Senin, 14 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Krisis Lingkungan yang Dibuat Rezim Saat Ini Dibayar Mahal Generasi Mendatang

Krisis yang terjadi saat ini adalah warisan yang sedang dibentuk. Jika tidak segera berubah, dalam hal ini kebijakan, maka kita terus menimbun utang ekologis yang akan diwariskan secara tidak adil.

Minggu, 7 Juni 2026
A A
Bencana ekologis di Sumatra. Foto Walhi.

Bencana ekologis di Sumatra. Foto Walhi.

Share on FacebookShare on Twitter

“Dari krisis lingkungan hari ini, kami bisa melihat bahwa negara tidak dijalankan dengan baik. Semua hanya label-label saja, green green. Mobil dan motor listrik, nge-chargenya pake listrik yang masih pakai batubara. Sama aja, tapi dari kerusakan sebesar ini, yang kritis juga makin banyak,” jelas Eky.

Patria menegaskan bahwa kerusakan yang mengakibatkan krisis hari ini adalah akibat dari pembangunan yang masih berorientasi pada pertumbuhan ekonomi. Pemerintahan Prabowo-Gibran menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen pada 2029. Namun, Walhi menilai target sangat berbahaya, karena berpotensi memperbesar tekanan terhadap lingkungan dan ruang hidup masyarakat.

“Pertumbuhan ekonomi 8 persen Prabowo-Gibran adalah kebijakan yang mendukung investasi dan ekspansi usaha. Sektor swasta digenjot untuk terus tumbuh karena menyumbang sekitar 90 persen aktivitas ekonomi nasional. Tapi, bagaimana dengan kita, petani, nelayan, masyarakat adat, yang sering kali terdampak negatif dari aktivitas sektor swasta tersebut?” ucap Patria.

Peringatan Hari Lingkungan Hidup harusnya menjadi pengingat bahwa krisis lingkungan tidak dapat diselesaikan hanya melalui label hijau semata. Untuk menghentikan krisis tersebut diperlukan perubahan arah pembangunan yang menempatkan keselamatan lingkungan dan rakyat sebagai prioritas utama.

Negara harus kembali ke mandat konstitusi bahwa lingkungan hidup adalah hak yang tidak boleh dirampas atas nama pertumbuhan ekonomi.

Jumhur: No Generation Left Behind

Setiap keputusan yang diambil hari ini akan menentukan kualitas lingkungan yang diwariskan kepada generasi mendatang. Dengan demikian, upaya menjaga Bumi tidak dapat dibebankan kepada satu kelompok atau satu generasi saja. Seluruh elemen masyarakat perlu bergerak bersama agar tidak ada generasi yang tertinggal dalam menghadapi maupun menikmati hasil pembangunan yang berkelanjutan.

Pesan tersebut menjadi salah satu penekanan dalam peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026. Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) menilai bahwa tantangan lingkungan hidup saat ini membutuhkan keterlibatan yang lebih luas, tidak hanya dari pemerintah, tetapi juga masyarakat dari berbagai kelompok usia dan latar belakang.

Menteri LH/Kepala BPLH, Moh Jumhur Hidayat, menegaskan bahwa keberhasilan menjaga lingkungan ditentukan kemampuan seluruh generasi untuk bergerak bersama dalam satu tujuan yang sama.

“Semangat No Generation Left Behind mengingatkan kita bahwa tidak boleh ada satu generasi pun yang tertinggal dalam menjaga lingkungan. Ini bukan hanya tugas pemerintah atau generasi muda, tetapi tanggung jawab bersama lintas generasi,” ujar Jumhur dalam Puncak Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 di Bumi Perkemahan dan Graha Wisata Pramuka, Cibubur, Sabtu, 6 Juni 2026.

Menurut Jumhur, setiap generasi memiliki peran yang berbeda namun saling melengkapi. Generasi yang lebih senior membawa pengalaman dan nilai-nilai kearifan dalam menjaga lingkungan, sementara generasi muda hadir dengan energi, kreativitas, dan inovasi untuk menjawab tantangan masa kini dan masa depan.

Pembangunan kesadaran lingkungan perlu dilakukan secara berkelanjutan melalui keluarga, sekolah, kampus, komunitas, hingga ruang-ruang publik. Dengan cara tersebut, kepedulian terhadap lingkungan tidak berhenti pada satu generasi, melainkan menjadi nilai yang terus diwariskan.

KLH/BPLH menilai bahwa upaya perlindungan lingkungan akan lebih kuat ketika menjadi gerakan bersama yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Tidak hanya sebagai penerima manfaat, masyarakat juga perlu menjadi bagian dari solusi melalui berbagai aksi dan inisiatif yang tumbuh dari lingkungan masing-masing.

Dalam konteks tersebut, generasi muda memiliki posisi penting sebagai penghubung yang mampu meneruskan nilai-nilai keberlanjutan sekaligus mendorong lahirnya berbagai inovasi lingkungan. Namun, perubahan yang berkelanjutan hanya dapat terwujud apabila didukung oleh kolaborasi antargenerasi yang kuat.

Bagi KLH/BPLH, lingkungan yang sehat merupakan hak setiap warga negara, baik generasi saat ini maupun generasi yang akan datang. Menjaga lingkungan bukan sekadar memenuhi kebutuhan hari ini, melainkan memastikan bahwa generasi mendatang tetap memiliki kesempatan yang sama untuk hidup, tumbuh, dan berkembang dalam lingkungan yang berkualitas.

Semangat No Generation Left Behind menjadi pengingat, bahwa masa depan lingkungan adalah tanggung jawab bersama. Apa yang diwariskan kepada generasi berikutnya tidak hanya berupa pembangunan dan kemajuan, tetapi juga kualitas bumi yang tetap terjaga untuk menopang kehidupan. [WLC02]

Sumber: Walhi, Kementerian Lingkungan Hidup

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: keadilan ekologisKrisis IklimWalhiWalhi Riau

Editor

Next Post
Kenaikan air laut di Pantai General Santos di Cotabato Selatan, Filipina pascagempa Davao M7,8, Senin, 8 Juni 2026. Foto Dok. @daryono_eq-talk/X.

Gempa Davao M7,8, Muka Air Laut Naik Terpantau di Mindanao hingga Kaltim

Discussion about this post

TERKINI

  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media