Selain menggambarkan rotasi Bumi, foto tersebut juga menunjukkan kualitas langit malam di Timau yang relatif bebas polusi cahaya. Kondisi ini menjadi salah satu alasan BRIN membangun Observatorium Nasional Timau sebagai pusat observasi astronomi modern di Indonesia.
Tips memotret dengan DSLR
Untuk menghasilkan gambar yang bersih, pemotretan dilakukan sejak malam benar-benar gelap hingga menjelang fajar. Strategi ini dipilih untuk menghindari jejak cahaya satelit yang memantulkan sinar Matahari saat senja maupun menjelang pagi.
“Saat ini jumlah satelit di orbit semakin banyak, termasuk konstelasi satelit komunikasi seperti Starlink. Karena itu pemotretan dilakukan setelah gelap malam dan diakhiri sebelum fajar agar lintasan satelit tidak mengganggu hasil foto,” jelas dia.
Thomas juga membagikan tips bagi masyarakat yang ingin mencoba memotret jejak bintang secara mandiri. Teknik ini dapat dilakukan menggunakan kamera DSLR dengan lensa sudut lebar dan pengaturan manual.
Ia menyarankan agar kamera diarahkan ke utara atau selatan, menggunakan tripod yang stabil, serta memilih objek latar depan yang menarik seperti bangunan, pohon, atau bentang alam tertentu. Semakin lama durasi pemotretan, semakin panjang pula jejak bintang yang akan terekam.
Melalui dokumentasi ini, Thomas berharap masyarakat tidak hanya menikmati keindahan langit malam Indonesia, tetapi juga semakin memahami fenomena astronomi yang terjadi di atas kepala mereka setiap hari. Jejak bintang yang tampak berputar di langit bukanlah gerakan bintang itu sendiri, melainkan bukti visual bahwa planet tempat kita berpijak terus berputar tanpa henti.
Bagi dunia astronomi, foto tersebut menjadi pengingat bahwa ilmu pengetahuan dapat disampaikan dengan cara yang sederhana namun memikat. Dari Timau, masyarakat diajak menyaksikan salah satu gerakan paling fundamental di alam semesta, rotasi Bumi yang mengatur siang dan malam serta menggerakkan seluruh panorama langit yang dilihat setiap hari. [WLC02]
Sumber: BRIN






Discussion about this post