Selasa, 6 Oktober 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Munif Ghulamahdi: Teknologi Budidaya Jenuh Air Jadi Solusi Kelangkaan Kedelai

Kelangkaan yang memicu harga kedelai tinggi terus berulang tiap tahun. BJA diharapkan jadi solusi persoalan tahunan komoditas pangan itu.

Rabu, 23 Februari 2022
A A
Profesor Munif Ghulamahdi. Foto ipb.ac.id.

Profesor Munif Ghulamahdi. Foto ipb.ac.id.

Share on FacebookShare on Twitter

Ia menambahkan, dalam penelitian, benih kedelai unggul yang digunakan potensi produktivitasnya dapat mencapai 4,63 ton per hektare. Kegiatan BJA selanjutnya diterapkan pada lahan petani pada areal 500 ha di tipe luapan C pada lahan pasang surut dan diperokeh 2.6 ton per hektare. Sedangkan  produktivitas nasional hanya 1,5 ton per hektare. Teknologi ini telah terapkan di Jambi, Palembang dan Lampung.

Baca Juga: Kata Pakar Soal Kisruh Harga Kedelai: Pemerintah Tak Konsisten Wujudkan Swasembada Kedelai

Pada tahun 2021, produksi kedelai nasional di lahan non pasang surut sekitar 200 ribu ton dengan konsumsi nasional sebesar 2.6 juta ton. Kekurangan sebesar 2.4 juta ton dapat dipenuhi dengan menggarap lahan pasang surut pada areal tanam 1 juta hektare. Sementara, luas lahan pasang surut di Indonesia seluas 20 juta hektare.

“Apabila 5 persen saja dari lahan pasang surut tersebut dimanfaatkan untuk budidaya kedelai, diperkirakan dapat mencukupi kebutuhan nasional. Jika kebutuhan benih sekitar 50 kilogram per hektare perlu penyediaan benih sebesar 50 000 ton,” kata Munif.

Jika pemerintah mau serius untuk memanfaatkan teknologi temuan anak bangsa ini, niscaya swasembada kedelai bisa diwujudkan. Untuk itu perlu langkah-langkah konkrit untuk mengimplementasikan berbagai teknologi temuan para akademisi dan peneliti, salah satunya teknologi BJA ini  untuk membebaskan Indonesia dari problem kelangkaan kedelai yang terus berulang. [WLC02]

Sumber: ipb.ac.id

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: BJAIPB Universitykedelaiperajin tahu tempeProfesor Munif Ghulamahdiswasembada kedelaiteknologi budidaya jenuh air

Editor

Next Post
Ikan guppy. Foto Instagram @aquarium_guppies.

Ingin Menang Kontes, Ini Tips Budidaya Ikan Guppy

Discussion about this post

TERKINI

  • Aksi Hari Tani Nasional 2025 mengusung desakan reforma agraria, 24 September 2025. Foto KPA.Koalisi Masyarakat Sipil untuk Keadilan Agraria Kritik Penunjukan Kepala BRAN
    In News
    Jumat, 2 Oktober 2026
  • Pusat gempa dangkal 5,4 magnitudo di Pantai Timur Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan pada Kamis malam, 1 Oktober 2026. Foto tangkap layar BMKG.Gempa Dangkal di Laut Flores Kepulauan Selayar Dirasakan IV MMI
    In News
    Kamis, 1 Oktober 2026
  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media