“Dari krisis lingkungan hari ini, kami bisa melihat bahwa negara tidak dijalankan dengan baik. Semua hanya label-label saja, green green. Mobil dan motor listrik, nge-chargenya pake listrik yang masih pakai batubara. Sama aja, tapi dari kerusakan sebesar ini, yang kritis juga makin banyak,” jelas Eky.
Patria menegaskan bahwa kerusakan yang mengakibatkan krisis hari ini adalah akibat dari pembangunan yang masih berorientasi pada pertumbuhan ekonomi. Pemerintahan Prabowo-Gibran menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen pada 2029. Namun, Walhi menilai target sangat berbahaya, karena berpotensi memperbesar tekanan terhadap lingkungan dan ruang hidup masyarakat.
“Pertumbuhan ekonomi 8 persen Prabowo-Gibran adalah kebijakan yang mendukung investasi dan ekspansi usaha. Sektor swasta digenjot untuk terus tumbuh karena menyumbang sekitar 90 persen aktivitas ekonomi nasional. Tapi, bagaimana dengan kita, petani, nelayan, masyarakat adat, yang sering kali terdampak negatif dari aktivitas sektor swasta tersebut?” ucap Patria.
Peringatan Hari Lingkungan Hidup harusnya menjadi pengingat bahwa krisis lingkungan tidak dapat diselesaikan hanya melalui label hijau semata. Untuk menghentikan krisis tersebut diperlukan perubahan arah pembangunan yang menempatkan keselamatan lingkungan dan rakyat sebagai prioritas utama.
Negara harus kembali ke mandat konstitusi bahwa lingkungan hidup adalah hak yang tidak boleh dirampas atas nama pertumbuhan ekonomi.
Jumhur: No Generation Left Behind
Setiap keputusan yang diambil hari ini akan menentukan kualitas lingkungan yang diwariskan kepada generasi mendatang. Dengan demikian, upaya menjaga Bumi tidak dapat dibebankan kepada satu kelompok atau satu generasi saja. Seluruh elemen masyarakat perlu bergerak bersama agar tidak ada generasi yang tertinggal dalam menghadapi maupun menikmati hasil pembangunan yang berkelanjutan.
Pesan tersebut menjadi salah satu penekanan dalam peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026. Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) menilai bahwa tantangan lingkungan hidup saat ini membutuhkan keterlibatan yang lebih luas, tidak hanya dari pemerintah, tetapi juga masyarakat dari berbagai kelompok usia dan latar belakang.
Menteri LH/Kepala BPLH, Moh Jumhur Hidayat, menegaskan bahwa keberhasilan menjaga lingkungan ditentukan kemampuan seluruh generasi untuk bergerak bersama dalam satu tujuan yang sama.
“Semangat No Generation Left Behind mengingatkan kita bahwa tidak boleh ada satu generasi pun yang tertinggal dalam menjaga lingkungan. Ini bukan hanya tugas pemerintah atau generasi muda, tetapi tanggung jawab bersama lintas generasi,” ujar Jumhur dalam Puncak Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 di Bumi Perkemahan dan Graha Wisata Pramuka, Cibubur, Sabtu, 6 Juni 2026.
Menurut Jumhur, setiap generasi memiliki peran yang berbeda namun saling melengkapi. Generasi yang lebih senior membawa pengalaman dan nilai-nilai kearifan dalam menjaga lingkungan, sementara generasi muda hadir dengan energi, kreativitas, dan inovasi untuk menjawab tantangan masa kini dan masa depan.
Pembangunan kesadaran lingkungan perlu dilakukan secara berkelanjutan melalui keluarga, sekolah, kampus, komunitas, hingga ruang-ruang publik. Dengan cara tersebut, kepedulian terhadap lingkungan tidak berhenti pada satu generasi, melainkan menjadi nilai yang terus diwariskan.
KLH/BPLH menilai bahwa upaya perlindungan lingkungan akan lebih kuat ketika menjadi gerakan bersama yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Tidak hanya sebagai penerima manfaat, masyarakat juga perlu menjadi bagian dari solusi melalui berbagai aksi dan inisiatif yang tumbuh dari lingkungan masing-masing.
Dalam konteks tersebut, generasi muda memiliki posisi penting sebagai penghubung yang mampu meneruskan nilai-nilai keberlanjutan sekaligus mendorong lahirnya berbagai inovasi lingkungan. Namun, perubahan yang berkelanjutan hanya dapat terwujud apabila didukung oleh kolaborasi antargenerasi yang kuat.
Bagi KLH/BPLH, lingkungan yang sehat merupakan hak setiap warga negara, baik generasi saat ini maupun generasi yang akan datang. Menjaga lingkungan bukan sekadar memenuhi kebutuhan hari ini, melainkan memastikan bahwa generasi mendatang tetap memiliki kesempatan yang sama untuk hidup, tumbuh, dan berkembang dalam lingkungan yang berkualitas.
Semangat No Generation Left Behind menjadi pengingat, bahwa masa depan lingkungan adalah tanggung jawab bersama. Apa yang diwariskan kepada generasi berikutnya tidak hanya berupa pembangunan dan kemajuan, tetapi juga kualitas bumi yang tetap terjaga untuk menopang kehidupan. [WLC02]
Sumber: Walhi, Kementerian Lingkungan Hidup






Discussion about this post