Sabtu, 28 Maret 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Observatorium Bosscha Lahir di Tengah Keluarga Ilmuwan di Kebun Teh

Lokasi observatorium yang berada di bawah garis khatulistiwa dinilai unik. Mengapa?

Minggu, 5 Februari 2023
A A
Patung pendiri Observatorium Bosscha, Karel Albert Rudolf Bosscha. Foto itb.ac.id.

Patung pendiri Observatorium Bosscha, Karel Albert Rudolf Bosscha. Foto itb.ac.id.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Observatorium Bosscha di Bandung, Jawa Barat bukanlah observatorium pertama yang dibangun di Indonesia. Sebelumnya telah dibangun observatorium pertama di Pulau Jawa sekitar 1760 oleh Pendeta Johan Mohr dari gereja Portugis yang terletak di Glodok, Batavia. Dalam observatoriumnya, Mohr berhasil mengamati transit planet Venus pada tahun 1761 dan 1769 ketika Batavia berada sejalur dengan kedua fenomena tersebut.

Sayangnya, tidak ada yang melanjutkan dan mewarisi semua pekerjaan yang dilakukan Mohr. Observatorium pun menghilang dan perkembangan ilmu astronomi terhenti cukup lama hingga didirikannya Observatorium Bosscha di Jawa Barat.

Observatorium Bosscha berdiri pada 1950 di bawah naungan Institut Teknologi Bandung. Sejarah pendiriannya memiliki asosiasi sangat erat dengan perkembangan budaya teh di daerah Parahyangan, Jawa Barat yang dimulai sekitar 1824 oleh beberapa keluarga Belanda yang saling terikat, antara lain van der Hucht, Holle, Rudolf Kerkhoven, dan Karel Bosscha.

Baca Juga: Paul Ho: Dulu Lubang Hitam Hanya Bisa Didengar dan Kini Bisa Dilihat

Beberapa anggota keluarga yang berada dalam perkebunan teh, seperti Karel Bosscha dan Rudolf Kerkhoven juga memiliki ketertarikan dalam bidang ilmiah, terutama astronomi. Mereka menggagas pendirian observatorium astronomi terbaik di belahan bumi selatan.

Kemudian Bosscha dan Kerkhoven membuat sebuah Asosiasi Astronomi Hindia-Belanda di Bandung yang diberi nama Netherlands-Indies Astronomical Association. Tujuan asosiasi adalah membangun dan memelihara observatorium astronomi di Hindia Belanda dan untuk mempromosikan ilmu astronomi.

Pada 12 September 1920, mereka mulai merekrut patron, orang terpelajar, dan politikus berpengaruh sebagai anggota asosiasi. Sementara Karel Bosscha sebagai ketua dan Kerkhoven sebagai sekretaris.

Baca Juga: Satu Abad Observatorium Bosscha

Pada pertemuan dengan para pendiri asosiasi, Karel Bosscha menyampaikan bahwa ia akan mendanai pengadaan teleskop yang panjang fokusnya sekitar tujuh meter. Rudolf Kerkhoven juga menyampaikan akan mendonasikan pendulum richter astronomi, refraktor Zeiss, dan mendanai pengadaan teleskop meridian-jarak yang besar.

Selanjutnya, pada 3 Desember 1920, anggota asosiasi meresmikan nama observatorium yang disepakati dengan nama “Observatorium Bosscha”. Nama itu berasal dari nama salah seorang fisikawan Belanda, Johannes Bosscha, yang merupakan ayah dari Karel Bosscha. Lokasi pendirian observatorium dipilih di daerah Lembang dengan ketinggian 1.300 meter di atas permukaan laut dan terletak 40 kilometer utara Bandung, tepat di selatan Gunung Tangkuban Perahu.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: 100 Tahun Observatorium Bosschagaris ekuatorgaris khatulistiwaGunung Tangkuban PerahuITBobservatorium astronomiObservatorium Bosscha

Editor

Next Post
Salah satu teleskop di Observatorium Bosscha. Foto itb.ac.id.

Ini Peran Para Pendiri dan Aneka Teleskop Observatorium Bosscha

Discussion about this post

TERKINI

  • Westa, aplikasi pengelolaan sampah berbasis AI. Foto Dok. FEB UGM.Aplikasi Westa, Identifikasi Jenis dan Berat Sampah untuk Menghitung Emisi Karbon
    In IPTEK
    Sabtu, 14 Maret 2026
  • Seorang mahout memandikan gajah di aliran sungai kawasan Konservasi Gajah Tangkahan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Foto Soetana Hasby/Wanaloka.com.Instruksi Presiden untuk Selamatkan 21 Kantong Gajah yang Tersisa
    In News
    Sabtu, 14 Maret 2026
  • Dua perempuan menanam padi di sawah. Foto Wanaloka.com.Terdampak Perjanjian Dagang Timbal Balik Indonesia-USA, Perempuan Adat Melawan
    In Lingkungan
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Desakan pengesahan RUU Masyarakat Adat dalam Aksi Kamisan, 5 September 2024. Foto AMAN.Hari Masyarakat Adat Nasional, Tak Ada Alasan RUU Masyarakat Adat Tak Disahkan
    In Rehat
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Pengolahan sampah di PIAT UGM. Foto Dok. Humas UGM.Tragedi Bantargebang Akibat Pengelolaan Sampah Berorientasi pada Pembuangan
    In Lingkungan
    Kamis, 12 Maret 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media