Sabtu, 27 Juni 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Minimalisir Risiko Kecelakaan Laut, Nelayan Ikut Sekolah Lapang Cuaca

Perubahan iklim berdampak pada nelayan dalam menentukan waktu yang tepat untuk melaut. Salah satu solusinya dengan SLCN. Apakah itu?

Sabtu, 13 Agustus 2022
A A
Ilustrasi nelayan tradisional menangkap ikan. Foto Quangpraha/pixabay.com.

Ilustrasi nelayan tradisional menangkap ikan. Foto Quangpraha/pixabay.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Dwikorita berharap para nelayan bisa memanfaatkan secara maksimal informasi cuaca maritim yang senantiasa diperbaharui BMKG. Nelayan akan selamat saat melaut dan mendapatkan hasil yang melimpah.

Dengan teknologi yang dimiliki BMKG saat ini, nelayan bisa membuat perencanaan sebelum melaut, melihat kondisi gelombang, kondisi arus sehingga nelayan tahu kapan tidak boleh melaut karena gelombang akan tinggi atau kapan bisa melaut. Teknologi yang ada juga memudahkan nelayan mendeteksi zona mana yang penuh ikan (fishing dome) dan yang tidak, sehingga bisa langsung ke sasaran untuk menangkap ikan, bukan mencari ikan.

“Nelayan langsung ke target untuk menangkap ikan. Tidak usah membuang waktu untuk mencari, itu berbahaya,” tegas Dwikorita.

Baca Juga: Waspada Gelombang Tinggi hingga 6 Meter di Pesisir Selatan Laut Jawa Hari Ini

Selain itu, para nelayan juga bisa mengunakan sistem informasi cuaca maritim interaktif melalui aplikasi Indonesian Weather Information for Shipping (INA-WIS), untuk mewaspadai terjadinya ancaman gelombang tinggi. Semisal pada system informasi menunjukkan warna gelombang merah, artinya gelombang tinggi.

“Jadi berhenti dulu, jangan berlayar. Menunggu sampai warnanya berubah menjadi lebih muda, artinya gelombangnya lebih rendah,” imbuh Dwikorita.

Selain produktivitas tangkap ikan bisa meningkat, bekal pengetahuan itu juga untuk meminimalkan tingkat kecelakaan di laut. [WLC02]

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: gelombang tingginelayanperubahan iklimriiko kecelakaanSekolah Lapang Cuaca NelayanSLCN

Editor

Next Post
BKSDA Aceh berhasil selamatkan harimau sumatra korban jerat. Foto ppid.menlhk.go.id.

Gerak Cepat BKSDA Aceh Selamatkan Harimau Sumatra Korban Jerat

Discussion about this post

TERKINI

  • Laskar Talijiwo dari Pracimantoro, Wonogiri sampaikan penolakan tambang dan pabrik semen kepada Bupati Wonogiri, 25 Juni 2026. Foto Dok. Laskar Talijiwo.Temui Bupati Wonogiri, Laskar Talijiwo Sampaikan Tolak Tambang Gamping dan Pabrik Semen
    In News
    Jumat, 26 Juni 2026
  • Ilustrasi sampah organik dari sisa buah-buahan. Foto Artis Digital/pixabay.com.Temuan Ombudsman DIY, Aktivitas TPS 3R Sokowaten Tak Berizin dan Sebabkan Pencemaran
    In News
    Senin, 22 Juni 2026
  • Acara ISWBC 2026 bertema Beyond Species: Rethinking Conservation in an Era of Uncertainty, 11 Juni 2026. Foto Leoni/UGM.Pejabat Kehutanan Bicara Peran Masyarakat Adat Menjaga Biodiversitas Saat Krisis Iklim
    In News
    Sabtu, 20 Juni 2026
  • Para pejabat menunjukkan peta calon lokasi bandar antariksa di Distrik Biak Utara yang mengancam wilayah adat Warbon. Foto Istimewa.LBH Papua Nilai Rencana Pembangunan Bandar Antariksa di Wilayah Adat Warbon Cacat Hukum
    In Lingkungan
    Sabtu, 20 Juni 2026
  • Ilustrasi tawon yang berkoloni. Foto jcbeni.Pixabay.com.Tawon yang Berkoloni Mengenali Wajah Manusia yang Mengganggunya
    In IPTEK
    Jumat, 19 Juni 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media