Wanaloka.com – Isu lingkungan dan keberlanjutan semakin menjadi perhatian di berbagai lini kehidupan, termasuk dalam ruang keagamaan. Konsep masjid ramah lingkungan kian mengemuka sebagai bagian dari upaya integratif antara nilai spiritual dan kepedulian ekologis dalam arsitektur Islam.
“Keterlibatan keagamaan dalam isu lingkungan bukanlah hal baru, melainkan menjadi bagian dari tanggung jawab spiritual dan sosial umat,” jelas Kepala Pusat Riset Agama dan Kepercayaan (PRAK) Badan Riset dan Inovasi nasional (BRIN), Aji Sofanudin dalam webinar “Masjid Eko-Teologi dan Arsitektur Masjid” yang diselenggarakan Pusat Riset Agama dan Kepercayaan (PRAK) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Selasa, 29 Juli 2025 di Kawasan Sains Sarwono Prawirohardjo, Jakarta.
“Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian riset dan kajian BRIN mengenai peran agama dalam menjaga lingkungan,” jelas Aji.
Baca juga: Menguak Asal Usul Penyu Indonesia Lewat Sidik Jari Genetik yang Berbeda
Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber internasional yang ahli di bidang arsitektur Islam dan studi lingkungan, yakni Nangkula Utaberta dari Universitas UCSI Malaysia dan Natsuki Chubachi dari Universitas Kyoto, Jepang. Keduanya memberikan kontribusi penting dalam menggagas pendekatan baru terhadap fungsi dan desain masjid berkelanjutan.
Kegiatan tersebut merupakan lanjutan dari webinar sebelumnya yang membahas agama hijau, sejarah kepercayaan, dan peran tradisi lokal dalam pelestarian alam.
Aji juga menyinggung soal peningkatan alokasi anggaran riset dari pemerintah yang dapat dimanfaatkan para peneliti untuk memperluas studi mereka, termasuk menjalin kolaborasi dengan peneliti luar negeri seperti Nangkula. Ia berharap BRIN bisa menjadi ruang produktif yang tidak hanya menyelenggarakan diskusi ilmiah, tetapi juga melahirkan aksi nyata dalam pengembangan masjid ramah lingkungan, baik dari sisi konsep spiritualitas maupun bentuk arsitektural.
Baca juga: Potensial Jadi Parfum Tropis Premium, Hilirisasi Kemenyan Harus Pertimbangkan Kelestarian Hutan
Rancang ulang fungsi masjid
Dalam presentasinya berjudul “Merekonstruksi Masjid Hijau: Antara Nilai dan Wacana yang Berpusat pada Objek”, Nangkula menjelaskan pentingnya meninjau ulang fungsi dan desain masjid agar tidak hanya sebagai bangunan fisik. Melainkan juga sebagai institusi keagamaan yang memiliki nilai sosial, spiritual, dan ekologis.
Melalui riset lapangan di Jakarta dan Kuala Lumpur, Nangkula menemukan mayoritas masjid di kota besar kurang dimanfaatkan secara maksimal. Sebanyak 85 persen masjid di Jakarta, hanya digunakan saat waktu salat Jumat. Sementara di Kuala Lumpur, angka pemanfaatan ruang masjid lebih rendah, hanya sekitar 2,2 persen.
“Masjid bukan hanya bangunan monumental, tetapi pusat kehidupan umat. Kita perlu bergeser dari pendekatan berpusat pada objek ke pendekatan berpusat pada nilai,” terang dia.
Baca juga: Catatan Walhi, Karhutla Berulang Bukti Negara Melindungi Korporasi Pembakar Hutan
Lebih lanjut, Nangkula menekankan pentingnya memperhatikan tiga pilar keberlanjutan: lingkungan, sosial, dan ekonomi dalam mendesain masjid. Ia juga menyoroti proyek-proyek arsitektur ramah lingkungan seperti masjid ramah perempuan, masjid anak muda, dan masjid tahan gempa sebagai contoh konkret penerapan prinsip ekoteologi.
Arsitektur masjid sebaiknya disesuaikan dengan konteks tropis dan sosial masyarakat Indonesia, bukan sekadar meniru tipologi bangunan Timur Tengah.
Discussion about this post