Senin, 12 Oktober 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Murraya sumatrana, Tanaman Liar yang Jadi Penyebar Penyakit pada Jeruk

Bukan berarti tanaman liar itu harus diberantas, tetapi justru diperlukan pendekatan pengelolaan berbasis ekosistem.

Jumat, 18 April 2025
A A
Tanaman liar Murraya sumatrana. Foto Dok. peneliti UGM.

Tanaman liar Murraya sumatrana. Foto Dok. peneliti UGM.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Salah satu tanaman asli Indonesia, Murraya sumatrana ternyata bisa terinfeksi bakteri penyebab citrus greening atau huanglongbing (HLB), yaitu penyakit paling destruktif pada jeruk. Tanaman itu sekaligus menjadi agen rahasia penyebar penyakit mematikan bagi jeruk. Padahal Murraya sumatrana adalah tanaman liar yang biasa tumbuh di pekarangan atau di pinggir hutan.

“Murraya sumatrana yang tersebar luas di Indonesia ternyata punya potensi terinfeksi patogen dan menyebarkannya melalui serangga vektor ke tanaman jeruk yang dibudidayakan,” ungkap Guru Besar Fakultas Pertanian UGM, Prof. Siti Subandiyah, Kamis, 17 April 2025.

Baru saja, Siti merilis hasil penelitian kolaboratif internasional yang dipimpin tim UGM. Temuan ini telah dipublikasikan dalam jurnal Quartil 1 (Q1) Plant Disease edisi April 2024 silam dengan judul “Natural Infection of Murraya paniculata and Murraya sumatrana with ‘Candidatus Liberibacter asiaticus’ in Java”.

Baca juga: Anggota Komisi IV DPR Soroti Deretan Kasus Pagar Laut yang Tak Kunjung Usai

Penelitian ini juga mencatat, bahwa untuk pertama kalinya, M. sumatrana terbukti positif terinfeksi Candidatus Liberibacter asiaticus (CLas), secara alami. CLas merupakan bakteri penyebab HLB yang ditularkan kutu loncat jeruk (Diaphorina citri).

Selama lebih dari setahun, tim peneliti mengambil sampel dari berbagai spesies Murraya yang tumbuh di Yogyakarta, Purworejo, dan Kebun Raya Bogor. Mereka memadukan pendekatan botani klasik dengan analisis DNA kloroplas dan ITS untuk memastikan identitas spesies, lalu menguji keberadaan bakteri menggunakan polymerase chain reaction (PCR) dan real-time PCR.

Hasilnya, ada empat aksesi M. paniculata (kemuning Jepang, tanaman hias) dan tiga aksesi M. sumatrana (kemuning Jawa) yang ditemukan dan mengandung bakteri CLas penyebab HLB.

Baca juga: Magma Erupsi Gunung Ruang 2024 Alami Dekompresi Setara Erupsi Gunung Vesuvius 79 Masehi

Siti selaku pemimpin riset ini mengatakan, bahwa hasil tersebut memperluas pemahaman tentang siklus epidemiologi penyakit HLB di ekosistem tropis.

“Kami harus mulai memperhatikan spesies tanaman liar atau yang tidak dibudidayakan yang hidup berdampingan dengan tanaman jeruk,” imbuh dia.

Dalam konteks ekologi, temuan ini cukup menggugah. Lantaran tidak menunjukkan gejala mencolok saat terinfeksi CLas, keberadaan M. sumatrana sebagai reservoir penyakit sangat mungkin tidak terdeteksi. Jika tidak dikendalikan, spesies ini berpotensi mempercepat penyebaran HLB ke kebun jeruk rakyat maupun industri hortikultura.

Baca juga: TPA Benowo, Pengelolaan Sampah Menjadi Energi Listrik di Surabaya

Lebih jauh, kutu loncat jeruk (Diaphorina citri) yang menjadi vektor utama penyakit ini, diketahui berkembang biak dengan cepat pada pucuk muda tanaman Murraya. Populasinya meningkat saat musim kemarau dan bisa dengan mudah berpindah ke pohon jeruk yang tumbuh di sekitarnya.

Temuan lapangan menunjukkan bahwa M. paniculata dan M. sumatrana yang tumbuh di sekitar kebun jeruk dan kampus UGM pun dihuni serangga ini dalam jumlah cukup signifikan.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Fakultas Pertanian UGMmanajemen risiko penyakitMurraya sumatranapenyakit huanglongbingtanaman liarvektor penyakit

Editor

Next Post
Masyarakat adat Poco Lek menolak proyek panas bumi. Foto Dok. AMAN

Ada Dugaan Kriminalisasi, Koalisi Serukan Hentikan Proyek Panas Bumi Poco Leok

Discussion about this post

TERKINI

  • Aksi Hari Tani Nasional 2025 mengusung desakan reforma agraria, 24 September 2025. Foto KPA.Koalisi Masyarakat Sipil untuk Keadilan Agraria Kritik Penunjukan Kepala BRAN
    In News
    Jumat, 2 Oktober 2026
  • Pusat gempa dangkal 5,4 magnitudo di Pantai Timur Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan pada Kamis malam, 1 Oktober 2026. Foto tangkap layar BMKG.Gempa Dangkal di Laut Flores Kepulauan Selayar Dirasakan IV MMI
    In News
    Kamis, 1 Oktober 2026
  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media