Sabtu, 3 Oktober 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Migrasi Paksa dan Ketidakadilan di Sektor Perikanan Akibat Krisis Iklim

Akar persoalan dari krisis iklim adalah terjadinya kerusakan masif pada ekosistem laut akibat aktivitas ekstraktif.

Kamis, 12 Februari 2026
A A
Jambore Pekerja Perikanan 2026. Foto Walhi.

Jambore Pekerja Perikanan 2026. Foto Walhi.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Sebanyak 41 peserta Jambore Pekerja Perikanan 2026 dari berbagai wilayah menuntut negara segera melakukan solusi nyata dalam menjamin pengakuan, perlindungan dan pemenuhan hak perempuan yang bekerja di sektor perikanan, baik nelayan tradisional/lokal, buruh sortir ikan, pengelola hasil laut.

Sebab mereka menjadi kelompok paling rentan yang mengalami situasi berlapis akibat kerusakan ekologis dan krisis iklim yang menyebabkan penghilangan sumber ekonomi. Bahkan berujung pada terjadinya migrasi paksa.

Sementara kebijakan, proyek atau program negara justru memperlihatkan jurang antara janji negara dengan realitas hidup masyarakat, termasuk perempuan dengan terus melakukan eksploitasi sumber daya alam yang telah merusak ekosistem laut pesisir dan pulau-pulau kecil. Kerusakan ini telah menghilangkan fungsi krusial ekosistem laut sebagai penyerap karbon raksasa (carbon sink) dan menciptakan krisis iklim.

“Akar persoalan dari krisis iklim adalah terjadinya kerusakan masif pada ekosistem laut akibat aktivitas ekstraktif. Banyak masyarakat pesisir, termasuk buruh perikanan yang menggantungkan kehidupannya pada laut,” kata Manager Pengelolaan Isu Bencana Ekologis Eknas Wahana Lingkungan Hidup (Walhi), Melva Harahap.

Baca juga: Ikan Dewa Mati Massal di Kuningan, Apa Penyebabnya?

Namun perubahan ekosistem menjadi proyek-proyek atas nama pembangunan seperti villa, privatisasi area laut dan pulau hingga reklamasi, ditambah kebijakan lain yang tidak berpihak terhadap lingkungan menyebabkan mereka terpaksa bermigrasi demi bertahan hidup dan mencari penghidupan yang lebih layak.

Dengan berserikat, terus memantau peraturan dan penegakan hukumnya, sangat membantu. Tidak hanya untuk melindungi lingkungan, namun juga melindungi buruh. Pengetahuan lokal juga sangat berperan dalam menjaga lingkungan dan penting untuk terus dijaga,. Juga menjadikan masyarakat bisa tetap berdikari dan mempunyai daya lenting dalam pengelolaan ruang penghidupannya secara non-eksploitatif dan berkelanjutan.

“Pemerintah Indonesia membiarkan rakyatnya hidup dan bekerja tanpa dokumen. Negara telah gagal memenuhi tanggung jawabnya dalam melindungi rakyatnya. Mereka membiarkan buruh migran dan keluarganya ditahan selama bertahun-tahun di dalam Rumah Merah di Sabah Malaysia dengan berbagai siksaan yang dilakukan,” tutur Koalisi Buruh Migran Berdaulat, Maria.

Krisis iklim telah menjadi salah satu pendorong utama peningkatan migrasi paksa di berbagai wilayah dunia, termasuk Indonesia. Bencana ekologis, kenaikan permukaan air laut, kekeringan, gagal panen, penurunan hasil tangkap, serta kerusakan ekosistem atau lingkungan hidup memaksa individu atau perempuan meninggalkan tempat tinggalnya untuk bekerja ke daerah dan luar negeri demi bertahan hidup.

Baca juga: KPA Kritik Peran Bank Tanah, Menghidupkan Lagi Kepemilikan Tanah Negara Masa Kolonial

Namun, negara belum sepenuhnya hadir dalam pemenuhan pelindungan pekerja migran Indonesia. Krisis iklim tidak tercatat sebagai variabel resmi migrasi, tetapi di lapangan iya bekerja nyata.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Jambore Pekerja Perikanan 2026kerusakan ekologisKrisis IklimMigrasi PaksaWalhi

Editor

Next Post
Ilustrasi tikus yang membawa bakteri penyakit leptospirosis. Foto TheOtherKev/pixabay.com.

Bakteri Penyakit Leptospirosis Bisa Tahan Berbulan-bulan di Tempat Lembab

Discussion about this post

TERKINI

  • Aksi Hari Tani Nasional 2025 mengusung desakan reforma agraria, 24 September 2025. Foto KPA.Koalisi Masyarakat Sipil untuk Keadilan Agraria Kritik Penunjukan Kepala BRAN
    In News
    Jumat, 2 Oktober 2026
  • Pusat gempa dangkal 5,4 magnitudo di Pantai Timur Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan pada Kamis malam, 1 Oktober 2026. Foto tangkap layar BMKG.Gempa Dangkal di Laut Flores Kepulauan Selayar Dirasakan IV MMI
    In News
    Kamis, 1 Oktober 2026
  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media