkan dampak bencana. Mitigasi awal harus dilakukan dengan penyusunan tata ruang berbasis informasi multi bahaya, khususnya gempa bumi.

Baca Juga: Walhi Jatim Serukan Perusak Pohon untuk Peraga Kampanye Ditindak Tegas

Ada empat prinsip pendekatan perencanaan di daerah rawan gempa bumi. Pertama, mengumpulkan informasi bahaya patahan aktif yang akurat. Kedua, rencanakan untuk menghindari bahaya zona patahan sebelum pengembangan dan pembagian ruang. Ketiga, mengambil pendekatan berbasis risiko di wilayah yang sudah dikembangkan atau ditempati. Keempat, komunikasikan risiko di kawasan terbangun pada zona patahan.

“Untuk daerah yang telah dihuni perlu ada penguatan gedung, peningkatan ketangguhan, dan kesiapsiagaan masyarakat,” terang Wahyu.

Baik Wahyu maupun Irwan sepakat, yang terpenting kini adalah bagaimana membuat masyarakat lebih peduli adanya potensi bencana ke depannya, melalui mitigasi bencana. Tentunya mitigasi bencana ini perlu adanya kolaborasi dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, lembaga penelitian, komunitas lokal, dan lain sebagainya. Guna meminimalisir risiko serta melindungi masyarakat dari dampak buruk bencana alam. Juga untuk mewujudkan ketangguhan masyarakat dalam menghadapi bencana. [WLC02]

Sumber: BMKG, ITB, UGM

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: BMKGgempa SumedangITBkawasan Ring of Firesesar Cileunyi-Tanjungsarisesar Lembang

Editor

Next Post
Ilustrasi tanggul laut raksasa. Foto

Menhan Gaungkan Giant Sea Wall, Walhi: Percepat Kerusakan Ekologis Pulau Jawa

Discussion about this post

TERKINI

  • Petani pasir lahan pantai di Kulon Progo tengah menyirami lahan cabenya. Foto Dok. Soetana Monang Hasibuan/Wanaloka.com.20 Tahun PPLP Kulon Progo, Menanam adalah Melawan Apa?
    In Sosok
    Minggu, 19 April 2026
  • Ilustrasi TPA open dumping. Foto khoinguyenfoto/pixabay.com.Praktik TPA Open Dumping Ditutup Akhir Juli 2026
    In News
    Sabtu, 18 April 2026
  • Ketebalan 'salju abadi' Pegunungan Jayawijaya, Papua tinggal 4 meter pada 2024. Foto Dok. BMKG.Salju Abadi Puncak Jaya akan Hilang, Kurangi Pemakaian Bahan Bakar Fosil
    In IPTEK
    Sabtu, 18 April 2026
  • Hari Hemofilia Sedunia. Foto satheeshsankaran/pixabay.com.Hemofilia, Penyakit Bangsawan Britania Raya yang Ditemukan Saat Anak Usai Sunat di Indonesia
    In Rehat
    Jumat, 17 April 2026
  • Komisi III DPR RI menggelar RDPU dengan petani Pino Raya. Foto Istimewa.Petani Pino Raya Ditembak dan Jadi Tersangka, DPR Janjikan Rapat Dengar Pendapat
    In News
    Jumat, 17 April 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media