Sabtu, 26 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Observatorium Bosscha Lahir di Tengah Keluarga Ilmuwan di Kebun Teh

Lokasi observatorium yang berada di bawah garis khatulistiwa dinilai unik. Mengapa?

Minggu, 5 Februari 2023
A A
Patung pendiri Observatorium Bosscha, Karel Albert Rudolf Bosscha. Foto itb.ac.id.

Patung pendiri Observatorium Bosscha, Karel Albert Rudolf Bosscha. Foto itb.ac.id.

Share on FacebookShare on Twitter

Bangunan pertama observatorium yang selesai dibangun diresmikan Gubernur Jenderal Fock pada 1 Januari 1923. Direktur Observatorium Leiden Prof. van de Sande Bakhuyzen mewariskan perpustakaan astronomi pribadinya bersamaan dengan tahun observatorium itu mulai beroperasi.

Baca Juga: Sudah 883 Gempa Guncang Kota Jayapura Papua dari Sejak Awal Tahun 2023

Pengadaan alat, seperti refraktor ganda dan alat-alat lain dilakukan secara bertahap. Termasuk pengadaan patung dari Bosscha yang dianggap telah memberikan banyak kontribusi untuk Hindia-Belanda, terutama di bidang astronomi.

Meskipun perkembangannya relatif cepat, observatorium ini tidak mampu menghasilkan banyak pencapaian astronomi pada tahun-tahun awal berdirinya. Sebab kurangnya personil.
Usai bangunan observatorium rampung pada 26 November 1928, Karel Bosscha meninggal dunia di perkebunan teh miliknya di daerah Malabar. Posisi ketua asosiasi pun digantikan Rudolf Kerkhoven hingga pensiun pada 1935.

Demikian pemaparan sejarah awal berdirinya Observatorium Bosscha oleh Astronom Belanda yang juga Sekretaris Jenderal dari International Astronomical Union periode 2006-2009, Dr. Karel A. van der Hucht. Ia menuliskannya dalam presentasi berjudul “The Early History of The Observatorium Bosscha 1921-2939”.

Baca Juga: Arif Nur Muhammad, Temukan Vaksin Covid-19 Halal Tanpa Penolakan Tubuh

“Dan Observatorium Bosscha memiliki karakteristik unik. Letaknya dekat dengan ekuator sehingga dapat mengamati kedua belahan bumi bagian utara dan selatan,” kata Karel dalam peringatan 100 Tahun Observatorium Bosscha pada 31 Januari 2023.

Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia, Prof. Satryo. S. Brodjonegoro menambahkan penempatan Observatorium Bosscha di bawah garis khatulistiwa banyak memberikan manfaat dalam proses pengamatan objek-objek luar angkasa yang dilakukan. Para peneliti yang melakukan pengamatan di Bosscha akan mendapatkan cakupan pengamatan yang lebih luas sehingga hasil data yang diperoleh akan lebih banyak.

“Lokasi observatorium ini sudah sangat ideal. Tidak jarang banyak peneliti astronomi dari luar negeri yang merasa iri dengan privilege ini,” ucap Satryo. [WLC02]

Sumber: ITB

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: 100 Tahun Observatorium Bosschagaris ekuatorgaris khatulistiwaGunung Tangkuban PerahuITBobservatorium astronomiObservatorium Bosscha

Editor

Next Post
Salah satu teleskop di Observatorium Bosscha. Foto itb.ac.id.

Ini Peran Para Pendiri dan Aneka Teleskop Observatorium Bosscha

Discussion about this post

TERKINI

  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media