Jumat, 25 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Mengapa Tim Seismologi ITB Pasang 22 Seismograf Pascagempa Sumedang?

Gempa Sumedang mendapat perhatian sejumlah pakar untuk melakukan pemantauan seismologi.

Kamis, 4 Januari 2024
A A
Pemasangan seismograf pascagempa Sumedang. Foto Dok. Tim Seismologi ITB.

Pemasangan seismograf pascagempa Sumedang. Foto Dok. Tim Seismologi ITB.

Share on FacebookShare on Twitter

Mengapa Perlu Kajian Seismologi?
Badan Geologi dalam keterangan resminya memperkirakan keberadaan Sesar Cileunyi -Tanjungsari sebagai penyebab terjadinya rangkaian gempa di Sumedang. Namun untuk memastikan karakteristik dari fenomena gempa Sumedang masih dibutuhkan kajian lanjutan, salah satunya adalah kajian seismologi.

Sementara itu, gempa ketiga dengan kekuatan cukup besar, yakni M 4,8 terjadi pada pukul 20.34 WIB. Pusat gempa berada di darat sekitar 2 kilometer arah timur laut Sumedang pada kedalaman 5 kilometer dan tergolong gempa dangkal. Berdasarkan mekanisme fokus sumber gempa yang diumumkan BMKG, gempa dipicu adanya pergerakan sesar aktif yang bergerak secara medatar (strike slip).

Terkait pemicu gempa, berdasarkan keterangan dari Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGen) pada tahun 2017, terdapat kemenerusan garis Sesar Tampomas dan Sesar Cileunyi-Tanjungsari. Namun sebaran 9 episentrum gempa berada di antara Sesar Tampomas dan Sesar Cileunyi-Tanjungsari. Kondisi tersebut mengindikasikan kebutuhan kajian seismologi lebih lanjut dengan merekam gempa susulan melalui jaringan pengamatan seismograf yang lebih rapat.

Baca Juga: Waspada Potensi Cuaca Ekstrem hingga 10 Januari 2024

Selain melakukan pemasangan seismograf, Tim Seismologi ITB juga melakukan kegiatan sosialisasi dan edukasi dengan perangkat desa yang menjadi lokasi penempatan peralatan seismograf. Upaya serupa pernah dilakukan Tim Seismologi ITB saat gempa Lombok tahun 2018, gempa Ambon tahun 2019, dan gempa Cianjur pada 21 November 2022.

Pantauan aktivitas seismik di wilayah Sumedang dan sekitarnya juga dilakukan BMKG. Juga berkoordinasi dengan pemerintah daerah setempat untuk memberi informasi dan edukasi kepada masyarakat terkait mitigasi bencana gempabumi. Masyarakat diimbau untuk memantau informasi terkini melalui aplikasi info BMKG dan kanal media sosial resmi guna mendapatkan update yang akurat.

“Gempa bumi Sumedang termasuk kategori gempa bumi dangkal dengan kedalaman 10 kilometer, yang menyebabkan kerusakan pada sejumlah rumah warga,” kata Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati didampingi Plt. Deputi Bidang Geofisika, Tim Kedeputian Geofisika beserta Tim UPT BMKG Jawa Barat saat meninjau lokasi terdampak gempa Sumedang. [WLC02]

Sumber: ITB, BMKG

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: aktivitas seismikBMKGGempa bumi dangkalgempa SumedangseismografTim Seismologi ITB

Editor

Next Post
Gerakan tanam pohon cemara udang di pesisir pantai di Kebumen. Foto ugm.ac.id.

Gerakan Mahasiswa UGM Tanam Pohon dari Gunung hingga Pesisir

Discussion about this post

TERKINI

  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media