Selasa, 20 Oktober 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Mangrove Atasi Penurunan Tanah dan Kenaikan Muka Laut di Pantura Jawa

Ekosistem mangrove memiliki kemampuan alami untuk menangkap dan mengakumulasi sedimen.

Selasa, 2 Juni 2026
A A
Konservasi Mangrove di Pesisir Semarang. Foto mangrovetag.com.

Konservasi Mangrove di Pesisir Semarang. Foto mangrovetag.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Mitigasi lewat ekosistem mangrove

Mangrove atau hutan bakau memiliki fungsi ekologis penting. Tidak hanya sebagai pelindung pesisir, juga sebagai perangkap sedimen yang mampu membantu mengurangi dampak penurunan muka tanah dan kenaikan muka air laut.

“Kemampuan mangrove dalam menangkap sedimen sangat dipengaruhi arus dan gelombang yang membawa material sedimen ke kawasan pesisir,” jelas Peneliti Pusat Riset Geoinformatika (PRGI) BRIN Gathot Winarso yang menyampaikan materi Pemanfaatan Penginderaan Jauh untuk Memahami Hubungan Mangrove dan Penurunan Muka Tanah (land subsidence).

Ekosistem mangrove memiliki kemampuan alami untuk menangkap dan mengakumulasi sedimen. Proses ini menjadi salah satu mekanisme penting dalam membantu mitigasi land subsidence di wilayah pesisir.

Melalui riset peran ekologis mangrove dan potensi teknologi satelit dalam pemantauan kawasan pesisir, ia menjelaskan kondisi mangrove di pantura Jawa yang menunjukkan peningkatan luas kawasan mangrove dalam beberapa dekade terakhir.

Berdasarkan data yang disampaikan, luas mangrove di Jawa Barat meningkat dari sekitar 5.000 hektar pada 2002 menjadi 12.000 hektar pada 2024. Sementara di Jawa Tengah meningkat dari sekitar 9.000 hektar pada 2000 menjadi 16.000 hektar pada 2024. Kemudian Jawa Timur meningkat dari sekitar 10.000 hektar pada 1980 menjadi 30.000 hektar pada 2024.

Teknologi penginderaan jauh memiliki peran strategis dalam penelitian mangrove. Melalui data satelit, peneliti dapat membedakan kawasan mangrove dan non-mangrove berdasarkan karakteristik reflektansi spektral vegetasi.

Lebih lanjut, disebutkan pemanfaatan citra satelit multispektral dan teknologi LIDAR juga membuka peluang untuk mengidentifikasi jenis mangrove, mengukur kerapatan kanopi, hingga memperkirakan stok karbon biru (blue carbon).

Penginderaan jauh memberikan peluang besar untuk memantau dinamika mangrove secara lebih efektif dan efisien. Termasuk untuk mendukung kajian karbon, kualitas ekosistem, serta mitigasi bencana pesisir.

Tantangan dalam interpretasi citra mangrove masih cukup besar, terutama dalam membedakan mangrove dengan vegetasi non-mangrove yang memiliki karakter visual serupa. Oleh karena itu, pemilihan kombinasi kanal spektral dan metode interpretasi menjadi faktor penting dalam menghasilkan pemetaan yang lebih akurat.

“Melalui riset yang komprehensif ini, kami berharap data penginderaan jauh yang dihasilkan tidak hanya berhenti sebagai dokumen ilmiah,” kata Gathot.

Di sisi lain dapat menjadi basis kebijakan (policy brief) yang krusial bagi pemerintah daerah, khususnya di sepanjang jalur Pantura Jawa, dalam merancang strategi adaptasi perubahan iklim dan perlindungan kawasan pesisir yang berkelanjutan. [WLC02]

Sumber: BRIN

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: Kenaikan Muka LautmangrovePantai Utara Jawapenurunan tanahPRGI BRIN

Editor

Next Post
Titik-titik bekas kemunculan api di rumah warga di Seyegan, Kabupaten Sleman, 30 Mei 2026. Foto Dok. Fakultas Teknik UGM.

Titik-titik Api Muncul di Rumah Warga Bekas Rawa yang Mengandung Metana

Discussion about this post

TERKINI

  • Bencana Sumatra. Foto Walhi.Tidak Tetapkan Bencana Sumatra Sebagai Bencana Nasional, Prabowo Digugat
    In News
    Senin, 19 Oktober 2026
  • Kondisi Desa Sei Gita, Kecamatan Mantangai, Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah, diselimuti kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada Selasa, 13 Oktober 2026. Foto Dok Borneo Is Burning.Mitigasi Krisis Iklim, Suhu Permukaan Meningkat Tren Curah Hujan Menurun
    In Lingkungan
    Sabtu, 17 Oktober 2026
  • Ratusan Perempuan Adat dari berbagai wilayah Nusantara berkumpul dalam Temu Nasional (Temunas) IV di Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Foto Dok Perempuan AMAN.Temunas IV Perempuan AMAN: Perempuan Adat Perkuat Kepemimpinan dan Kedaulatan
    In News
    Jumat, 16 Oktober 2026
  • Gedung KPK | kpk.go.id.OTT KPK di BNPB, Kepala BNPB Langsung Diganti
    In News
    Kamis, 15 Oktober 2026
  • Dampak karhutla, wilayah Kota Palembang, Provinsi Sumatra Selatan, diselimuti kabut asap pada Kamis, 8 Oktober 2026. Foto BNPB.Respons Protes Negara Jiran Dampak Karhutla, Prabowo Perintahkan Penanganan Optimal
    In Bencana
    Selasa, 13 Oktober 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media