Sabtu, 10 Oktober 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Titik-titik Api Muncul di Rumah Warga Bekas Rawa yang Mengandung Metana

Selasa, 2 Juni 2026
A A
Titik-titik bekas kemunculan api di rumah warga di Seyegan, Kabupaten Sleman, 30 Mei 2026. Foto Dok. Fakultas Teknik UGM.

Titik-titik bekas kemunculan api di rumah warga di Seyegan, Kabupaten Sleman, 30 Mei 2026. Foto Dok. Fakultas Teknik UGM.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Warga Dusun Kasuran, Kalurahan Margomulyo, Kecamatan Seyegan, Sleman, Mutfiana kali pertama menemukan titik api di rumahnya, Sabtu, 23 Mei 2026. Hari-hari berikutnya, titik kemunculan api terus bertambah hingga mencapai 65 titik. Berbagai perabot yang terbakar di beberapa penjuru rumah menjadi bukti sebaran titik api yang tersebar tidak menentu.

Tim Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE), Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada melakukan observasi perdana, Sabtu, 30 Mei 2026. Tim dipimpin Prof. Alva Edy Tontowi, kemudian Prof. Deendarlianto dari Departemen Teknik Mesin dan Industri (DTMI), Ahmad Agus Setiawan dari Departemen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika (DTNTF), Sarju Winardi dari Departemen Teknik Geologi dan Lingkungan (DTGL), serta Ashar Saputra dari Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan (DTSL).

Tim UGM bersama pakar Universitas Pembangunan Nasional Veteran, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi melakukan investigasi secara langsung guna meneliti faktor pemicu di kawasan rumah.

Api telah muncul sekitar 73 kali terhitung hingga observasi kedua dilakukan tim pakar, Senin, 1 Juni 2026. Dalam satu hari, api diperkirakan dapat muncul hingga 7-9 kali di dalam rumah tersebut.

Dalam observasi perdana, tim yang dipimpin Prof. Alva Edy Tontowi itu memeriksa beberapa area yang pernah mengalami kebakaran, seperti jaringan pipa air, umur, saluran pembuangan limbah, dan titik-titik kemunculan api. Kemunculan api erat kaitannya dengan unsur dalam segitiga api yang saling berinteraksi. Unsur-unsur tersebut meliputi panas, oksigen, dan bahan bakar atau berupa media.

“Posisi segitiga api itu masing-masing kondisi optimum dan di situlah akan menyala. Nah, menyalanya memang di media-media. Ada media kaos, dari plastik, dari lain-lain,” terang Alva.

Usai diidentifikasi, tim pakar turut menangkap informasi bahwa lokasi pemukiman tersebut merupakan bekas rawa yang lembab dan kaya material organik yang menghasilkan gas metana dalam jumlah besar. Dari sana, tim melakukan pengukuran lapangan menggunakan thermal gun.

Dosen Departemen Teknik Geologi, Sardju Winardi menerangkan, secara teori, air yang terkontaminasi metana tidak serta merta terbakar saat masih berada di bawah permukaan tanah karena memerlukan konsentrasi tertentu.

“Terbakar ketika air keluar ke permukaan dan berinteraksi dengan oksigen, metananya lepas. Lepasnya metana dari air itulah yang membuat dia terbakar,” papar Sardju.

Selain air limbah dan gas metana, pakar turut mengamati medan elektromagnetik di sekitar area rumah. Penyebab titik api tersebut telah dipastikan bukan berasal dari unsur kelistrikan. Sebab api dapat muncul secara spontan tanpa ada listrik sebagai pemantik.

Dalam kasus ini, air limbah diduga sebagai pemicu utama, sehingga tim pakar mengambil sampel air limbah, air dari pipa, dan sumur warga untuk diidentifikasi.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Fakultas Teknik UGMGas MetanaKabupaten Slemantitik api

Editor

Next Post
Salah satu dari 42 ekor harimau Sumatera yang tertangkap kamera trap di Bengkulu. Foto Dok. Kemenhut.

Krisis Konservasi Satwa, Hukum Ditegakkan Usai Gajah dan Harimau Mati

Discussion about this post

TERKINI

  • Aksi Hari Tani Nasional 2025 mengusung desakan reforma agraria, 24 September 2025. Foto KPA.Koalisi Masyarakat Sipil untuk Keadilan Agraria Kritik Penunjukan Kepala BRAN
    In News
    Jumat, 2 Oktober 2026
  • Pusat gempa dangkal 5,4 magnitudo di Pantai Timur Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan pada Kamis malam, 1 Oktober 2026. Foto tangkap layar BMKG.Gempa Dangkal di Laut Flores Kepulauan Selayar Dirasakan IV MMI
    In News
    Kamis, 1 Oktober 2026
  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media