Arinana pun membagikan tips agar aman dari rayap antara lain tidak menyimpan koleksi baju di dalam lemari yang lembab, tanpa ada sirkulasi udara, dan tidak pernah dibuka. Sebab lemari atau ruang penyimpanan yang jarang dibuka menjadi lokasi yang disukai rayap.
“Sirkulasi udara dan pencahayaan membuat rayap merasa terganggu,” jelas dia.
Pencegahan serangan rayap dapat dimulai dengan menjaga kondisi rumah agar tidak lembap dan minim sirkulasi udara.
“Jangan lupa secara reguler lemari itu dibuka. Jangan sampai dokumen sudah diletakkan di situ, setahun tidak dibuka. Kondisi seperti itu sangat disukai rayap,” tutur dia.
Deteksi dini rayap
Perlindungan terhadap rumah tidak cukup hanya mengandalkan material tertentu atau wadah penyimpanan. Pengendalian rayap perlu dilakukan secara menyeluruh, baik pada bangunan maupun isi rumah.
Pengendalian dapat dilakukan sejak tahap pembangunan melalui metode prakonstruksi maupun setelah bangunan berdiri melalui metode pascakonstruksi. Salah satu cara yang umum diterapkan adalah pemasangan chemical barrier di bawah bangunan agar rayap tidak dapat masuk. Selain itu, dapat digunakan physical barrier berupa fondasi yang lebih tebal untuk menghambat pergerakan rayap.
Arinana mengingatkan masyarakat untuk segera melakukan pemeriksaan apabila menemukan tanda-tanda serangan rayap, seperti serbuk kayu, retakan, atau kayu yang terdengar kopong saat diketuk. Deteksi dan penanganan sejak dini jauh lebih efektif dibandingkan menangani kerusakan yang sudah parah.
Deteksi dini merupakan langkah penting untuk mencegah kerusakan yang lebih luas dan menghindari biaya perbaikan yang lebih besar. Dengan mengenali gejala awal serangan, masyarakat dapat segera melakukan tindakan pencegahan maupun pengendalian sebelum serangan rayap berkembang lebih parah.
Menjawab pertanyaan peserta mengenai mitos penebangan pohon pada musim tertentu, Agus menjelaskan pengaruh musim lebih terlihat pada bambu dibandingkan kayu. Bambu dengan kadar pati tinggi dan kadar air rendah cenderung lebih mudah diserang organisme perusak. Sedangkan pada kayu, pengaruh musim penebangan tidak memberikan dampak yang signifikan terhadap ketahanan material.
Dalam kesempatan yang sama, Agus juga memperkenalkan pemanfaatan bahan alami sebagai alternatif pengendalian rayap, di antaranya ekstrak biji sirsak dan biji srikaya. Bahan tersebut dapat diekstraksi menggunakan alkohol maupun air, kemudian diaplikasikan pada permukaan kayu untuk membantu melindungi material dari serangan rayap.
Biji dapat ditumbuk hingga halus, kemudian diekstraksi menggunakan alkohol 70 persen selama 24 jam atau direndam dalam air selama 48 jam sebelum disaring. Larutan hasil ekstraksi kemudian diaplikasikan pada kayu dengan cara dioleskan atau dikuaskan berulang kali agar bahan aktif dapat meresap secara optimal ke dalam material kayu. [WLC02]
Sumber: IPB University, BRIN






Discussion about this post