Minggu, 5 Juli 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Mengenal Kain Lurik, Tak Sekadar Kain Bergaris

Kain lurik tak setenar kain batik. Meski motif bergaris, tetapi ternyata sarat makna. Apa sajakah itu?

Minggu, 13 November 2022
A A
Desain baju dari kain lurik karya Dosen UNY, Afif Ghurub Bestari. Foto uny.ac.id

Desain baju dari kain lurik karya Dosen UNY, Afif Ghurub Bestari. Foto uny.ac.id

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Ada dua jenis kain tradisional khas Jawa, yaitu batik dan lurik. Dari sisi ketenaran, kain lurik tak semendunia kain batik. Salah satu perbedaan khasnya terlihat pada corak kainnya.

Lurik berasal dari bahasa Jawa lorek atau larik yang artinya garis. Sesuai namanya, kain lurik bercorak garis-garis. Corak itu melambangkan kesederhanaan, kejujuran, pengarahan, kebijaksanaan dalam berpikir, bahkan kekuatan.

“Lurus dan kuat seperti garis,” kata Dosen Jurusan Pendidikan Teknik Boga dan Busana Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Afif Ghurub Bestari pada Agustus 2022.

Baca Juga: Penting, Pertolongan Pertama Psikologi Penyintas Pasca Bencana

Tidak hanya itu, ternyata setiap ukuran garis, warna dan corak juga mengisyaratkan kedalaman selera dan pola pikir masyarakat Jawa. Awalnya, kain lurik yang dihasilkan dari proses menenun menjadi bahan pakaian bagi masyarakat Jawa, yakni masyarakat awam.

Selain itu, kain lurik juga digunakan sebagai selendang, baik sebagai kemben (kain penutup dada untuk perempuan yang dikenakan dengan cara dililitkan), maupun sebagai alat untuk membawa (menggendong suatu benda atau anak dengan menempelkan kain lurik pada bahu).

Baca Juga: Fans Kpop Ajak Pemimpin Dunia Komitmen Lindungi Hutan, Bukan Memusnahkan

Kehadiran kain lurik sudah ada sejak zaman dahulu. Salah satu buktinya berupa penggambaran kain lurik pada relief candi Borobudur. Selain itu, terdapat pula Prasasti Raja Erlangga di Jawa Timur. Prasasti tersebut menyebutkan, bahwa kain Tuluh Watu merupakan salah satu nama dari kain lurik, yaitu kain dengan motif sederhana juga dipercaya sebagai simbol harapan, nasehat dan kekuatan. Lantaran itulah, kain lurik juga dikaitkan dengan makna pengobatan dan penyembuhan. Tak heran, banyak penjual jamu yang menggunakan atau memakai kain lurik pada masa itu.

Apa sajakah motif kain lurik di Yogyakarta?

Pertama, salah satu yang dikenal adalah kain lurik motif Udan Liris. Dalam bahasa Jawa, udan liris berarti hujan gerimis. Garis-garis yang terdapat pada motif lurik tidak sama ketebalannya. Ada bagian-bagian tertentu yang samar-samar menghilang. Begitu juga dengan jatuhnya rintik hujan. Sama seperti hujan yang diharapkan turun di lahan pertanian, motif ini melambangkan kesuburan dan kemakmuran.

Baca Juga: Tiga Gempa Guncang Garut Malam Ini

Kedua, motif Kluwung memiliki garis-garis lebar berbagai warna. Lurik ini dipercaya sebagai repellant (penolak bahaya) atau untuk meminimalisir aura negatif, sehingga muncul aura positif.

Ketiga, motif Sapit Urang yang merupakan simbol taktik pertempuran. Kain lurik motif itu sering digunakan untuk pakaian tentara. Garis geometris lurus kanan dan kiri diharapkan menjadi fokus pada gawang.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: inovasi barukain batikkain bergariskain lurikkain tradisional khas Jawalurikmotif lurik monotonUNY

Editor

Next Post
Malam tadi, Minggu, 13 November 2022, gempa dangkal guncang Purwakarta, Jawa Barat, dan Cilacap di Jawa Tengah, dalam waktu yang hampir bersamaan. Foto tangkap layar BMKG, pusat gempa dangkal di Purwakarta pada pukul 22.41 WIB.

Malam Tadi Gempa Dangkal Guncang Purwakarta dan Cilacap

Discussion about this post

TERKINI

  • Penggusuran PT BSMJ di wilayah adat Muara Tae, Kabupaten Kutai Barat untuk sawit. Foto Dok. Kaoem Telapak.Kaoem Telapak Desak Ekspansi Sawit di Wilayah Adat Muara Tae Dihentikan
    In News
    Sabtu, 27 Juni 2026
  • Bentang alam Masyarakat Adat Kasepuhan Pasir Eurih di Kecamatan Sobang, Kabupaten Lebak, Banten. Komunitas ini mempertahankan sistem zonasi tradisional sebagai dasar pengelolaan wilayah adat yang diwariskan. Foto Dok. WGII.Paradoks Penetapan Taman Nasional, Pengetahuan Hidup Masyarakat Adat Terancam Punah
    In Lingkungan
    Jumat, 26 Juni 2026
  • Laskar Talijiwo dari Pracimantoro, Wonogiri sampaikan penolakan tambang dan pabrik semen kepada Bupati Wonogiri, 25 Juni 2026. Foto Dok. Laskar Talijiwo.Temui Bupati Wonogiri, Laskar Talijiwo Sampaikan Tolak Tambang Gamping dan Pabrik Semen
    In News
    Jumat, 26 Juni 2026
  • Ilustrasi sampah organik dari sisa buah-buahan. Foto Artis Digital/pixabay.com.Temuan Ombudsman DIY, Aktivitas TPS 3R Sokowaten Tak Berizin dan Sebabkan Pencemaran
    In News
    Senin, 22 Juni 2026
  • Ilustrsi kunang-kunang. Foto Franciscojaviercorador/Pixabay.com.Kunang-Kunang Kian Langka, Tanda Kualitas Lingkungan Menurun
    In IPTEK
    Minggu, 21 Juni 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media