Selasa, 22 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Memotret Jejak Bintang yang Tampak Berputar dengan Kamera DSLR di Timau

Banyak orang menyaksikan Matahari terbit dan terbenam setiap hari, tetapi tidak menyadari bahwa fenomena tersebut sebenarnya terjadi karena Bumi berputar pada porosnya.

Jumat, 19 Juni 2026
A A
Potret jejak bintang yang tampak berputar di langit. Foto Dok. BRIN.

Potret jejak bintang yang tampak berputar di langit. Foto Dok. BRIN.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Hamparan langit malam yang jernih di kawasan Observatorium Nasional Timau, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali memperlihatkan pesonanya. Selama 10 jam penuh, Peneliti Ahli Utama Bidang Astronomi dan Astrofisika BRIN, Thomas Djamaluddin melakukan pemotretan langit malam untuk mengabadikan fenomena jejak bintang (star trail) yang tampak membentuk lingkaran mengelilingi kutub selatan langit dengan latar depan kubah Observatorium Nasional Timau.

Pemotretan dilakukan pada 18 Juni 2026 pukul 19.00 WITA hingga 19 Juni 2026 pukul 05.00 WITA menggunakan kamera DSLR. Dalam pratiknya, kamera hanya merekam sekitar tiga jam. Hasilnya menampilkan pola cahaya bintang yang membentuk lingkaran konsentris di langit selatan, menghasilkan pemandangan yang tidak hanya indah secara visual tetapi juga sarat makna ilmiah.

Menurut Thomas, pemotretan semacam ini sebenarnya bukan teknik yang rumit, namun jarang dilakukan karena membutuhkan kondisi cuaca yang sangat mendukung. Langit harus cerah sepanjang malam dan lokasi pengamatan harus minim gangguan cahaya maupun awan.

“Pemotretan selama 10 jam membutuhkan cuaca yang stabil semalaman. Kondisi seperti itu tidak selalu mudah diperoleh. Salah satu lokasi terbaik untuk melakukannya adalah Observatorium Nasional Timau yang memiliki kualitas langit malam sangat baik,” ujar Thomas, Jumat, 19 Juni 2026.

Tujuan utama pemotretan tersebut bukan sekadar menghasilkan foto yang menarik, melainkan memperlihatkan salah satu fenomena astronomi paling mendasar, yaitu rotasi Bumi. Banyak orang menyaksikan Matahari terbit dan terbenam setiap hari, tetapi tidak menyadari bahwa fenomena tersebut sebenarnya terjadi karena Bumi berputar pada porosnya.

“Jejak bintang menunjukkan fenomena rotasi Bumi yang jarang disadari publik. Terbit dan terbenamnya Matahari, Bulan, dan bintang-bintang sesungguhnya disebabkan oleh rotasi Bumi sekali dalam 24 jam,” jelas dia.

Pada pemotretan yang diarahkan ke utara atau selatan, jejak bintang akan tampak membentuk lingkaran. Lingkaran tersebut berpusat pada kutub langit, yaitu titik imajiner yang merupakan perpanjangan sumbu rotasi Bumi ke arah angkasa.

Karena Observatorium Nasional Timau berada di belahan Bumi selatan, pemotretan diarahkan ke langit selatan sehingga pola pergerakan bintang tampak mengelilingi kutub selatan langit. Posisi geografis ini menjadikan Timau sebagai salah satu lokasi ideal untuk mendokumentasikan fenomena tersebut.

Posisi Obsnas Timau yang berada di belahan selatan Bumi dinilai sangat baik untuk menampilkan jejak bintang yang mengelilingi kutub selatan langit. Kombinasi antara langit yang gelap dan lokasi observatorium menghasilkan dokumentasi yang sangat menarik.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: BRINKamera DSLRNusa Tenggara TimurObservatorium Nasional TimauThomas Djamaluddin

Editor

Next Post
Ilustrasi tawon yang berkoloni. Foto jcbeni.Pixabay.com.

Tawon yang Berkoloni Mengenali Wajah Manusia yang Mengganggunya

Discussion about this post

TERKINI

  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media