Sabtu, 20 Juni 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Nusa Tenggara Timur Ditarget Bebas Rabies Pada Desember 2024

Jumat, 21 Juni 2024
A A
Proses vaksinasi rabies pada anjing di Timor Tengah Selatan, NTT, 31 Januari 2024. Foto Dok. BNPB.

Proses vaksinasi rabies pada anjing di Timor Tengah Selatan, NTT, 31 Januari 2024. Foto Dok. BNPB.

Share on FacebookShare on Twitter

Alasan pelibatan BNPB dalam penanganan KLB rabies, Suharyanto menjelaskan bahwa BNPB diamanatkan Pemerintah untuk ikut mengatasi kejadian bencana non alam, yaitu rabies. Sebab BNPB mempunyai pengalaman menangani pandemi Covid-19 dan penyakit mulut dan kuku (PMK) pada sapi.

Berdasarkan data tercatat hingga 18 Juni 2024 terdapat 47 kematian akibat gigitan rabies dengan jumlah kasus gigitan mencapai 13,361 kasus per tahun.

Tingkat Kesembuhan Nol

Tingkat kesembuhan akibat gigitan hewan yang terinfeksi rabies adalah 0 (nol), artinya tidak bisa sembuh dan fatalitasnya sangat tinggi. Perlu upaya serius agar masyarakat lebih waspada terhadap hewan yang terinfeksi rabies.

Baca Juga: Jaga Stok Pangan, Jokowi Instruksikan Sedot Air Tanah dan Sungai Lewat Pompanisasi

BNPB ikut membantu dalam proses penanganan darurat KLB rabies dengan memberikan bantuan anggaran untuk operasional penanganan rabies. Salah satunya berupa percepatan vaksinasi yang intensif terhadap hewan yang terinfeksi rabies di daerah dengan tingkat kasus tinggi, yakni Kabupaten Belu, Kabupaten Sikka, Kabupaten Nagekeo, Kabupaten Manggarai, Kabupaten Manggarai Barat, Kabupaten Ende, Kabupaten Ngada, Kabupaten Timor Tengah Selatan dan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur.

‘Walau terjadi penurunan kasus dari tahun 2023 ke 2024, kami jangan sampai lengah. Tetap waspada dengan fenomena ini agar tidak ada lagi korban jiwa yang jatuh karena rabies akibat gigitan hewan,” jelas Suharyanto. [WLC02]

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: hewan penular rabiesKepala BNPB Letjen TNI SuharyantoKLB rabiesNusa Tenggara Timur

Editor

Next Post
Ilustrasi lahan gambut. Foto Dok. Cifor.

Upaya KLHK Membuktikan Kerusakan Gambut Dapat Dipulihkan

Discussion about this post

TERKINI

  • Tangkapan video pendek saat tentara datang ke eks HGU Wirya Cakra di Tasikmalaya, Jawa Barata, 18 Juni 2026. Foto @tanahuntukrakyat/Instagram.Surat Keprihatinan Darurat Agraria: Arogansi Tentara di Tasikmalaya
    In News
    Kamis, 18 Juni 2026
  • Rayap, hewan pengurai bahan organik. Foto RoyBuri/Pixabay.com.Mengenal Rayap, Pengurai Bahan Organik sekaligus Perusak Perabot Rumah
    In Rehat
    Rabu, 17 Juni 2026
  • Rapat dengar pendapat dan rapat kerja KLH/BPLH dengan Komisi XII DPR di SEnayan, jakarta. Foto Dok. KLH/BPLH.Pengelolaan Sampah dengan Partisipasi Publik Jadi Prioritas KLH Tahun 2027
    In News
    Rabu, 17 Juni 2026
  • Kerusakan bangunan akibat gempa bumi yang mengguncang Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Selasa, 16 Juni 2026. Foto Dok. BPBD Palu.Gempa Bumi Sigi M6,7 Gempa Dangkal yang Dipicu Sesar Sausu
    In Bencana
    Selasa, 16 Juni 2026
  • Kolaborasi KLH/BPLH dengan TNI dalam pengelolaan sampah di Bali, 24 Maret 2025. Foto Dok. KLH/BPLH.Walhi Tolak Pelibatan Tentara dalam Pengelolaan Sampah
    In News
    Selasa, 16 Juni 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media