Sabtu, 28 Maret 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Masjid Ekoteologi, Tempat Ibadah Sekaligus Pelestari Lingkungan

Mayoritas masjid di kota besar kurang dimanfaatkan secara maksimal. Sebanyak 85 persen masjid di Jakarta hanya digunakan saat salat Jumat, sedangkan di Kuala Lumpur hanya sekitar 2,2 persen.

Sabtu, 2 Agustus 2025
A A
Masjid Al Muharram, salah satu masjid ramah lingkungan yang terletak di Bantul, DIY. Foto Gerakan Sedekah Sampah.

Masjid Al Muharram, salah satu masjid ramah lingkungan yang terletak di Bantul, DIY. Foto Gerakan Sedekah Sampah.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Isu lingkungan dan keberlanjutan semakin menjadi perhatian di berbagai lini kehidupan, termasuk dalam ruang keagamaan. Konsep masjid ramah lingkungan kian mengemuka sebagai bagian dari upaya integratif antara nilai spiritual dan kepedulian ekologis dalam arsitektur Islam.

“Keterlibatan keagamaan dalam isu lingkungan bukanlah hal baru, melainkan menjadi bagian dari tanggung jawab spiritual dan sosial umat,” jelas Kepala Pusat Riset Agama dan Kepercayaan (PRAK) Badan Riset dan Inovasi nasional (BRIN), Aji Sofanudin dalam webinar “Masjid Eko-Teologi dan Arsitektur Masjid” yang diselenggarakan Pusat Riset Agama dan Kepercayaan (PRAK) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Selasa, 29 Juli 2025 di Kawasan Sains Sarwono Prawirohardjo, Jakarta.

“Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian riset dan kajian BRIN mengenai peran agama dalam menjaga lingkungan,” jelas Aji.

Baca juga: Menguak Asal Usul Penyu Indonesia Lewat Sidik Jari Genetik yang Berbeda

Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber internasional yang ahli di bidang arsitektur Islam dan studi lingkungan, yakni Nangkula Utaberta dari Universitas UCSI Malaysia dan Natsuki Chubachi dari Universitas Kyoto, Jepang. Keduanya memberikan kontribusi penting dalam menggagas pendekatan baru terhadap fungsi dan desain masjid berkelanjutan.

Kegiatan tersebut merupakan lanjutan dari webinar sebelumnya yang membahas agama hijau, sejarah kepercayaan, dan peran tradisi lokal dalam pelestarian alam.

Aji juga menyinggung soal peningkatan alokasi anggaran riset dari pemerintah yang dapat dimanfaatkan para peneliti untuk memperluas studi mereka, termasuk menjalin kolaborasi dengan peneliti luar negeri seperti Nangkula. Ia berharap BRIN bisa menjadi ruang produktif yang tidak hanya menyelenggarakan diskusi ilmiah, tetapi juga melahirkan aksi nyata dalam pengembangan masjid ramah lingkungan, baik dari sisi konsep spiritualitas maupun bentuk arsitektural.

Baca juga: Potensial Jadi Parfum Tropis Premium, Hilirisasi Kemenyan Harus Pertimbangkan Kelestarian Hutan

Rancang ulang fungsi masjid

Dalam presentasinya berjudul “Merekonstruksi Masjid Hijau: Antara Nilai dan Wacana yang Berpusat pada Objek”, Nangkula menjelaskan pentingnya meninjau ulang fungsi dan desain masjid agar tidak hanya sebagai bangunan fisik. Melainkan juga sebagai institusi keagamaan yang memiliki nilai sosial, spiritual, dan ekologis.

Melalui riset lapangan di Jakarta dan Kuala Lumpur, Nangkula menemukan mayoritas masjid di kota besar kurang dimanfaatkan secara maksimal. Sebanyak 85 persen masjid di Jakarta, hanya digunakan saat waktu salat Jumat. Sementara di Kuala Lumpur, angka pemanfaatan ruang masjid lebih rendah, hanya sekitar 2,2 persen.

“Masjid bukan hanya bangunan monumental, tetapi pusat kehidupan umat. Kita perlu bergeser dari pendekatan berpusat pada objek ke pendekatan berpusat pada nilai,” terang dia.

Baca juga: Catatan Walhi, Karhutla Berulang Bukti Negara Melindungi Korporasi Pembakar Hutan

Lebih lanjut, Nangkula menekankan pentingnya memperhatikan tiga pilar keberlanjutan: lingkungan, sosial, dan ekonomi dalam mendesain masjid. Ia juga menyoroti proyek-proyek arsitektur ramah lingkungan seperti masjid ramah perempuan, masjid anak muda, dan masjid tahan gempa sebagai contoh konkret penerapan prinsip ekoteologi.

Arsitektur masjid sebaiknya disesuaikan dengan konteks tropis dan sosial masyarakat Indonesia, bukan sekadar meniru tipologi bangunan Timur Tengah.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: ekoteologiMasjid Muharrammasjid ramah lingkunganPRAK BRIN

Editor

Next Post
Homalomena renda berasal dari kawasan Tiang Pumpung, Kabupaten Merangin, Jambi. Foto Dok. ITB.

Tiga Spesies Baru Homalomena Ditemukan di Jambi, Sumatra Utara dan Riau

Discussion about this post

TERKINI

  • Westa, aplikasi pengelolaan sampah berbasis AI. Foto Dok. FEB UGM.Aplikasi Westa, Identifikasi Jenis dan Berat Sampah untuk Menghitung Emisi Karbon
    In IPTEK
    Sabtu, 14 Maret 2026
  • Seorang mahout memandikan gajah di aliran sungai kawasan Konservasi Gajah Tangkahan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Foto Soetana Hasby/Wanaloka.com.Instruksi Presiden untuk Selamatkan 21 Kantong Gajah yang Tersisa
    In News
    Sabtu, 14 Maret 2026
  • Dua perempuan menanam padi di sawah. Foto Wanaloka.com.Terdampak Perjanjian Dagang Timbal Balik Indonesia-USA, Perempuan Adat Melawan
    In Lingkungan
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Desakan pengesahan RUU Masyarakat Adat dalam Aksi Kamisan, 5 September 2024. Foto AMAN.Hari Masyarakat Adat Nasional, Tak Ada Alasan RUU Masyarakat Adat Tak Disahkan
    In Rehat
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Pengolahan sampah di PIAT UGM. Foto Dok. Humas UGM.Tragedi Bantargebang Akibat Pengelolaan Sampah Berorientasi pada Pembuangan
    In Lingkungan
    Kamis, 12 Maret 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media