Selasa, 12 Mei 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Minimalisir Risiko Kecelakaan Laut, Nelayan Ikut Sekolah Lapang Cuaca

Perubahan iklim berdampak pada nelayan dalam menentukan waktu yang tepat untuk melaut. Salah satu solusinya dengan SLCN. Apakah itu?

Sabtu, 13 Agustus 2022
A A
Ilustrasi nelayan tradisional menangkap ikan. Foto Quangpraha/pixabay.com.

Ilustrasi nelayan tradisional menangkap ikan. Foto Quangpraha/pixabay.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Dwikorita berharap para nelayan bisa memanfaatkan secara maksimal informasi cuaca maritim yang senantiasa diperbaharui BMKG. Nelayan akan selamat saat melaut dan mendapatkan hasil yang melimpah.

Dengan teknologi yang dimiliki BMKG saat ini, nelayan bisa membuat perencanaan sebelum melaut, melihat kondisi gelombang, kondisi arus sehingga nelayan tahu kapan tidak boleh melaut karena gelombang akan tinggi atau kapan bisa melaut. Teknologi yang ada juga memudahkan nelayan mendeteksi zona mana yang penuh ikan (fishing dome) dan yang tidak, sehingga bisa langsung ke sasaran untuk menangkap ikan, bukan mencari ikan.

“Nelayan langsung ke target untuk menangkap ikan. Tidak usah membuang waktu untuk mencari, itu berbahaya,” tegas Dwikorita.

Baca Juga: Waspada Gelombang Tinggi hingga 6 Meter di Pesisir Selatan Laut Jawa Hari Ini

Selain itu, para nelayan juga bisa mengunakan sistem informasi cuaca maritim interaktif melalui aplikasi Indonesian Weather Information for Shipping (INA-WIS), untuk mewaspadai terjadinya ancaman gelombang tinggi. Semisal pada system informasi menunjukkan warna gelombang merah, artinya gelombang tinggi.

“Jadi berhenti dulu, jangan berlayar. Menunggu sampai warnanya berubah menjadi lebih muda, artinya gelombangnya lebih rendah,” imbuh Dwikorita.

Selain produktivitas tangkap ikan bisa meningkat, bekal pengetahuan itu juga untuk meminimalkan tingkat kecelakaan di laut. [WLC02]

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: gelombang tingginelayanperubahan iklimriiko kecelakaanSekolah Lapang Cuaca NelayanSLCN

Editor

Next Post
BKSDA Aceh berhasil selamatkan harimau sumatra korban jerat. Foto ppid.menlhk.go.id.

Gerak Cepat BKSDA Aceh Selamatkan Harimau Sumatra Korban Jerat

Discussion about this post

TERKINI

  • Ilustrasi ,krisis air bersih. Foto Andres_maura_ph/Pixabay.com.Pemerintah Harus Antisipasi Krisis Sampah dan Air Bersih Dampak Godzilla El Niño 2026
    In Lingkungan
    Senin, 11 Mei 2026
  • Ilustrasi tikus pembawa virus. Foto Sipa/Pixabay.com.Mengenal Virus Hanta Tipe HFRS di Indonesia dan Tipe HPS di Kapal Pesiar
    In Rehat
    Senin, 11 Mei 2026
  • Tim SAR gabungan membawa kantong jenazah korban erupsi gunung api Dukono di Halmahera Utara, Maluku Utara, 10 Mei 2026. Foto Basarnas.Pendakian Gunung Dukono Ditutup April 2026, Tiga Pendaki Tewas Mei 2026
    In Traveling
    Minggu, 10 Mei 2026
  • Suasana salah satu tempat pembuangan sampah sementara di Kota Yogyakarta. Foto Dok. Forpi Kota YogyakartaKritik Walhi Yogyakarta, PSEL Menyeret Daerah Tergantung pada Pasokan Sampah
    In Lingkungan
    Sabtu, 9 Mei 2026
  • Official trailer film Pesta Babi. Foto Indonesia Baru/YouTube.SIEJ: Larangan Nobar Pesta Babi Sensor Pengungkapan Peminggiran Hak Masyarakat Adat
    In News
    Sabtu, 9 Mei 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media