Kamis, 4 Juni 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Titik-titik Api Muncul di Rumah Warga Bekas Rawa yang Mengandung Metana

Selasa, 2 Juni 2026
A A
Titik-titik bekas kemunculan api di rumah warga di Seyegan, Kabupaten Sleman, 30 Mei 2026. Foto Dok. Fakultas Teknik UGM.

Titik-titik bekas kemunculan api di rumah warga di Seyegan, Kabupaten Sleman, 30 Mei 2026. Foto Dok. Fakultas Teknik UGM.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Warga Dusun Kasuran, Kalurahan Margomulyo, Kecamatan Seyegan, Sleman, Mutfiana kali pertama menemukan titik api di rumahnya, Sabtu, 23 Mei 2026. Hari-hari berikutnya, titik kemunculan api terus bertambah hingga mencapai 65 titik. Berbagai perabot yang terbakar di beberapa penjuru rumah menjadi bukti sebaran titik api yang tersebar tidak menentu.

Tim Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE), Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada melakukan observasi perdana, Sabtu, 30 Mei 2026. Tim dipimpin Prof. Alva Edy Tontowi, kemudian Prof. Deendarlianto dari Departemen Teknik Mesin dan Industri (DTMI), Ahmad Agus Setiawan dari Departemen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika (DTNTF), Sarju Winardi dari Departemen Teknik Geologi dan Lingkungan (DTGL), serta Ashar Saputra dari Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan (DTSL).

Tim UGM bersama pakar Universitas Pembangunan Nasional Veteran, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi melakukan investigasi secara langsung guna meneliti faktor pemicu di kawasan rumah.

Api telah muncul sekitar 73 kali terhitung hingga observasi kedua dilakukan tim pakar, Senin, 1 Juni 2026. Dalam satu hari, api diperkirakan dapat muncul hingga 7-9 kali di dalam rumah tersebut.

Dalam observasi perdana, tim yang dipimpin Prof. Alva Edy Tontowi itu memeriksa beberapa area yang pernah mengalami kebakaran, seperti jaringan pipa air, umur, saluran pembuangan limbah, dan titik-titik kemunculan api. Kemunculan api erat kaitannya dengan unsur dalam segitiga api yang saling berinteraksi. Unsur-unsur tersebut meliputi panas, oksigen, dan bahan bakar atau berupa media.

“Posisi segitiga api itu masing-masing kondisi optimum dan di situlah akan menyala. Nah, menyalanya memang di media-media. Ada media kaos, dari plastik, dari lain-lain,” terang Alva.

Usai diidentifikasi, tim pakar turut menangkap informasi bahwa lokasi pemukiman tersebut merupakan bekas rawa yang lembab dan kaya material organik yang menghasilkan gas metana dalam jumlah besar. Dari sana, tim melakukan pengukuran lapangan menggunakan thermal gun.

Dosen Departemen Teknik Geologi, Sardju Winardi menerangkan, secara teori, air yang terkontaminasi metana tidak serta merta terbakar saat masih berada di bawah permukaan tanah karena memerlukan konsentrasi tertentu.

“Terbakar ketika air keluar ke permukaan dan berinteraksi dengan oksigen, metananya lepas. Lepasnya metana dari air itulah yang membuat dia terbakar,” papar Sardju.

Selain air limbah dan gas metana, pakar turut mengamati medan elektromagnetik di sekitar area rumah. Penyebab titik api tersebut telah dipastikan bukan berasal dari unsur kelistrikan. Sebab api dapat muncul secara spontan tanpa ada listrik sebagai pemantik.

Dalam kasus ini, air limbah diduga sebagai pemicu utama, sehingga tim pakar mengambil sampel air limbah, air dari pipa, dan sumur warga untuk diidentifikasi.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Fakultas Teknik UGMGas MetanaKabupaten Slemantitik api

Editor

Next Post
Salah satu dari 42 ekor harimau Sumatera yang tertangkap kamera trap di Bengkulu. Foto Dok. Kemenhut.

Krisis Konservasi Satwa, Hukum Ditegakkan Usai Gajah dan Harimau Mati

Discussion about this post

TERKINI

  • Ilustrasi ombak tinggi. Foto jpleni/pixabay.comLonjakan Ombak Bono di Pesisir Timur Riau Bisa Capai Kiloan Meter ke Daratan
    In News
    Kamis, 4 Juni 2026
  • Salah satu dari 42 ekor harimau Sumatera yang tertangkap kamera trap di Bengkulu. Foto Dok. Kemenhut.Krisis Konservasi Satwa, Hukum Ditegakkan Usai Gajah dan Harimau Mati
    In News
    Rabu, 3 Juni 2026
  • Titik-titik bekas kemunculan api di rumah warga di Seyegan, Kabupaten Sleman, 30 Mei 2026. Foto Dok. Fakultas Teknik UGM.Titik-titik Api Muncul di Rumah Warga Bekas Rawa yang Mengandung Metana
    In News
    Selasa, 2 Juni 2026
  • Konservasi Mangrove di Pesisir Semarang. Foto mangrovetag.com.Mangrove Atasi Penurunan Tanah dan Kenaikan Muka Laut di Pantura Jawa
    In Lingkungan
    Selasa, 2 Juni 2026
  • Pumma, alat deteksi tsunami dari BRIN. Foto Dok. BRIN.Pumma, Alat Deteksi Tsunami dan Rob Murah dan Realtime
    In IPTEK
    Senin, 1 Juni 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media