Sabtu, 30 Agustus 2025
wanaloka.com
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Mengenal Tanda-tanda Cuaca Ekstrem Lewat 3 Jenis Awan

Salah satu cara mengetahui terjadi tidaknya cuaca ekstrem adalah dengan melihat bentuk, warna dan kepadatan gumpalan awan.

Rabu, 15 November 2023
A A
Ilustrasi awan Nimbostratus. Foto Wanaloka.com.

Ilustrasi awan Nimbostratus. Foto Wanaloka.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Cuaca ekstrem adalah terjadinya suatu nilai unsur cuaca seperti suhu, angin, hujan, dan sebagainya, yang sangat tinggi atau sangat rendah, melebihi ambang batas tertentu. Skala cuaca ekstrem dikenali melalui sifat, yaitu tidak biasa atau tidak normal, dampak yaitu besar, luas atau parah.

“Frekuensi seperti sangat jarang terjadi, skala yang meliputi ruang meso hingga sinoptik atau waktu yang meliputi jam hingga mingguan, dan bentuk seperti bow echo, squall line, dan mesoscale convective complex,” urai Peneliti Ahli Utama Bidang Klimatologi, Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA) BRIN Erma Yulihastin menjelaskan dalam kuliah umum Keluarga Mahasiswa Teknik Geodesi Universitas Gadjah Mada (UGM) secara daring bertajuk “Mengungkap Misteri Cuaca Ekstrem: Peran Satelit dalam Prediksi dan Pemantauan” pada 12 November 2023.

Beberapa kasus cuaca ekstrem menunjukkan bahwa kombinasi atmosfer-laut merupakan satu kondisi yang bisa merusak dalam waktu yang singkat terhadap infrastruktur yang ada di sekitar pantai.

Baca Juga: Sudah Sepekan Gempa Susulan di Laut Banda Maluku Masih Terjadi

“Kombinasi dari atmosfer dan laut yang saling berinteraksi, salah satunya disebut storm surge,” sebut dia.

Banjir rob yang ditimbulkan dari storm surge bisa menghantamkan air dari laut menuju ke permukaan seperti tsunami. “Kejadian seperti ini harus selalu diwaspadai,” imbuh Erma.

Sementara tanda-tanda cuaca ekstrem dapat dikenali dari kondisi awan di langit yang dimonitor melalui satelit. Biasanya terdapat tiga jenis awan, seperti nimbostratus, altocumulus, dan cumulonimbus.

Baca Juga: Info Cuaca Penerbangan Cegah Abu Vulkanik Masuk ke Ruang Mesin Pesawat

Umumnya, awan nimbostratus biasa dikenali sebagai awan hujan atau awan mendung. Awan ini berwarna abu-abu yang merata dan terlihat beberapa saat sebelum hujan turun.

Kemudian awan altocumulus berbentuk bulatan kecil-kecil layaknya kapas dan menyebar luas di langit dengan jumlah gumpalan yang banyak.

“Jika terlihat pagi hari, biasanya sore hari kemungkinan akan ada hujan badai,” kata Erma.

Baca Juga: Konservasi Tanah dan Air Kunci Keberlanjutan Masa Depan Bumi

Sedangkan yang populer adalah awan cumulonimbus. Awan ini memiliki bentuk lebat dan padat, serta memiliki serat halus di bagian atasnya. Pada bagian bawahnya seperti tampak koyak dan berwarna gelap. Terkadang terlihat seperti pohon beringin atau jamur raksasa.

Bagian atas awan ini terdiri dari awan es yang menyebar secara horizontal dalam bentuk landasan atau anvil. Awan ini berpotensi menghadirkan hujan ekstrem karena di dalamnya terkandung es, angin kencang, hujan lebat, dan petir.

Saat malam hari masih bisa diketahui akan hujan atau tidak dengan melihat bulan. Apabila masih bisa melihat cahaya bulan secara penuh, berarti awan yang ada hanya awan-awan tinggi. Sebaliknya, jika bulan tertutup banyak awan sehingga tidak bisa terlihat, maka pertanda terdapat banyak awan rendah yang berpotensi menimbulkan hujan.

Baca Juga: Masyarakat Sipil Serukan Pemerintah Stop Bakar Hutan untuk Bioenergi, Mengapa?

Adaptasi dan Mitigasi Sejak Dini
Erma menegaskan, perlu upaya yang harus dilakukan supaya tidak terjadi panas berlebihan dan bisa mengurangi cuaca ekstrem.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: adaptasi dan mitigasiangin kencangawan altocumulusawan Cumulonimbusawan nimbostratusBRINcuaca ekstremErma Yulihastinhujan lebatKomisi V DPR

Editor

Next Post
Ilustrasi gas bumi. Foto pushep.or.id.

Pemerintah dan Kampus Pilih Optimalkan Gas Bumi dalam Transisi Energi

Discussion about this post

TERKINI

  • Ginseng Jawa (Talinum paniculatum). Foto Alam Sari Petra.Ginseng Jawa Lebih Aman Dikonsumsi Ketimbang Ginseng Korea
    In Rehat
    Selasa, 26 Agustus 2025
  • Gelaran Indonesia Climate Justice Summit (ICJS) 2025 hari pertama di Jakarta, 26 Agustus 2025. Foto Dok. ARUKI.ICJS 2025, Masyarakat Rentan Menuntut Keadilan Iklim
    In Lingkungan
    Selasa, 26 Agustus 2025
  • Kepala BMKG melakukan kunjungan ke UPT Stasiun Meteorologi (Stamet) Kelas I Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru, Riau, 24 Agustus 2025. Foto BMKG.Akhir Agustus 2025, Potensi Karhutla di Riau Meningkat
    In News
    Selasa, 26 Agustus 2025
  • Lalat buah. Foto CABI Digital Library/digitani.ipb.ac.id.Pengendalian Lalat Buah dengan Teknologi Nuklir, Amankah?
    In IPTEK
    Senin, 25 Agustus 2025
  • Presiden Prabowo Subianto memimpin pertemuan tertutup soal penertiban tambang ilegal di Hambalang, Bogor, 19 Agustus 2025. Foto Laily Rachev/BPMI Setpres.Alasan Prabowo Tertibkan Tambang Ilegal agar Negara Tetap Memperoleh Pendapatan
    In Lingkungan
    Senin, 25 Agustus 2025
wanaloka.com

©2025 Wanaloka Media

  • Tentang
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2025 Wanaloka Media