Jumat, 27 Maret 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Menunggu Peta Nasional Ekosistem Laut untuk Mitigasi Perubahan Iklim

Keberadaan peta tersebut membantu perhitungan serapan karbon dalam Nationally Determined Contribution (NDC), ocean accounting, hingga perizinan pembangunan di laut, mengingat data padang lamun nasional masih terbatas.

Minggu, 24 Agustus 2025
A A
Ilustrasi ekosistem laut. Foto Jackdrafahl/pixabay.com.

Ilustrasi ekosistem laut. Foto Jackdrafahl/pixabay.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tengah menyiapkan peta nasional ekosistem terumbu karang dan padang lamun yang ditargetkan akan diluncurkan pada akhir 2025. Peta ini penting sebagai dasar pengambilan keputusan terkait pengelolaan sumber daya laut, perubahan iklim, hingga valuasi ekonomi ekosistem karbon biru Indonesia.

Menurut pakar pemetaan padang lamun dari Fakultas Geografi UGM, Prof. Pramaditya Wicaksono peta nasional ekosistem terumbu karang dan padang lamun penting karena data lamun nasional masih terbatas. Luasan yang tervalidasi baru sekitar 290 ribu hektare. Keberadaan peta tersebut membantu perhitungan serapan karbon dalam Nationally Determined Contribution (NDC), ocean accounting, hingga perizinan pembangunan di laut.

“Jauh dari potensi sesungguhnya,” kata dia di Kampus UGM, Jumat, 22 Agustus 2025.

Baca juga: Kemacetan, Fasum Terbatas dan Lingkungan Tak Bersih Jadi Tantangan Momen Libur Nasional

Tantangan utama pemetaan adalah luasnya wilayah Indonesia yang mustahil dipetakan hanya dengan survei lapangan. Perlu upaya untuk mengintegrasikan teknologi penginderaan jauh, satelit, remote sensing, serta data lapangan melalui pendekatan citizen science.

Selain tantangan teknis, persoalan koordinasi antar lembaga juga menjadi kendala. Selama ini, banyak data yang tersebar di berbagai instansi tanpa akses dan pemanfaatan yang jelas. Melalui proyek ini, semua pemangku kepentingan mulai dari universitas, kementerian, pemerintah daerah, hingga NGO dikumpulkan untuk membangun komunikasi, menyelaraskan peran, dan menetapkan standar data nasional.

“Kami akan segera memiliki peta lamun nasional pertama. Bahkan, sejumlah negara besar pun belum memiliki peta sejenis yang terintegrasi secara nasional. Ini menjadi prestasi penting, tidak hanya bagi Indonesia, tetapi juga sebagai kontribusi pada upaya global dalam pengelolaan ekosistem karbon biru,” ujar dia.

Baca juga: Pelita Air Terbang dengan Bahan Bakar Olahan Minyak Jelantah 2,5 Persen

Soal target peluncuran peta ekosistem terumbu karang dan padang lamun pada akhir 2025, Pramaditya berharap peta ini menjadi tonggak sejarah dalam pengelolaan ekosistem laut Indonesia. Sekaligus memperkuat peran negara dalam mitigasi perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan.

Atasi perubahan iklim

Pada 2023, KKP menerima mandat sebagai penyelenggara atau walidata informasi geospasial tematik (IGT) lamun dan terumbu karang. Sebelumnya, mandat tersebut diselenggarakan oleh Pusat Riset Oseanografi – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Fakultas Geografi UGMKKPmitigasi perubahan iklimPadang lamunpeta ekosistem lautterumbu karang

Editor

Next Post
Alumni Unair dan pesepeda #NorthCape4000, Arbelly Noor. Foto Dok. Arbelly.

Arbelly Noor, Bersepeda Menembus Hutan Melintasi Italia hingga Norwegia

Discussion about this post

TERKINI

  • Westa, aplikasi pengelolaan sampah berbasis AI. Foto Dok. FEB UGM.Aplikasi Westa, Identifikasi Jenis dan Berat Sampah untuk Menghitung Emisi Karbon
    In IPTEK
    Sabtu, 14 Maret 2026
  • Seorang mahout memandikan gajah di aliran sungai kawasan Konservasi Gajah Tangkahan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Foto Soetana Hasby/Wanaloka.com.Instruksi Presiden untuk Selamatkan 21 Kantong Gajah yang Tersisa
    In News
    Sabtu, 14 Maret 2026
  • Dua perempuan menanam padi di sawah. Foto Wanaloka.com.Terdampak Perjanjian Dagang Timbal Balik Indonesia-USA, Perempuan Adat Melawan
    In Lingkungan
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Desakan pengesahan RUU Masyarakat Adat dalam Aksi Kamisan, 5 September 2024. Foto AMAN.Hari Masyarakat Adat Nasional, Tak Ada Alasan RUU Masyarakat Adat Tak Disahkan
    In Rehat
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Pengolahan sampah di PIAT UGM. Foto Dok. Humas UGM.Tragedi Bantargebang Akibat Pengelolaan Sampah Berorientasi pada Pembuangan
    In Lingkungan
    Kamis, 12 Maret 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media