Kamis, 24 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Macan Tutul Rasi dan Slamet Ramadhan Diharapkan Berkembangbiak di Gunung Ciremai

Seekor macan tutul betina dilepasliarkan di TNG Ceremai dan diharapkan dapat berkembangbiak untuk meningkatkan populasinya.

Minggu, 6 Maret 2022
A A
Ilustrasi macan tutul. Foto R_Francoeur/pixabay.com.

Ilustrasi macan tutul. Foto R_Francoeur/pixabay.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Rasi juga menjalani proses habituasi selama satu bulan dan telah menunjukkan kesiapan untuk dilepasliarkan. Selain adaptasi perilaku Rasi untuk siap dilepasliarkan, habituasi yang dilakukan juga diperuntukan untuk memancing Slamet Ramadhan agar mendekat. Mengingat untuk memastikan perkembangannya dalam kondisi baik diharuskan untuk melepas GPS Collar.

Baca Juga: Dua Orang Tewas dalam Bencana Hidrometeorologi di Kota Manado   

Pada minggu kedua habituasi, perilaku Rasi terlihat aktif dan pola aktivitasnya sudah mulai terbentuk. Kondisi ini menunjukkan Rasi sudah mulai nyaman dengan calon tempat barunya.

Sampai saat ini, kualitas ekosistem kawasan TNGC dianggap baik. Berdasarkan hasil penafsiran citra SPOT 6 Resolusi 1 meter liputan pada 2018 dan 2019, kawasan TNGC didominasi oleh tutupan berhutan mencapai 80 persen dari seluruh luas kawasan. Macan tutul merupakan satwa kunci (key spesies) yang menjadi ikon kawasan TNGC yang memerlukan ekosistem alami sebagai habitatnya.

Direktur Bina Pengelolaan dan Pemulihan Ekosistem, Ditjen KSDAE Ammy Nurwati berharap kehadiran Rasi dan Slamet Ramadhan akan membuat macan tutul bisa berkembang biak dan bertambah populasinya.

“Biar ikon kawasan TNGC tetap ada,” kata Ammy. [WLC02]

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: GPS CollarGunung Ciremaihabituasimacan tutulPelepasliaran satwa

Editor

Next Post
Didik S. Setyadi. Foto unair.ac.id.

Didik S. Setyadi: Akar Masalah Konflik Rusia-Ukraina adalah Soal Minyak

Discussion about this post

TERKINI

  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media